Lhokseumawe
Dorong Ekonomi Terintergrasi, BMK dan Islamic Adakan Rakor
Islamic Relief Indonesia bersama Baitul Mal Kota Lhokseumawe dan Bappeda Kota Lhokseumawe menggelar rapat awal penetapan lokasi...
Penulis: Zaki Mubarak | Editor: Eddy Fitriadi
Dari sisi perencanaan daerah, Kepala Bidang P2IK Bappeda Kota Lhokseumawe, Desi Julianti, S.St, M.S.M, menekankan pentingnya pendekatan berbasis data dan indikator kemiskinan.
“Kami akan memastikan pemetaan desa dilakukan secara objektif dan terukur. Indikator seperti kemiskinan ekstrem, stunting, rumah tidak layak huni, serta angka putus sekolah menjadi dasar utama dalam menentukan prioritas lokasi intervensi,” jelas Desi.
Adapun moderator sekaligus narasumber teknis Islamic Relief selaku Communication Memphis Program, Mawardii, memaparkan mekanisme teknis pelaksanaan program.
“Pendekatan kami berbasis partisipatif. Masyarakat dilibatkan sejak tahap identifikasi potensi hingga pelaksanaan usaha. Fokus kami adalah membangun ekosistem ekonomi produktif yang berkelanjutan, bukan sekadar program jangka pendek,” terangnya.
Fokus Awal di Kecamatan Blang Mangat
Pada tahap awal, program difokuskan di Kecamatan Blang Mangat dengan tiga titik project utama: Jeulikat, Alue Liem, dan Seuneubok. Selanjutnya, tim gabungan akan melakukan peninjauan lapangan untuk memastikan kesiapan lokasi, potensi usaha masyarakat, serta komitmen calon penerima manfaat.
Melalui sinergi antara Islamic Relief Indonesia, Baitul Mal Kota Lhokseumawe, dan Bappeda Pemko Lhokseumawe, Project Memphis diharapkan menjadi model kolaborasi pengentasan kemiskinan berbasis ekonomi produktif yang mampu mendorong kemandirian masyarakat secara berkelanjutan di Kota Lhokseumawe.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/foto-bersama-usai-rapat-awal-penetapan-lokasi-Project-Memphis.jpg)