Jumat, 17 April 2026

Idul Fitri 1447 H

Kenapa Idulfitri Indonesia Sering Berbeda dengan Arab Saudi, Ini Penjelasannya

Perbedaan penetapan Lebaran antara Indonesia dan Arab Saudi kerap menimbulkan diskusi di tengah masyarakat. 

Editor: Subur Dani
Serambinews.com
Ketua Tim Falakiyah Kanwil Kemenag Aceh, Dr Alfirdaus Putra SHI MH saat memantau hilal di Aceh 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Penetapan Hari Raya Idulfitri antara Indonesia dan Arab Saudi kerap terjadi perbedaan. Seringnya, Arab Saudi lebih duluan sehari berlebaran ketimbang Indonesia.

Meski sama-sama berlandaskan pada perhitungan kalender hijriah, metode penentuan awal Syawal di kedua negara sering berbeda.

Fenomena ini tentu bukan hal baru dan bahkan sudah berulang kali terjadi dalam sejarah kalender Islam modern.

Seperti tahun ini, kemarin, Arab Saudi resmi menetapkan Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 H jatuh pada hari Jumat, 20 Maret 2026. 

Baca juga: Di Ujung Barat, Sabang Menunggu Kepastian Lebaran 2026

Mahkamah Agung Arab Saudi memutuskan hal ini setelah hilal tidak terlihat pada Rabu malam, 18 Maret 2026, sehingga Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari.

Bukan hanya Arab Saudi, pengumuman serupa juga dilaporkan beberapa negara kepada warganya.

Mengutip Times of India, negara-negara yang merayakan hari pertama Lebaran pada Jumat (20/3/2026) antara lain, UEA– Turki– Bahrain– Qatar– Kuwait– Lebanon.

Indonesia Tetapkan 1 Syawal 21 Maret

Kamis, 19 Maret 2026, Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) resmi menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Hari Raya Idulfitri jatuh pada hari Sabtu, 21 Maret 2026.

Keputusan ini diambil lantaran hilal belum memenuhi kriteria visibilitas di seluruh titik pengamatan di Indonesia.

Dikutip Tribunnews.com, Penetapan hari kemenangan tersebut diumumkan langsung oleh Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, usai memimpin jalannya Sidang Isbat di Kantor Kementerian Agama, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada Kamis (19/3/2026) malam.

“Berdasarkan hasil hisab serta tidak adanya laporan hilal terlihat, disepakati bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada hari Sabtu, 21 Maret 2026,” tegas Nasaruddin di Jakarta, Kamis (19/3/2026).

Baca juga: Posisi Hilal 1 Syawal 1447 H di Aceh Sudah Diatas Ufuk, Kapan Sebenarnya Lebaran Idul Fitri 2026?

Dengan keputusan ini, bulan suci Ramadan tahun ini secara resmi digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).

Posisi Hilal Belum Penuhi Kriteria MABIMS

Sebelum keputusan resmi ditetapkan, Sidang Isbat diawali dengan seminar terbuka yang menampilkan paparan posisi hilal oleh para ahli. 

Dalam sesi tersebut, metode penentuan awal bulan Qomariyah dikaji melalui pendekatan hisab rukyat dan ilmu falak. 

Indonesia saat ini menggunakan kriteria visibilitas hilal baru yang disepakati oleh MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat.

Namun, hasil perhitungan matematis menunjukkan posisi hilal di seluruh wilayah Nusantara belum memenuhi standar tersebut. 

Tinggi hilal hanya berada di kisaran 0 derajat 54 menit hingga 3 derajat 7 menit, dengan sudut elongasi antara 4 derajat 32 menit hingga 6 derajat 6 menit. 

Fakta ini diperkuat oleh pemantauan langsung di lapangan. "Dari Papua hingga Aceh di sedikitnya 117 titik pengamatan, tidak ada satu pun lokasi yang melaporkan melihat hilal," ungkap Nasaruddin.

Kenapa Sering Beda dengan Arab saudi

Tahun ini, Idonesia dan Arab Saudi kembali berbeda dalam penetapan Hari Raya Idulfitri. Perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri antara Indonesia dan Arab Saudi bukanlah hal baru, dan hampir setiap tahun memunculkan diskusi di tengah masyarakat. 

Meski sama-sama berlandaskan kalender hijriah, cara menentukan awal bulan Syawal kerap berbeda. 

Perbedaan penetapan Lebaran antara Indonesia dan Arab Saudi kerap menimbulkan diskusi di tengah masyarakat. 

Namun, jika ditinjau dari sisi ilmiah, sejatinya tidak ada yang keliru. Semua bergantung pada pendekatan ilmu astronomi, metode pengamatan hilal, hingga faktor geografis yang berbeda di tiap negara. 

Karena itu, wajar bila hasil rukyat dan hisab menghasilkan keputusan yang tidak selalu sama, meski tujuan akhirnya tetap satu: memastikan umat Islam dapat beribadah sesuai tuntunan syariat.

Kriteria Visibilitas Hilal

Ketua Tim Falakiyah Kanwil Kemenag Aceh, Dr Alfirdaus Putra SHI MH, kepada Serambinews.com, Kamis (19/3/2026) mengatakan, keterlihatan hilal di suatu lokasi sangat tergantung pada ketinggian dan elongasi hilal di suatu wilayah yang disebut dengan visibilitas hilal (kemungkinan hilal diobservasi). 

Menurutnya, hilal yang cenderung selalu dimulai dari timur ke barat; walau kadang agak sedikit ke utara atau selatan, menyebabkan bahagian bumi sebelah barat akan lebih tinggi hilalnya dibandingkan dari wilayah sebelah timur. 

Baca juga: Menjelang Idul Fitri, Pusat Pasar Langsa Dipadati Warga, Jalanan Macet Disesaki Kendaraan 

Pada Idulfitri kali ini misalnya, ketinggian hilal di Indonesia  1,25 derajat di Papua dan 3 derajat di Aceh, dengan elongasi 4,5 derajat di papua dan 6,1 derajat Aceh. 

“Keadaan hilal di Indonesia hari ini hampir mustahil di rukyat karena elongasi sangat dekat dengan matahari dan cahaya matahari lebih dominan dari cahaya hilal,”katanya.

 Sedangkan untuk wilayah Arab Saudi pada Idulfitri 1447 H ini sudah mencapai 5 sampai dengan 6 derajat ketinggian. 

Baca juga: Bilal Masjid di Samalanga yang Rumahnya Ludes Terbakar Terlihat Pasrah, Harap Bantuan Pemkab Bireuen

Secara konsep visibilitas hilal, ketinggian di Arab Saudi pada angka 5-6 derajat dan elongasi 7-8 derajat sudah sangat memungkinkan untuk dirukyat, maka hampir bisa dipastikan hasil rukyat di Indonesia akan berbeda dengan hasil rukyat di Indonesia

“Di beberapa waktu yang lain bahkan keadaan hilal di Indonesia masih minus, sedangkan hilal di Arab saudi sudah di atas ufuk seperti Ramadan yang lalu, sehingga sangat tidak memungkinkan hasil rukyat di Saudi diberlakukan di Indonesia yang keadaan hilalnya belum di atas ufuk atau belum memenuhi visibilitas untuk dirukyat,” pungkasnya.

Letak Geografis Sangat Berpengaruh

Perbedaan lokasi geografis menjadi salah satu faktor utama mengapa penetapan Lebaran di Indonesia dan Arab Saudi sering tidak sama. 

Indonesia yang berada jauh di timur memiliki waktu matahari terbenam berbeda dengan Arab Saudi. Perbedaan ini berpengaruh langsung terhadap posisi bulan relatif terhadap matahari.

Dalam ilmu astronomi, hilal atau bulan sabit muda hanya bisa diamati setelah matahari terbenam. Artinya, hilal yang mungkin sudah terlihat di Arab Saudi belum tentu bisa disaksikan di Indonesia. 

Baca juga: Lafaz Doa Niat Mandi Keramas Sebelum Shalat Idul Fitri, Ini Tata Cara Agar Sah dan Sempurna

Saat waktu magrib di Nusantara, posisi bulan bisa saja terlalu rendah atau bahkan sudah terbenam lebih dulu. Kondisi inilah yang membuat hasil rukyat di kedua negara sering berbeda, sehingga penetapan awal Syawal pun tidak selalu bersamaan.

Pada akhirnya, perbedaan penetapan Lebaran antara Indonesia dan Arab Saudi bukanlah soal benar atau salah, melainkan konsekuensi dari metode dan kriteria yang berbeda. 

Dengan latar geografis, pendekatan astronomi, serta keputusan otoritas keagamaan masing-masing negara, wajar jika umat Islam tidak selalu merayakan Idulfitri pada hari yang sama. 

Yang terpenting, semangat Lebaran tetap satu: merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa dan mempererat tali silaturahmi.(*)

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved