Rabu, 15 April 2026

Berita Banda Aceh

Trump Usul Perundingan Damai, Pengamat: AS Mulai Ragu Menang Lawan Iran

“Keinginan tak terduga Washington untuk melakukan dialog damai guna mengakhiri perang antara AS-Israel dan Iran menunjukkan bahwa Presiden Donald...

Penulis: Rianza Alfandi | Editor: Nurul Hayati
Serambinews.com/HO/Serambinews.co/HO
PERUNDINGAN DAMAI – Pengamat Timur Tengah, T. Taufiqulhadi, mengungkap usulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membuka jalur perundingan damai dengan Iran dinilai sebagai sinyal Washington mulai meragukan peluang kemenangan dalam konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran, Selasa (24/3/2026). 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Usulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membuka jalur perundingan damai dengan Iran dinilai sebagai sinyal bahwa Washington mulai meragukan peluang kemenangan dalam konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.

Pengamat Timur Tengah, T. Taufiqulhadi, menilai langkah Donald Trump tersebut tidak terlepas dari perkembangan di lapangan yang menunjukkan ketahanan Iran menghadapi serangan militer.

“Keinginan tak terduga Washington untuk melakukan dialog damai guna mengakhiri perang antara AS-Israel dan Iran menunjukkan bahwa Presiden Donald Trump mulai menyadari, PM Israel Benjamin Netanyahu telah menipunya selama ini,” jelas Taufiqulhadi, Selasa (24/3/2026).

Menurut dia, sejak awal konflik, perang dipresentasikan kepada publik Israel sebagai langkah strategis yang berpotensi menggulingkan pemerintahan Iran dan mengakhiri ancaman dari negara tersebut.

Namun, realitas di lapangan justru berbeda.

Setelah sekian lama serangan besar terhadap Iran yang dilakukan kedua negara, Iran tetap berdiri kokoh dan bahkan bisa membalas target Israel dan kepentingan AS di kawasan itu dengan baik.

Mantan staf khusus Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional bidang Kelembagaan itu menambahkan, Iran bahkan masih memiliki kapasitas untuk meningkatkan eskalasi serangan, termasuk terhadap target strategis di negara-negara sekutu AS di Timur Tengah.

“Jika benar AS dan Israel, seperti yang telah disampaikan Trump akan menyerang pembangkit listrik utama Iran, maka Iran akan membalas menyerang seluruh kilang minyak dan sanitasi air bersih negara-negara teluk dan sumber air bersih Israel,” ujarnya.

Taufiqulhadi juga menilai, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong Trump mempertimbangkan jalur diplomasi melalui pihak ketiga guna mengakhiri konflik.

“Itulah alasan utama Trump mengutus pihak ketiga untuk menjembati rencana pembicaraan guna mengakhiri perang ilegal Trump ini,” katanya.

Ia juga meyakini bahwa gagasan perundingan tersebut belum sepenuhnya dikonsultasikan dengan pemerintah Israel.

Bahkan, menurutnya, para pengambil keputusan di Tel Aviv berpotensi terkejut dengan langkah tersebut.

“Para pengambil keputusan Israel seperti Netanyahu pasti kebingungan setengah mati. Tapi jika memang sungguh-sungguh untuk mengakhiri perang, Trump pasti akan menekan Netanyahu untuk menerimanya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Mantan Ketua Partai NasDem Aceh ini juga menilai bahwa Iran berpeluang menerima tawaran tersebut, dengan syarat poin-poin perundingan mengarah pada pengakuan atas posisi kuat Iran.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved