Selasa, 28 April 2026

Idulfitri 1447 H

Ini Penetapan Idul Fitri 1447 H Menurut Hasil Kajian Ahli Falak Aceh

dalam kajian ilmu falak, untuk mengetahui awal bulan Hijriah sangat tergantung pada kondisi hilal secara astronomis.

|
Penulis: Saiful Bahri | Editor: Nur Nihayati
For Serambinews.com  
Ahli Falak Aceh yang juga Dosen Ilmu Falak Fakultas Syariah UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Dr Tgk Ismail SSy MA, 

Ringkasan Berita:
  • Rukyah hilal untuk menentukan 1 Syawal 1447 H akan digelar di berbagai wilayah di Indonesia pada 19 Maret 2026.
  • Namun sesuai hasil kajian ilmu falak, kondisi hilal pada 19 Maret 2026 nantinya belum memenuhi kriteria kriteria imkan rukyat MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura).
  • Dalam kajian ilmu falak, untuk mengetahui awal bulan Hijriah sangat tergantung pada kondisi hilal secara astronomis.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Saiful Bahri I Lhokseumawe

SERAMBINEWS.COM, LHOKSEUMAWE - Rukyah hilal untuk menentukan 1 Syawal 1447 H akan digelar di berbagai wilayah di Indonesia pada 19 Maret 2026.

Namun sesuai hasil kajian ilmu falak, kondisi hilal pada 19 Maret 2026 nantinya belum memenuhi kriteria kriteria imkan rukyat MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura).

Sehingga hal ini mengakibatkan jumlah hari bulan Ramadhan 1447 H akan digenapkan 30 hari dengan ketetapan 1 Syawal 1447 H bertepatan pada hari Sabtu 21 Maret 2026.

Ahli falak Aceh, yang juga Dosen Ilmu Falak Fakultas Syariah UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Dr Tgk Ismail S.Sy M.A, Rabu (11/3/2026), menjelaskan, dalam kajian ilmu falak, untuk mengetahui awal bulan Hijriah sangat tergantung pada kondisi hilal secara astronomis.

Baca juga: Provinsi Daerah Istimewa Aceh Jadi Penentu Penetapan Idul Adha Untuk Indonesia

Sehingga ada tiga data yang perlu diketahui secara astronomis yakni pertama, konjungsi geosentrik atau ijtma’ yaitu peristiwa ketika nilai bujur ekliptika Bulan sama dengan nila ekliptika Matahari dengan diandaikan pengamat berada di pusat Bumi. 

Peristiwa ini kembali terjadi pada Kamis 19 Maret 2026 pukul 08.23.25 WIB atau pukul 09.23.25 WITA atau pukul 10.23.25 WIT.

Kedua, tinggi hilal adalah jarak bulan yang dihitung dari garis ufuk barat ke pusat piringan bulan. 

Tinggi hilal di ufuk barat pada hari Kamis tanggal 19 Maret 2026 M atau 29 Ramadhan 1447 H saat matahari terbenam di seluruh Indonesia berkisar antara 03 derajat 07 menit 15 detik busur (tertinggi) di Sabang, sampai 00 derajat 53 menit 58 detik busur (terendah) di Merauke, artinya bulan sudah berada di atas ufuk barat saat matahari terbenam di Seluruh Indonesia.

Ketiga, sudut elongasi bulan adalah jarak sudut antara pusat piringan bulan dengan pusat piringan matahari yang terbentuk saat Matahari terbenam di tempat pengamatan. 

Nilai sudut elogasi Bulan saat Matahari terbenam pada hari Kamis 19 Maret 2026 atau 29 Ramadhan 1447 H di seluruh Indonesia berkisar antara 06 derajat 06 menit 39 detik busur (tertinggi) di Lhoknga, sampai 04 derajat 32 menit 57 detik busur (terendah) di Waris.

Dari data tersebut, kata Tgk Ismail dapat disimpulkan bahwa hilal sudah wujud di atas ufuk barat saat matahari terbenam di Indonesia.

"Namun kondisi hilal belum memenuhi kriteria imkan rukyat MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura). Kondisi hilal tersebut pun belum memungkin untuk dilihat baik dengan kasat mata atau dengan bantuan alat obtik seperti teleskop," katanya.

Karena kondisi hilal baru memungkinkan untuk dilihat bila memiliki ketinggian minimal 3 derajat di atas ufuk barat saat matahari terbenam dengan elongasi minimal 6,4 derajat. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved