Breaking News
Kamis, 9 April 2026

Ramadhan di Pengungsian

Sahur di Bawah Terpal, Ramadhan dari Tenda Pengungsian

Dengan kesabaran dan dengan harapan bahwa suatu hari nanti mereka akan kembali menyambut Ramadhan di rumah sendiri

Editor: mufti
COVER KORAN SERAMBI INDONESIA/KORAN SERAMBI INDONESIA
HEADLINE KORAN SERAMBI INDONESIA EDISI SENIN 20260309 

Ramadhan datang di tengah luka banjir bagi ribuan warga di Aceh. Sebagian masih sahur di pengungsian, sebagian menunggu huntara yang tersendat pembangunan. Di tempat lain, bantuan tidak selalu datang merata. Desa yang viral mendapat perhatian lebih, sementara yang sunyi bertahan sendiri. Tiga laporan ini menelusuri kehidupan para penyintas yang masih berjuang pulih setelah bencana. Liputan ini disusun oleh tim peliput Maulidi Alfata, Jafar, dan Rahmad Wiguna, dengan koordinasi Yocerizal.

MENJELANG Ramadhan di Gampong Ujung Karang, Kecamatan Serbajadi, Aceh Timur, suasana kampung tidak lagi dipenuhi aroma rempah dari dapur-dapur warga. Yang tercium hanya bau tanah basah dan kayu lapuk yang tersisa setelah banjir bandang menyapu permukiman itu beberapa bulan lalu.

Di tengah reruntuhan itu, Usman berdiri di tempat yang dulu menjadi rumahnya. Ia menunjuk ke arah tanah yang kini hanya menyisakan pondasi. Di situlah dulu ia tinggal bersama istri dan lima anaknya. Kini rumah itu telah lenyap, terseret arus banjir yang datang tanpa ampun. Lahan pertanian rusak, bahkan sepeda motornya masih tertanam di lumpur.

Bencana itu datang begitu cepat. Usman masih mengingat pagi ketika air mulai naik. 

"Pagi Rabu itu pertama naik air, surut sebentar. Namun setelah surut naik lagi, nah itu air semakin tinggi dan tidak surut lagi serta menghantam semua yang ada di kampung ini," kenangnya.

Ketika air semakin tinggi, ia tidak lagi memikirkan rumah atau harta benda. Yang ada di pikiran hanya menyelamatkan keluarganya. Usman lalu membawa istri dan anak-anak menuju tempat yang lebih aman. Dalam kepanikan itu, ia bahkan tidak ingat lagi kapan rumahnya hancur. Yang teringat hanyalah bagaimana mereka bertahan.

Usman bersama warga lainnya mengungsi ke perbukitan. Selama hampir satu minggu mereka bertahan di sana, mengandalkan bantuan dari keluarga dan kerabat untuk makan dan kebutuhan sehari-hari. Ketika air akhirnya surut dan warga mulai kembali ke kampung, pemandangan yang mereka lihat membuat banyak orang terdiam.

Rumah-rumah hilang. Sebagian hanyut terbawa arus, sebagian lagi hancur tak bersisa. Rumah Usman termasuk yang tidak lagi dapat ditemukan. Hanya tanah tandus dan kenangan yang tersisa.

Kini Usman tidak lagi tinggal di rumahnya sendiri. Ia bersama keluarga menempati sebuah bangunan PAUD yang masih selamat dari banjir, sementara sebagian warga lain tinggal di tenda-tenda darurat atau membangun rumah sementara dari kayu hanyut.

Bencana itu bukan hanya menghancurkan rumahnya, tetapi juga kehidupan yang selama ini ia bangun. "Inikan bencana, tidak hanya rumah, tetapi tanah, harta benda, bahkan pekerjaan juga hilang. Enggak tau saya mau cerita bagaimana lagi. sudah hancur total," ucapnya pasrah.

Trauma juga masih membekas. Setiap kali hujan turun, warga di kampung itu langsung waspada. "Kalau hujan turun, kami sudah was-was. Kadang kita lagi di luar, gitu hujan turun itu saya langsung pulang ke rumah karena takut akan kejadian kayak kemarin lagi," tutur pria tersebut dengan mata berkaca-kaca.

Di tengah situasi seperti itu, Ramadhan pun datang. Biasanya menjelang bulan puasa, dapur rumah Usman ramai oleh aktivitas memasak. Tradisi meugang selalu menjadi momen istimewa bagi keluarganya untuk berkumpul dan menikmati hidangan daging bersama.

Namun tahun ini, dapur itu sudah tidak ada lagi.

"Saya tidak bisa cerita, sedih kalau lihat seperti ini, biasanya Ramadhan kami sudah mempersiapkan banyak hal, mulai dari daging meugang, masakan-masakan untuk menyambut bulan puasa. Tapi sekarang apa yang mau dipersiapkan, bisa menjalani ibadah puasa tahun ini sudah sangat bersyukur," ucapnya lirih.

Sahur bagi keluarganya kini jauh lebih sederhana. Kadang hanya nasi dengan lauk seadanya dari bantuan keluarga atau bantuan kemanusiaan yang datang ke lokasi pengungsian. "Enggak ada apapun, jadi gimana saya bilang ada. Sementara saat ini pekerjaan aja tidak ada. Enggak kerja, apa yang mau dipersiapkan untuk puasa, syukur bisa makan," tutup Usman.

                                                            ***

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved