Kamis, 23 April 2026

Berita Banda Aceh

USK Luncurkan Buku MemoryGraph, Untuk Merawat Ingatan Aceh

Buku ini tidak hanya menjadi dokumentasi visual, tetapi juga panduan praktis yang mendorong partisipasi masyarakat dalam merawat ingatan kolektif.

Penulis: Muhammad Nasir | Editor: Nurul Hayati
Serambinews.com/HO/Serambinews.co/HO
Universitas Syiah Kuala (USK) bersama Center for Southeast Asian Studies Kyoto University membangun kolaborasi internasional dengan meluncurkan buku MemoryGraph: Menjaga Kenangan Aceh Lewat Foto. 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Muhammad Nasir I Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH -  Universitas Syiah Kuala (USK) bersama Center for Southeast Asian Studies Kyoto University membangun kolaborasi internasional dengan meluncurkan buku MemoryGraph: Menjaga Kenangan Aceh Lewat Foto.

Kegiatan ini melibatkan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC), Pusat Riset Ilmu Sosial dan Budaya (PRISB), Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan, serta Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Peluncuran buku ini dijadwalkan berlangsung pada Kamis (26/3/2026) di Auditorium TDMRC USK.

Buku ini tidak hanya menjadi dokumentasi visual, tetapi juga panduan praktis yang mendorong partisipasi masyarakat dalam merawat ingatan kolektif.

Kehadiran buku ini didasari bahwa lebih dari dua dekade setelah Tsunami Aceh 2004, tantangan baru muncul di tengah masyarakat Aceh: memudarnya ingatan kolektif.

Di tengah pembangunan dan perubahan lanskap pascabencana, jejak masa lalu perlahan menghilang, tidak hanya secara fisik, tetapi juga dari kesadaran generasi muda.

Oleh sebab itu, melalui pendekatan MemoryGraph, masyarakat diajak untuk mempertemukan foto masa lalu dengan kondisi terkini dari titik yang sama, termasuk dengan memanfaatkan teknologi digital.

Metode ini menghadirkan cara baru dalam membaca lanskap, bukan sekadar sebagai ruang fisik, tetapi sebagai arsip hidup yang merekam perubahan, kehilangan, dan proses pemulihan.

Salah satu penggagas pendekatan ini, Yoshimi Nishi, menegaskan bahwa lanskap menyimpan jejak kehidupan yang seringkali tidak disadari.

Menurutnya, bencana tidak hanya menghilangkan ruang, tetapi juga memudarkan memori yang melekat di dalamnya.

“Karena itu, dokumentasi visual menjadi langkah sederhana namun penting untuk menjaga ingatan tetap hidup,” ucapnya.

Hal senada disampaikan oleh Alfi Rahman dari USK.

Ia menekankan bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penguatan ingatan kolektif sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan masyarakat.

“MemoryGraph,  menjadi jembatan antara arsip, pengalaman masyarakat, dan pembelajaran lintas generasi,” ucapnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved