Minggu, 12 April 2026

Ramadhan di Pengungsian

Air Sumur Bor di Huntara Bau dan Berkarat, Nyamuk Mengganas dan Maling Mulai Marak

Air yang berasal dari sumur bor bantuan di kawasan huntara disebut memiliki kualitas yang kurang baik, berbau dan berkarat

Editor: mufti
Serambinews.com
ILUSTRASI Unit Huntara SERAMBINEWS.COM, IDI - Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I., M.Si meresmikan 32 unit hunian sementara (huntara) bagi warga korban banjir di Gampong Penaron Baru, Kecamatan Penaron, Sabtu (14/2/2026) Peresmian tersebut menjadi bagian dari upaya percepatan penanganan pascabencana, khususnya bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat banjir beberapa waktu lalu. Dalam sambutannya, Al-Farlaky menjelaskan bahwa huntara merupakan tempat tinggal sementara bagi warga sembari menunggu proses pembangunan hunian tetap (huntap). “Rumah huntara ini silakan dimanfaatkan dan dijaga dengan baik untuk ditempati. Apalagi menjelang bulan puasa, bapak ibu semua bisa beribadah dengan aman dan lebih tenang,” ujar Al-Farlaky. Ia menambahkan, selama masa transisi menuju hunian tetap, para penerima huntara juga dibekali sejumlah bantuan, mulai dari uang stimulus, bantuan uang lauk, hingga bantuan perabot rumah tangga. “Tentunya ini sangat membantu masyarakat di sini sembari menunggu pembangunan huntap,” katanya. Selain itu, Bupati mengungkapkan pemerintah daerah juga tengah menyiapkan bantuan meugang untuk menyambut tradisi menjelang Ramadan. Bantuan tersebut, kata dia, bersumber dari Presiden RI, Prabowo Subianto. “Kita saat ini sedang menyiapkan daging meugang bantuan Presiden Prabowo Subianto. Bantuan ini akan kita dorong semaksimal mungkin agar bisa tersalurkan merata untuk korban banjir,” pungkas Al-Farlaky. Ia juga memastikan pemerintah daerah akan terus mengupayakan bantuan tambahan bagi masyarakat terdampak selama bulan puasa berlangsung. Huntara di Kecamatan Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur tepatnya di belakang kantor camat Idi Rayeuk, sudah dihuni oleh korban banjir, Sabtu (14/2/2026) 

Banjir telah lama surut, tetapi kehidupan para penyintas belum sepenuhnya pulih. Di hunian sementara, warga menghadapi persoalan baru: air bersih yang bau, sampah yang menumpuk, hingga gangguan nyamuk dan pencurian. Di tengah kehidupan yang serba sementara itu, satu harapan terus mereka tunggu, kepastian rumah permanen yang dijanjikan pemerintah agar mereka benar-benar bisa memulai hidup kembali. Liputan ini disusun oleh Rahmad Wiguna dan Jafar, dengan Koordinator Yocerizal.

BANJIR mungkin telah surut berbulan-bulan lalu. Namun bagi ratusan keluarga korban bencana di Aceh Tamiang, kehidupan belum benar-benar kembali normal. Di hunian sementara (huntara) yang dibangun untuk para penyintas banjir, kehidupan baru perlahan terbentuk. Ratusan keluarga kini hidup berdampingan dalam ruang yang padat, berbagi fasilitas umum, dapur bersama, serta kamar mandi yang digunakan bergantian setiap hari. Di tempat inilah mereka menjalani Ramadhan.

Namun kehidupan di huntara tidak selalu mudah. Masalah air bersih menjadi salah satu persoalan utama yang dihadapi para penghuni. Air yang berasal dari sumur bor bantuan di kawasan huntara disebut memiliki kualitas yang kurang baik, berbau dan berkarat (berwarna kekuningan), sehingga tidak nyaman digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk memasak untuk sahur dan berbuka.

"Bayangkan di sini ada 600 keluarga, kebutuhan air sangat besar apalagi sekarang ini bulan puasa," ujar Eri Affandi, penghuni Huntara Danantara di Kampung Simpang Empat, Karangbaru, Kabupaten Aceh Tamiang. 

Selain kualitas air yang buruk, ketersediaan air juga kerap menjadi masalah. Ketika air berhenti mengalir, kamar mandi umum yang tersedia di kawasan huntara tidak dapat digunakan. Situasi ini membuat aktivitas harian warga menjadi lebih sulit, terutama pada waktu-waktu penting seperti menjelang sahur atau setelah berbuka.

Dengan ratusan keluarga tinggal dalam satu kawasan, persoalan lain yang muncul adalah pengelolaan sampah. Lingkungan huntara yang padat membuat sampah cepat menumpuk jika tidak diangkut secara rutin.

Indra Syahputra, penghuni Huntara 2 di Kampung Bundar, Karangbaru, mengatakan warga berharap pengangkutan sampah bisa dilakukan setiap hari agar kondisi lingkungan tetap bersih. Menurut Indra, tanpa pengelolaan yang baik, kawasan huntara berpotensi menjadi lingkungan yang tidak sehat bagi para penghuninya.

Ia juga menyinggung masalah air dan berharap PDAM bisa masuk ke Huntara untuk menyuplai air bersih. "Airnya masih kurang layak dan berbau. Kami berharap PDAM bisa masuk ke sini supaya airnya bisa dikonsumsi," harapnya.

Nyamuk dan maling

Selain persoalan air dan sampah, warga juga menghadapi gangguan nyamuk yang cukup serius. Lingkungan yang padat dan lembap membuat populasi nyamuk meningkat. Sebagian warga mulai khawatir kondisi tersebut dapat memicu munculnya penyakit seperti demam berdarah. "Kalau bisa fogging, nyamuknya ngeri kali," kata Eri. 

Kehidupan bersama dalam ruang yang padat juga memunculkan persoalan sosial baru. Sejak menghuni huntara, beberapa kasus pencurian kecil mulai dilaporkan oleh warga. Barang-barang yang hilang umumnya adalah peralatan rumah tangga yang digunakan secara bersama.

"Di sini kan sistemnya dapur umum, satu blok satu dapur, nah kompor di situ sudah pernah hilang. Terus rumput sintetis di lorong blok juga hilang, termasuk sudah berani malingnya masuk kamar curi kipas angin," kata Eri. 

Kasus-kasus tersebut memang tidak besar, tetapi cukup menimbulkan rasa tidak nyaman di tengah kehidupan komunal yang sebelumnya relatif aman. Bagi sebagian warga, situasi ini menjadi tantangan baru setelah bencana.

Meski demikian, sebagian penghuni huntara tetap berusaha menjalani kehidupan dengan sebaik mungkin. Bagi banyak keluarga, tinggal di huntara masih lebih baik dibandingkan bertahan di tenda darurat seperti pada masa awal bencana.

Namun mereka juga menyadari bahwa hunian ini hanya bersifat sementara. Harapan terbesar para penyintas adalah agar hunian tetap (huntap) segera dibangun sehingga mereka dapat kembali memiliki rumah yang layak.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved