Ramadhan di Pengungsian
Yang Viral Kenyang Bantuan, Yang Sunyi Bertahan Sendirian
BANTUAN kemanusiaan yang dulu datang hampir setiap hari kini mulai jarang terlihat di banyak desa
BANTUAN kemanusiaan yang dulu datang hampir setiap hari kini mulai jarang terlihat di banyak desa. Di beberapa tempat, bantuan masih datang. Namun di desa lain, warga mulai terbiasa menghadapi kenyataan bahwa mereka harus bertahan sendiri.
Di balik penurunan intensitas bantuan itu, muncul satu pola yang disadari banyak warga, bahwa desa yang sempat viral di media sosial cenderung menerima bantuan lebih banyak dibanding desa lain yang tidak banyak terekspos.
Mukim Pintoe Rimba, Kecamatan Langkahan, M Hasan Ismail, mengatakan distribusi bantuan sejak awal memang tidak sepenuhnya merata antar-gampong. Menurutnya, beberapa desa yang sempat menjadi sorotan publik ketika banjir terjadi mendapat perhatian besar dari relawan dan donatur.
“Geudumbak cukup karena sempat viral. Begitu juga desa seperti Buket Linteung dan Leubok Pusaka, bantuan mereka lebih banyak,” ujarnya. Sementara desa lain yang tidak terlalu terekspos publik menerima bantuan dalam jumlah jauh lebih terbatas.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana distribusi bantuan dalam situasi bencana sering kali dipengaruhi oleh tingkat perhatian publik. Ketika sebuah desa menjadi viral, arus bantuan biasanya datang lebih cepat dan dalam jumlah lebih besar. Sebaliknya, desa yang berada di wilayah yang sama tetapi tidak menjadi sorotan sering kali luput dari perhatian.
Dalam situasi darurat, mekanisme ini tidak selalu disadari sejak awal. Namun setelah beberapa bulan berlalu, ketimpangan tersebut mulai terasa di lapangan.
Di sejumlah gampong di Kecamatan Langkahan, warga mengatakan bantuan kini datang tidak menentu. Jika pada masa tanggap darurat bantuan bisa tiba hampir setiap hari, kini kedatangannya semakin jarang. “Kadang seminggu sekali baru datang bantuan, itu pun tidak pasti,” kata M Hasan Ismail.
Akibatnya, banyak keluarga mulai mengandalkan kemampuan sendiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagian warga kembali bekerja serabutan. Sebagian lainnya mengandalkan bantuan dari keluarga atau kerabat di luar daerah. Bagi warga yang rumahnya rusak berat dan belum mendapatkan hunian tetap, kondisi ini membuat masa pemulihan terasa semakin berat.
Logistik Mulai Menipis
Di sejumlah titik pengungsian, dapur umum yang sebelumnya aktif melayani kebutuhan pengungsi juga mulai berubah fungsi. Dapur masih tersedia, tetapi kini lebih sering digunakan warga untuk memasak sendiri, bukan lagi memasak secara kolektif untuk seluruh pengungsi.
Perubahan ini terjadi seiring berkurangnya pasokan logistik dari berbagai pihak. Situasi tersebut membuat sebagian warga harus menyesuaikan pola hidup mereka di tengah proses pemulihan yang belum selesai.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Korban-banjir-di-Kecamatan-Langkahan-Kabupaten-Aceh-Utara-mendirikan-tenda-di-tanggul-irigasi.jpg)