Ancaman Lubang Raksasa Ketol
Menunggu Kebun Terakhir Runtuh, Lubang Raksasa di Ketol Terus Melebar
TANAH itu dulu hijau. Cabai tumbuh rapat, merah menyala, menjadi sumber penghidupan yang tak pernah diragukan.
Lubang raksasa di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, bukan sekadar fenomena alam, tetapi ancaman nyata bagi kehidupan warga. Retakan tanah terus meluas, kebun cabai hilang, dan akses jalan terputus. Melalui liputan eksklusif ini, tim menelusuri dampak kemanusiaan, analisis ilmiah, hingga langkah penanganan yang tengah diupayakan. Liputan ini disusun oleh Alga Mahate Ara, Romadani Aksa, dan Sara Masroni, dengan Koordinator Yocerizal.
TANAH itu dulu hijau. Cabai tumbuh rapat, merah menyala, menjadi sumber penghidupan yang tak pernah diragukan. Kini, hamparan itu berubah menjadi tepi jurang. Retakan tanah memanjang seperti luka, dan setiap hari, sebagian kebun kembali hilang, runtuh pelan ke dalam lubang raksasa yang terus melebar.
Di bibir jurang itu, Tugiyem (60) berdiri lama. Matanya menatap tanaman cabai yang tersisa. Sebagian menggantung, sebagian lain sudah hilang. Ia tak lagi menghitung hasil panen. Yang tersisa kini hanyalah menghitung waktu, sebelum tanah yang dipijaknya ikut runtuh.
"Ibu menangis setiap hari. Takut tanahnya habis, tidak ada kebun lagi. Kami tinggal berdua saja dengan Bapak, mau kerja apa lagi kalau lahan ini hilang?" ujar Tugiyem dengan suara bergetar saat ditemui di lokasi tengah membersihkan rumbut di tanaman yang masih tersisa.
Lubang raksasa di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, bukan sekadar fenomena geologi. Bagi warga, ia adalah ancaman nyata terhadap kehidupan sehari-hari. Tanah yang dulu produktif kini berubah menjadi batas yang tak pasti, antara harapan dan kehilangan.
Angin pegunungan bertiup pelan, membawa bau tanah basah dari tepi longsoran. Di beberapa titik, retakan baru terlihat jelas, memanjang di antara barisan tanaman cabai. Warga yang datang hanya bisa menunjuk dari kejauhan. Tak ada yang berani terlalu dekat. Tanah di sekitar bibir lubang terasa rapuh, mudah runtuh hanya dengan pijakan.
Data perangkat desa mencatat sedikitnya 5 hektare lahan milik 11 warga telah terdampak langsung. Mayoritas merupakan perkebunan cabai produktif yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Sebagian lahan itu sudah hilang. Sebagian lain tinggal menunggu giliran.
Ketol selama ini dikenal sebagai ‘dapur’ cabai terbesar di Pulau Sumatera. Dari kawasan dataran tinggi ini, cabai didistribusikan ke berbagai daerah. Saat panen raya, truk-truk pengangkut hasil kebun hilir mudik di jalan yang kini justru terputus oleh longsor. Produksi yang dulu menjadi kebanggaan, kini dibayangi kecemasan.
Bukan Kejadian Baru
Sekretaris Desa Pondok Balik, Muhamad Lucky, mengatakan lubang tersebut sebenarnya bukan kejadian baru. Retakan awal sudah terdeteksi sejak lama, namun kerusakan meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir. "Sejak sebelum Ramadhan lalu, runtuhan terjadi sangat cepat. Ini sudah jalan ketiga yang terputus dan dialihkan menjadi jalan alternatif," kata Lucky.
Putusnya akses jalan memperparah situasi. Jalur alternatif yang disiapkan hanya berupa jalan darurat, licin dan curam. Saat hujan turun, tanah menjadi lembek dan kendaraan sering terperosok. Warga terpaksa melintasi jalur itu setiap hari untuk mengangkut hasil kebun, mengantar anak ke sekolah, hingga mencari layanan kesehatan.
"Akses jalan alternatif sangat sulit. Sudah ada warga yang jatuh dan lukanya cukup parah. Padahal ini satu-satunya akses untuk pendidikan, kesehatan, dan membawa hasil bumi," tambahnya.
Beberapa petani memilih memanen lebih cepat, meski cabai belum sepenuhnya matang. Harga jual lebih rendah, tetapi mereka tak punya pilihan. Menunggu panen berarti mempertaruhkan kebun ikut runtuh. Di sisi lain, ada juga yang tetap bertahan, berharap tanah tidak bergerak sebelum masa panen tiba.
Di sekitar lokasi, suara retakan kecil kadang terdengar. Tidak keras, namun cukup membuat warga waspada. Setiap bunyi seperti itu menambah ketegangan. Anak-anak dilarang bermain di sekitar kebun. Aktivitas warga pun menjadi terbatas.
Ketidakpastian semakin terasa karena belum ada kepastian relokasi atau ganti rugi. Warga masih bertahan, menjaga kebun yang tersisa, meski setiap saat retakan baru bisa muncul. Mereka menunggu keputusan, sembari terus menyaksikan tanah perlahan menghilang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Lubang-Raksasa-di-Ketol-Terus-Melebar.jpg)