Senin, 11 Mei 2026

Banda Aceh

Nilai TKA Bahasa Inggris Siswa Aceh Rendah, Disdik Lakukan Evaluasi dan Cari Solusi

Dinas Pendidikan (Disdik) Aceh menggelar pertemuan khusus dalam bentuk focus group discussion (FGD) untuk menindaklanjuti hasil tes kemampuan..

Tayang:
Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Eddy Fitriadi
Serambinews.com/HO
BUKA ACARA - FGD Mencari Solusi terhadap Rendahnya Nilai Bahasa Inggris Siswa-Siswi Aceh pada Tes Kompetensi Akademik (TKA) 2025 dilaksanakan di Oproom Dinas Pendidikan Aceh, Rabu (25/2/2026). FGD itu  dibuka oleh Plt Kadisdik Aceh, Murthalamuddin MSP. 
Ringkasan Berita:
  • Dinas Pendidikan Aceh menggelar FGD untuk menindaklanjuti rendahnya nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025, khususnya bahasa Inggris yang hanya mencapai rata-rata 22,47 dari skala 100.
  • FGD yang berlangsung di Banda Aceh itu menghadirkan kepala sekolah, guru bahasa Inggris SMA, akademisi dari Universitas Syiah Kuala dan UIN Ar-Raniry, serta BPMP Aceh.
  • Disdik Aceh menargetkan perbaikan signifikan pada TKA 2026 melalui penguatan Gerakan Literasi Sekolah, evaluasi kompetensi guru, dan lainnya.

 

Laporan Wartawan Harian Serambi Indonesia Yarmen Dinamika | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM -  Dinas Pendidikan (Disdik) Aceh menggelar pertemuan khusus dalam bentuk focus group discussion (FGD) untuk menindaklanjuti hasil tes kemampuan akademik (TKA) siswa-siswi Aceh tahun 2025 yang tergolong rendah, yakni hanya 22,47 dari skala 100.

Diskusi kelompok terpumpun (DKT) itu menghadirkan sejumlah kepala sekolah serta guru bahasa Inggris SMA se-Banda Aceh dan Aceh Besar, Rabu (25/2/2026) pagi.

Hadir juga Kepala UPT Bahasa Universitas Syiah Kuala, Dr Kismullah MEd; Kepala UPT Pengembangan Bahasa UIN Ar-Raniry, Teuku Murdani PhD, dan Direktur Kerja Sama dan Internasionalisasai Universitas Bina Bangsa (UBBG) Banda Aceh, Regina Rahmi, MPd.

Kegiatan  ini difasilitasi Yarmen Dinamika, pegiat literasi yang juga Wartawan Harian Serambi Indonesia.

FGD dua jam ini membahas strategi peningkatan kemampuan bahasa Inggris siswa menyusul rendahnya capaian TKA di Provinsi Aceh pada tahun 2025 (Aceh berada di peringkat 31 dari 38 provinsi se-Indonesa).

Pertemuan yang berlangsung di Opprom Disdik Aceh itu dibuka oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthallamuddin SPd, MSP, turut dihadiri Kepala Bidang Pembinaan SMA dan PKLK, Syarwan Joni MPd dan Plh Kepala Budang Pembinaan SMK merangkap Kepala UPTD Balai Tekkomdik Aceh, Syahrul MSi, dan staf BPMP Provinsi Aceh, serta jajaran staf Disdik Aceh Bidang Pembinaan SMA dan PKLK.

Widyaprada Ahli Muda BPMP Provinsi Aceh, Nida Kurniati MPd mengungkapkan bahwa rata-rata nilai TKA bahasa Inggris di Aceh berada pada angka 22,74.

Meski tidak jauh berbeda dari rata-rata nasional, bahasa Inggris merupakan mata pelajaran dengan capaian terendah.

“Sejak 2019 kita tidak lagi memiliki asesmen berskala nasional. Setelah UNBK terakhir pada 2019, tidak ada lagi standar penilaian yang sama untuk mengukur kompetensi individu siswa. Penilaian sepenuhnya diserahkan kepada satuan pendidikan, sehingga instrumen yang digunakan berbeda-beda dan sulit menjamin kesetaraan hasil,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pelaksanaan TKA dilatarbelakangi kebutuhan akan data capaian siswa secara objektif. Terlebih, peserta TKA merupakan siswa yang terdampak pembelajaran masa pandemi (Covid-19), di mana proses belajar tidak berlangsung optimal.

Berdasarkan hasil monitoring BPMP di sejumlah kabupaten/kota di Aceh, banyak siswa mengaku kurang terbiasa membaca soal berbasis stimulus dan penalaran.

Siswa cenderung menyukai soal langsung (to the point), bukan soal kontekstual yang membutuhkan pemahaman mendalam.

Dalam TKA bahasa Inggris, terdapat tiga kompetensi yang diukur, yakni pemahaman tekstual, pemahaman inferensial, serta kemampuan mengevaluasi dan mengapresiasi.

Data menunjukkan, semakin tinggi level kompetensi, semakin rendah capaian siswa. “Untuk jenjang SMA di Aceh, capaian pemahaman tekstual berada di angka 29, pemahaman inferensial 28, dan evaluasi hanya 12,” ungkap Nida.

“Ini menunjukkan persoalan mendasar kita ada pada literasi. Membaca teks berbahasa Indonesia saja masih menjadi tantangan, apalagi dalam bahasa asing,” tukasnya.

Dalam diskusi tersebut, ia usulkan untuk mengetahui hal ini perlu adanya evaluasi Uji Kompetensi Guru (UKG), yang terakhir dilaksanakan pada 2015.

Selain itu, perbedaan materi latihan (try out) dengan soal TKA juga menjadi keluhan para siswa.

Nida juga menyoroti buku-buku pelajaran yang masih didominasi oleh soal level rendah (LOTS) dan belum banyak mengakomodasi soal berbasis penalaran (HOTS). Akibatnya, siswa kurang terbiasa menghadapi soal dengan tingkat analisis dan evaluasi tinggi.

Baca juga: Disdik Aceh Atur Skema Pembelajaran Selama Ramadhan, Siswa Laksanakan Pembelajaran Mandiri

Disdik Aceh dia harapkan mendorong penguatan kebijakan Gerakan Literasi Sekolah (GSL) yang tidak sekadar membaca 15 menit, tetapi juga didampingi guru secara aktif.

Guru diharapkan turut terlibat mendampingi siswa agar budaya baca benar-benar tumbuh.

“Kita tidak bisa membebankan hasil belajar hanya kepada guru kelas akhir. Guru kelas X, XI, dan XII memiliki tanggung jawab yang sama terhadap capaian siswa,” tegasnya.

Dr Kismullah dan Teuku Murdani PhD juga memberikan saran-saran konkret untuk dapat dilaksanakan segera oleh Dinas Pendidikan Aceh guna meningkatkan skor bahasa Inggris siswa Aceh pada TKA 2026.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan Aceh menyampaikan bahwa hasil diskusi ini akan menjadi bahan evaluasi dan dasar rekomendasi kebijakan ke depan agar lebih tepat sasaran dan sesuai kebutuhan di lapangan terkait rendahnya nilai TKA bahasa Inggris.

"TKA penting dilaksanakan karena menjadi alat ukur kemampuan siswa sekaligus bahan evaluasi bagi guru dan sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran," jelas Murthalamuddin.

Ia tambahkan bahwa dinas akan melakukan monitoring dan evaluasi berkala guna memastikan program berjalan efektif dan memberi dampak nyata bagi peningkatan mutu pendidikan Aceh.

"Ia berharap langkah ini menjadi awal perbaikan pembelajaran bahasa Inggris di Aceh agar capaian akademik siswa meningkat dan lebih kompetitif di tingkat nasional," tutup Murthalamuddin.

Menyangkut saran pendapat yang mengemuka selama FGD itu, akan dibuat segera resumenya, lalu dikerucutkan mana-mana rekomendasi yang bisa segera diterapkan pada tahun ini, mana pula untuk jangka menenagah dan panjang.

“Target kita. ranking TKA Aceh tahun depan harus lebih baik daripada tahun ini. Kita bekerja sama untuk mencapainya,” tegas Murthaamuddin.(*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved