Kamis, 23 April 2026

Berita Bireuen

Air Sungai Meluap, Boat Ulee Jalan-Bireuen Sempat Tidak Bisa Beroperasi

Tidak bisa bergeraknya boat karena air sungai deras dan juga sejumlah lantai seperti jembatan untuk naik turunnya penumpang dibawa arus.

Penulis: Yusmandin Idris | Editor: Nurul Hayati
Serambinews.com/HO/Serambinews.co/HO
MELUAP – Aliran sungai Ulee Jalan, Peusangan Selatan, Bireuen, Rabu (1/4/2026) meluap, boat ketek tidak beroperasi. 

Laporan Yusmandin Idris I Bireuen

SERAMBINEWS.COM, BIREUEN – Pada Rabu (1/4/2026) sebanyak tujuh unit boat yang setiap hari membantu siswa, santri, masyarakat, guru maupun kalangan lainnya tidak bisa beroperasi membantu menyeberangkan warga.

Tidak bisa bergeraknya boat karena air sungai deras dan juga sejumlah lantai seperti jembatan untuk naik turunnya penumpang dibawa arus.

Boat baru beroperasi lagi menjelang sore menyeberangkan warga.

Mantan Pj Mukim Paya Malem, Faisal SP MM kepada Serambinews.com, Kamis (2/4/2026) mengatakan, pada Rabu kemarin air sungai meluap dan deras, perahu getek di jembatan Ulee Jalan, Peusangan Selatan membantu
penyebrangan dari Ulee Jalan ke Suak atau sebaliknya tidak bisa beroperasi dari pagi hingga sore. 

Dampaknya, banyak siswa tidak bisa ke sekolah, begitu juga masyarakat lainnya lumpuh total.

Saat boat tidak bisa beroperasi kondisinya sangat memprihatinkan, dimana siswa tidak bisa ke sekolah, PNS terlambat ke kantor, dan dampak lainnya.

“Alhamdulillah, pagi ini boat ketek sudah bisa beroperasi lagi membantu menyeberangkan warga,” ujarnya. 

Harapan warga dan berbagai kalangan katanya, berharap pihak pemerintah mencari solusi yang baik mengatasi daerah tersebut yang terdampak banjir dan jembatan putus yang sekarang menyeberang dengan boat ketek. 

Masyarakat kawasan Desa Suak, Darul Aman, Tanjong Beuridi, Pulo Harapan, Darussalam dan Blang Mane sebelah selatan jembatan tersebut sangat merasakan dampaknya.

Baca juga: Pembangunan Jembatan Armco di Aceh Selatan Dimulai, 3 Titik Jadi Prioritas

Berbagai pihak di Peusangan Selatan katanya berharap agar segera dibangun jembatan rangka baja secepat mungkin.  

Sejak jembatan putus katanya, ekonomi masyarakat sangat terganggu.

Salah satunya antara lain harga kelapa butir dibeli pedagang penampung di sebelah utara jembatan Rp 3.500/butir, sedangkan dari sebelah selatan jembatan pedagang hanya mampu membeli Rp 3.000/butir karena ongkos angkut yang mahal dan juga kondisi jalan rusak parah.

“Belum lagi masalah lainnya, ekonomi mereka sangat terpuruk, harga komoditi terpaksa murah dibeli, harga kebutuhan yang dibeli mereka naik karena ongkos angkut yang jauh,” ujarnya. (*)

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved