Minggu, 12 April 2026

Berita Banda Aceh

Martini Blak-blakan soal Pokir, Satu Anggota DPRA hanya Dapat Rp4 M

Dalam forum tersebut, Martini menegaskan bahwa alokasi Pokir untuk satu anggota DPRA hanya sebesar Rp4 miliar.

Penulis: Rianza Alfandi | Editor: Amirullah
Serambinews.com/Rianza Alfandi
MENYAMPAIKAN INSTRUKSI – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dari Fraksi Partai NasDem, Martini, menyampaikan instruksi dalam Rapat Paripurna DPRA, di gedung utama kantor dewan tersebut, di Banda Aceh, Senin (6/4/2026). 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dari Fraksi Partai NasDem, Martini, secara terbuka mengungkap besaran pokok-pokok pikiran (Pokir) yang dikelola setiap anggota dewan dalam Rapat Paripurna DPRA, Senin (6/4/2026).

Dalam forum tersebut, Martini menegaskan bahwa alokasi Pokir untuk satu anggota DPRA hanya sebesar Rp4 miliar.

Angkat itu menurutnya sangat minim untuk mengakomodir aspirasi masyarakat dari daerah pemilihan (Dapil) masing-masing.

“Kami anggota DPRA ingin menyampaikan secara jelas kepada masyarakat bahwa Pokir anggota DPRA itu Rp4 miliar satu orang. Pokir anggota DPRA itu satu orang itu Rp4 miliar,” kata Martini, dalam instruksinya.

Ia menjelaskan, Pokir tersebut merupakan hasil dari aspirasi masyarakat yang dihimpun saat reses dan kemudian diperjuangkan untuk masuk dalam perencanaan pembangunan daerah. Untuk itu, ia juga meminta agar usulan hasil reses benar-benar diakomodasi oleh pemerintah, bukan sekadar formalitas.

Baca juga: Aturan Baru, Airlangga Batasi BBM Subsidi 2 Bulan, Pembelian Diawasi Sistem Barcode

Baca juga: Harga Emas Perhiasan di Aceh Timur 6 April 2026 Stagnan, Antam Justru Ambruk Rp 26.000

“Kami mengingatkan agar usulan reses itu benar-benar diakomodir, Ketua. Jangan semata-mata hanya formalitas. Reses anggota DPRA ini dilindungi undang-undang,” ujar Martini.

Martini juga memaparkan secara rinci penggunaan Pokir miliknya. Dari total Rp4 miliar tersebut, sebagian besar dialokasikan untuk pembangunan rumah ibadah.

“Saya sendiri, dari Rp4 miliar itu, Rp3,5 miliar untuk masjid, Rp300 juta untuk sekolah, dan Rp200 juta untuk dayah. Ini sangat sedikit, tidak bisa mengakomodir aspirasi masyarakat,” ungkapnya.

Ia bahkan meminta kepada Ketua DPRA agar alokasi tersebut tidak dipotong, mengingat kebutuhan masyarakat yang dinilai jauh lebih besar dibandingkan dana yang tersedia.

“Jangan dipotong ya, Ketua. Ini sangat sedikit sekali,” katanya.

Selain itu, Martini mendorong transparansi terkait dokumen Pokir, terutama jika terjadi pembengkakan anggaran di tingkat eksekutif. Menurutnya, keterbukaan ini penting untuk menghindari kesalahpahaman di tengah masyarakat.

“Kalau ada dokumen Pokir DPRA yang membengkak di Pemerintahan Aceh, mohon dipublikasi. Karena masyarakat sering menganggap, ‘kenapa bencana ini tidak selesai, pasti dimakan Pokir DPRA’. Tidak, Ketua,” tegas Martini.

Di akhir penyampaiannya, Martini kembali menekankan pentingnya realisasi aspirasi masyarakat yang disampaikan melalui berbagai forum perencanaan, mulai dari Musrenbang hingga reses anggota dewan.

“Usulan dari masyarakat benar-benar diakomodir. Jangan hanya masyarakat di tingkat kecamatan, tingkat kabupaten buat Musrenbang itu-itu saja dibahas, tetapi tidak direalisasikan,” pungkasnya. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved