Sabtu, 25 April 2026

Berita Sabang

Di Ujung Barat, Sabang Menunggu Kepastian Lebaran 2026

Di tengah ketidakpastian itu, Sabang menjadi salah satu titik yang paling diperhatikan dalam pemantauan hilal nasional.

Penulis: Aulia Prasetya | Editor: Nurul Hayati
Serambinews.com/HO/Serambinews.co/HO
Petugas Kementerian Agama Kota Sabang melakukan pemantauan hilal menggunakan teleskop di kawasan Titik Nol Kilometer Indonesia, Kamis (19/3/2026). Pengamatan ini menjadi bagian dari penentuan awal Syawal 1447 Hijriah menjelang Idul Fitri 2026. 

Ringkasan Berita:
  • Penentuan Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 berpotensi berbeda sebab posisi hilal di Sabang masih berada di batas kriteria visibilitas.
  • Data astronomi menunjukkan hilal di Sabang berada pada ketinggian 3,13 derajat dan elongasi 6,1 derajat.
  • Menurut standar MABIMS, syarat minimal adalah tinggi 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Artinya, hilal sudah di atas ufuk namun belum memenuhi syarat elongasi.
  • Kondisi ini memungkinkan Ramadhan digenapkan 30 hari, sehingga Idul Fitri bisa jatuh pada Sabtu.

Laporan Wartawan Serambi Indoneisa, Aulia Prasetya | Sabang

SERAMBINEWS.COM, SABANG - Penentuan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 kembali berpotensi memunculkan perbedaan.

Di tengah ketidakpastian itu, Sabang menjadi salah satu titik yang paling diperhatikan dalam pemantauan hilal nasional.

Data astronomi menunjukkan posisi hilal di Sabang berada pada ketinggian sekitar 3,13 derajat dan elongasi sekitar 6,1 derajat, saat waktu pengamatan.

Secara hitungan, hilal sudah berada di atas ufuk, namun belum sepenuhnya memenuhi kriteria visibilitas yang digunakan pemerintah.

Standar yang dipakai saat ini mengacu pada kesepakatan MABIMS, yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

Dengan elongasi yang masih di bawah ambang batas, hilal dinilai belum cukup kuat untuk dapat terlihat secara kasat mata.

Kondisi tersebut membuat kemungkinan pemerintah menggenapkan bulan Ramadhan menjadi 30 hari masih terbuka.

Jika itu terjadi, Idul Fitri berpotensi jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Perbedaan metode penentuan awal bulan juga menjadi faktor yang memperbesar peluang ketidaksamaan hari Lebaran.

Sebagian pihak menetapkan awal bulan berdasarkan keberadaan hilal di atas ufuk, sementara pemerintah mengacu pada kemungkinan hilal dapat dirukyat.

Di Sabang, situasi ini ikut menjadi perhatian warga.

Baca juga: Polisi Gelar Patroli Cipta Kondisi, Tingkatkan Keamanan di Banda Aceh Jelang Lebaran

Albina Arahman, salah seorang warga, mengatakan masyarakat mengikuti perkembangan penentuan Lebaran karena daerahnya kerap dijadikan lokasi pengamatan.

“Biasanya kami menunggu hasil rukyat, apalagi Sabang sering jadi lokasi pemantauan. Jadi memang ikut memantau juga,” ujarnya yang juga wakil Ketua DPRK Sabang.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Sabang, Samsul Bahri, menyatakan pemantauan hilal dilakukan di titik Kilometer Nol dan hasilnya akan dilaporkan ke pusat sebagai bagian dari sidang isbat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved