Serambi Ramadhan
Berburu "Jackpot" Spiritual di Bulan Ramadhan
Istilah ‘Jackpot’ yang sangat populer di kalangan pemain game tersebut, digunakan sebagai tamsilan untuk menggambarkan perburuan malam...
Penulis: Sara Masroni | Editor: Eddy Fitriadi
Ringkasan Berita:
- Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama sekaligus Wakil Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah Aceh, Mujtahid Anwar, mengibaratkan perburuan Lailatul Qadar seperti “jackpot” dalam game, namun tanpa menyamakan kemuliaannya dengan permainan.
- Ia menegaskan Lailatul Qadar diraih melalui kesiapan spiritual dan kesungguhan beribadah sepanjang Ramadhan, karena malam tersebut dirahasiakan waktunya.
- Menurutnya, tanda seseorang mendapat Lailatul Qadar adalah hati yang damai.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Sara Masroni | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Fenomena demam game Higgs Domino yang melanda berbagai kalangan di Aceh, dari warung kopi hingga sudut desa, ternyata menyimpan filosofi menarik jika ditarik ke dalam konteks ibadah di bulan suci Ramadhan. Istilah ‘Jackpot’ yang sangat populer di kalangan pemain game tersebut, digunakan sebagai tamsilan untuk menggambarkan perburuan malam Lailatul Qadar yang penuh kemuliaan.
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) sekaligus Wakil Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh, Mujtahid Anwar menyebutkan, tanpa bermaksud menyamakan aplikasi game dengan bulan suci Ramadhan, karena sama sekali tidak sepadan antara bulan yang mulia tersebut dengan ciptaan manusia yang menjerumuskan pemainnya kepada perjudian.
Namun sebagaimana jackpot dalam permainan slot yang sulit didapat, Lailatul Qadar juga tidak diberikan kepada sembarang orang. Malam yang lebih baik dari seribu bulan tersebut hanya akan diraih oleh mereka yang benar-benar serius mempersiapkan diri sejak jauh hari.
“Tidak ada yang tahu kapan seseorang akan mendapatkan jackpot, maka dibutuhkan strategi, salah satunya dengan mengetahui pola permainan. Lailatul Qadar juga dirahasiakan kepastian malamnya, salah satu strateginya adalah dengan menganggap setiap malam Ramadhan adalah Lailatul Qadar,” ujar Mujtahid kepada Serambi, Senin (23/2/2026).
Dosen STISNU sekaligus Wakil Ketua IKAT Aceh itu menjelaskan, secara bahasa, Lailatul Qadar memiliki beberapa makna, di antaranya adalah malam yang mulia, malam yang sempit, karena para malaikat berhadir pada malam tersebut. Lailatul Qadar juga bermakna malam ketentuan, yang mana pada malam itu ditentukan apa yang akan terjadi sepanjang tahun tersebut.
Namun, tidak ada yang mengetahui secara pasti hakikat dari Lailatul Qadar, karena Allah memakai redaksi wama adaraka ma, diksi tersebut hanya digunakan dalam Al-Quran untuk hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia. Karena kemuliaan yang tidak terbatas, manusia tidak sanggup menjangkau malam tersebut. Allah hanya memberi sedikit gambaran bahwa Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan.
“Dengan demikian, malam Lailatul Qadar dinilai ganjarannya sama dengan seribu bulan. Juga tidak bermakna bahwa orang yang beribadah di malam tersebut sudah gugur kewajiban ibadah dan tidak perlu beribadah lagi setelahnya,” jelas Mujtahid.
Menukil kitab tafsir Mafaatih al-Ghaib karya Imam Arrazi, terdapat setidaknya delapan pendapat mengenai kapan pastinya malam tersebut terjadi, meliputi malam pertama, malam ke tujuh belas, malam ke sembilan belas, malam ke dua puluh satu, malam ke dua puluh tiga, malam ke dua puluh empat, malam ke dua puluh lima, malam ke dua puluh tujuh, dan malam ke dua puluh sembilan.
Namun, Mujtahid menekankan bahwa ada hikmah besar di balik rahasia tersebut. Allah ingin menyembunyikan keridhaan-Nya dalam setiap amal kebaikan agar manusia termotivasi untuk terus berbuat baik di setiap waktu tanpa merasa sudah cukup dengan satu malam saja.
Selain itu, dirahasiakannya waktu Lailatul Qadar juga merupakan bentuk kasih sayang Allah agar hamba-Nya tidak menanggung dosa yang terlalu besar. Jika seseorang bermaksiat tanpa tahu itu adalah malam Lailatul Qadar, dosanya tentu lebih ringan dibandingkan jika ia sengaja bermaksiat di malam yang sudah dipastikan kemuliaannya. Hal ini menunjukkan bahwa menghindari dosa besar terkadang lebih utama daripada mengejar pahala agung.
Baca juga: Ramadhan Momentum Perkuat Kebersamaan, Kapolres Nagan Santuni Anak Yatim
Tanda mendapatkan Lailatul Qadar
Dosen STISNU sekaligus Wakil Ketua IKAT Aceh itu menjelaskan, para malaikat turun pada malam Lailatul Qadar dan kebiasaan para malaikat adalah membisikkan kebaikan kepada manusia. Maka orang yang mendapat Lailatul Qadar selalu terdorong untuk melakukan kebaikan. Kemudian Allah di dalam surah al-Qadar menyebutkan Salamun hiya hatta mathlail fajar. Artinya, orang yang mendapatkan Lailatul Qadar adalah mereka yang merasakan ada kedamaian di hatinya. Baik kedamaian secara pasif berupa keterhindaran dari aib dan bencana tau secara aktif, karena kalau hati seseorang damai, maka ia akan memberikan kedamaian kepada orang lain. Kedamaian tersebut akan terus dibawa sepanjang kehidupan sampai ajal menjemput.
“Orang yang mengaku mendapat Lailatul Qadar tapi masih membenci orang lain, sombong, dan durhaka kepada orang tua, berarti hatinya belum damai. Lailatul Qadar hanya didapati oleh orang-orang yang memiliki hati yang bersih,” ungkap Mujtahid.
Para ulama mengingatkan, Lailatul Qadar bukanlah sebuah benda yang datang, melainkan kondisi kejiwaan yang dialami oleh seseorang yang mempersiapkan diri untuk menerimanya. Sekalipun seluruh muslim beribadah di malam tersebut, namun tidak semua orang mendapatkannya. “Lailatul Qadar hanya akan berlabuh pada mereka yang memiliki kesiapan jiwa yang matang, bersiaplah untuk meraih ‘Jackpot’ spiritual,” pungkasnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dosen-Sekolah-Tinggi-Ilmu-Syariah-Nahdlatul-Ulama-Mujtahid-Anwar.jpg)