Jumat, 15 Mei 2026

Gayo Lues

Jembatan Putus Total, Pining Terasa Sendiri, Warga Terdampak Bencana Masih Berjuang Arungi Sungai

Keterpurukan akibat bencana belum sepenuhnya pulih. Infrastruktur yang rusak, terutama jembatan penghubung, hingga kini belum juga dibangun

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Nur Nihayati
SERAMBINEWS.COM/EDI SUTAMI/serambinews
JEMBATAN PUTUS - Kondisi jembatan putus akibatnya evakuasi seorang warga Pining yang harus rujuk ke Rumah Sakit Muhammad Ali Kasim demi mendapatkan perawatan yang intensif dengan cara menggotong melewati arus sungai Pining karena jembatan yang roboh oleh keganasan bencana hidrometeorologi 2025 lalu. 

Keterpurukan akibat bencana belum sepenuhnya pulih. Infrastruktur yang rusak, terutama jembatan penghubung, hingga kini belum juga dibangun 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Edi Laber

SERAMBINEWS.COM,BLANGKEJEREN - Di tengah upaya pemulihan pascabencana hidrometeorologi yang melanda akhir 2025 lalu, masyarakat Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, masih bergulat dengan keterbatasan yang tak kunjung terurai.

Wilayah yang berada di perbatasan Gayo Lues dan Aceh Timur ini seakan berjalan sendiri. 

Di saat sejumlah daerah terdampak lainnya mulai mendapatkan penanganan, kondisi di Pining justru memunculkan kesan terabaikan.

Keterpurukan akibat bencana belum sepenuhnya pulih. Infrastruktur yang rusak, terutama jembatan penghubung, hingga kini belum juga dibangun kembali. 

Padahal, keberadaan jembatan tersebut sangat vital bagi aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Rasa pesimis perlahan menggerogoti harapan warga. Bahkan, untuk sekadar berharap pun kini terasa berat.

Baca juga: Jeritan Minta Tolong Berujung Maut, Dokter Shanti di Gayo Lues Dibunuh Tetangga

Seperti halnya penuturan Ariga yang kepada Serambinews.com keadaan ini sungguh memprihatinkan bila tidak dibangun jembatan sperti sediakala. 

"Sangat disayangkan ditengah semboyan Indonesia dalam upaya menuju era keemasan pada tahun 2045 adalah "Indonesia Emas 2045", persoalan seperti itu juga sempat berlarut " tuturnya 

Pemandangan yang menyayat hati pun masih kerap terjadi. 

Beberapa waktu lalu, warga terpaksa menggotong jenazah menyeberangi arus sungai karena tidak adanya akses jembatan. 

Peristiwa serupa kembali terulang ketika seorang pasien dari Puskesmas Pining harus dirujuk ke rumah sakit di Blangkejeren.

Tanpa jembatan, proses evakuasi dilakukan dengan penuh risiko, menembus arus sungai yang sewaktu-waktu dapat membahayakan keselamatan.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: sejauh mana kehadiran negara dalam menjawab jeritan warganya di daerah terpencil?

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved