Lhokseumawe
Dorong Ekonomi Terintergrasi, BMK dan Islamic Adakan Rakor
Islamic Relief Indonesia bersama Baitul Mal Kota Lhokseumawe dan Bappeda Kota Lhokseumawe menggelar rapat awal penetapan lokasi...
Penulis: Zaki Mubarak | Editor: Eddy Fitriadi
Ringkasan Berita:
- Islamic Relief Indonesia bersama Baitul Mal Kota Lhokseumawe dan Bappeda Kota Lhokseumawe menggelar rapat awal penetapan lokasi Project Memphis di Lhokseumawe.
- Program pemberdayaan ekonomi ini difokuskan di Kecamatan Blang Mangat, tepatnya di Jeulikat, Alue Liem, dan Seuneubok.
- Project Memphis menargetkan individu dan kelompok usaha dengan skema bantuan modal, pelatihan, serta pendampingan berkelanjutan.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Zaki Mubarak | Lhokseumawe
SERAMBINEWS.COM, LHOKSEUMAWE - Islamic Relief Indonesia bersama Baitul Mal Kota Lhokseumawe dan Bappeda Kota Lhokseumawe menggelar rapat awal penetapan lokasi Project Memphis pada Minggu, 1 Maret 2026, di salah satu Cafe, kawasan Alue Awe, Kota Lhokseumawe.
Rapat koordinasi tersebut membahas pemetaan wilayah prioritas yang akan menjadi titik intervensi program, dengan mempertimbangkan sejumlah indikator sosial.
Seperti jumlah penduduk miskin ekstrem, angka putus sekolah, kondisi rumah tidak layak huni, prevalensi stunting, hingga tingginya tingkat penyalahgunaan narkoba yang menjadi penghambat produktivitas masyarakat.
Dalam tahap awal, disepakati tiga titik project utama dan desa pendukung, yakni Jeulikat, Alue Liem, dan Seuneubok.
Ketiga wilayah tersebut berada di Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, yang menjadi fokus awal implementasi Program Memphis berbasis ekonomi produktif.
Skema Program dan Kriteria Penerima
Project Memphis dirancang sebagai program pemberdayaan ekonomi produktif dengan dua kriteria penerima manfaat, yaitu individu dan kelompok usaha. Bantuan modal akan diberikan berdasarkan pengalaman, minat, serta bidang usaha yang telah ditekuni atau dipahami oleh calon penerima manfaat.
Selain pemberian modal, program ini juga menekankan aspek edukasi, pelatihan (training), serta fasilitasi berkelanjutan hingga masyarakat benar-benar mandiri secara ekonomi.
Namun demikian, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Salah satu isu utama yang mengemuka dalam rapat adalah komitmen masyarakat, terutama dalam menghadapi pola ketergantungan terhadap bantuan langsung tunai (BLT) maupun pengaruh pinjaman online yang kerap memengaruhi stabilitas ekonomi keluarga.
Komitmen Pengentasan Kemiskinan Terpadu
Area Koordinator Aceh Islamic Relief Indonesia, Yusrizal Puteh, menegaskan bahwa Project Memphis bukan sekadar program bantuan modal.
“Program Memphis ini kami rancang sebagai intervensi terintegrasi berbasis data. Kami tidak hanya memberikan modal, tetapi juga membangun kapasitas, mental kewirausahaan, serta pendampingan intensif agar masyarakat benar-benar mandiri. Kolaborasi dengan BMK dan Bappeda menjadi kunci agar program ini tepat sasaran dan berkelanjutan,” ujar Yusrizal.
Baca juga: Langit Lhokseumawe Diselimuti Awan, Ini Prediksi Cuaca Sebagian Aceh Sampai Rabu 4 Maret 2026
Sementara itu, Ketua Baitul Mal Kota Lhokseumawe, H Dr Damanhur Abbas, menyampaikan ini merupakan program unggulan Baitul Mal dan mendukung penuh terhadap sinergi lintas lembaga dalam penguatan ekonomi umat.
“Kami menyambut baik kolaborasi ini. Baitul Mal memiliki mandat untuk memberdayakan mustahik agar naik kelas menjadi muzaki. Program seperti Memphis ini sangat strategis karena tidak hanya menyentuh aspek bantuan, tetapi juga pembinaan dan perubahan karakter dan pola pikir masyarakat,” ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/foto-bersama-usai-rapat-awal-penetapan-lokasi-Project-Memphis.jpg)