Minggu, 12 April 2026

Berita Sabang

Harga Plastik di Sabang Melonjak hingga 80 Persen, Pedagang dan UMKM Sangat Terdampak

Harga plastik di Kota Sabang melonjak hingga 70–80 persen, membuat pedagang dan pelaku UMKM sangat terdampak.

Penulis: Aulia Prasetya | Editor: Saifullah
Serambinews.com/Aulia Prasetya
HARGA PLASTIK MELONJAK - Seorang pedagang melayani pembeli di toko plastik di Kota Sabang, di tengah kenaikan harga plastik yang melonjak tinggi mencapai hingga 80 persen dan berdampak pada daya beli masyarakat. 

Ringkasan Berita:
  • Harga plastik di Kota Sabang melonjak hingga 70–80 persen, membuat pedagang dan pelaku UMKM sangat terdampak.
  • Selain harga yang naik drastis, pasokan plastik dari pabrik juga terbatas karena bahan baku sulit diperoleh.
  • Kondisi ini menekan daya beli masyarakat dan meningkatkan biaya operasional usaha kecil, sehingga pedagang berharap pemerintah segera menstabilkan harga serta distribusi.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Aulia Prasetya | Sabang

SERAMBINEWS.COM, SABANG - Kenaikan harga plastik yang mencapai 70 hingga 80 persen, dalam beberapa waktu terakhir mulai berdampak pada pedagang dan pelaku usaha kecil di Kota Sabang

Selain harga yang melonjak, ketersediaan barang juga semakin terbatas di pasaran.

Hendri, pedagang plastik di Jalan Perdagangan Sabang mengatakan, lonjakan harga terjadi pada hampir seluruh jenis plastik. 

Bahkan, menurutnya, kondisi saat ini diibaratkan seperti “roket” karena kenaikan berlangsung cepat dan terus berlanjut.

“Harga plastik sekarang sudah naik di atas rata-rata 70 sampai 80 persen. Semua jenis hampir naik,” kata Hendri, Rabu (8/4/2026).

Tak hanya harga, ia juga mengeluhkan, sulitnya mendapatkan barang dari distributor. 

Pasokan dari pabrik disebut menurun akibat keterbatasan bahan baku, sehingga pedagang harus menunggu dalam antrean untuk memperoleh stok.

Baca juga: Harga Plastik Sudah Naik 50 Persen, Sejumlah Kafe Tambah Biaya Kemasan Rp 2.000 ke Konsumen

“Sekarang bukan hanya mahal, barang juga susah. Saya sudah order sejak bulan puasa, tapi sampai sekarang belum dapat,” beber dia. 

“Harus antre, kadang sampai belasan orang duluan baru kita kebagian,” ujarnya.

Menurut Hendri, keterbatasan produksi di pabrik disebabkan sulitnya bahan baku yang sebagian besar berasal dari turunan minyak. 

Ia menyebut, kondisi global turut memengaruhi pasokan bahan baku tersebut.

“Bahan baku plastik dari minyak. Karena pasokan terbatas, pabrik tidak bisa produksi seperti biasa, akhirnya harga naik,” jelasnya.

Kenaikan harga ini juga berdampak langsung pada daya beli masyarakat. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved