Kamis, 9 April 2026

Ancaman Lubang Raksasa Ketol

Sungai Bawah Tanah dan Tanah yang Labil

Di bawahnya, aliran air tersembunyi diduga ikut mempercepat pergerakan tanah dan memperluas longsoran.

Editor: mufti
Kiriman Dinas ESDM Aceh
Lokasi pergerakan tanah longsor di Gampong Pondok Balek Ketol, Aceh Tengah, sudah mendekati badan jalan, Sabtu (18/6/2022) 

FENOMENA lubang raksasa di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, tidak hanya dipicu oleh kondisi tanah yang lemah di permukaan. Di bawahnya, aliran air tersembunyi diduga ikut mempercepat pergerakan tanah dan memperluas longsoran.

Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Aceh Tengah mengungkapkan, hasil kajian teknis melalui uji geolistrik menunjukkan adanya aliran sungai bawah tanah pada kedalaman sekitar 70 hingga 100 meter. Aliran tersebut dinilai menjadi salah satu faktor utama yang terus menggerus struktur tanah dari bawah.

“Aliran air di bawah tanah ini menjadi salah satu faktor utama yang terus menggerus struktur tanah, sehingga lubang semakin melebar,” kata Kepala Dinas PUPR Aceh Tengah, Pijas Visara.

Keberadaan aliran bawah tanah itu membuat struktur tanah di atasnya menjadi tidak stabil. Air yang terus mengalir perlahan mengikis material tanah, membentuk zona lemah yang rentan runtuh. Ketika bagian atas kehilangan penyangga, tanah di permukaan ikut bergerak dan longsor.

Fenomena ini tidak terjadi dalam waktu singkat. Longsoran besar di lokasi tersebut disebut sudah terjadi sejak 2003. Sejak saat itu, kondisi tanah terus berubah dan pergerakan masih berlangsung hingga kini.

Kombinasi antara kondisi geologi, aliran air bawah tanah, serta faktor hidrometeorologi membuat penanganan menjadi lebih kompleks. Air hujan yang meresap ke dalam tanah menambah beban pada lapisan yang sudah lemah. Tekanan air meningkat dan mempercepat pergerakan tanah.

Penanganan Teknis

Meski demikian, PUPR menyebut sistem drainase bukan satu-satunya faktor dominan. Aliran drainase yang sebelumnya menuju lubang telah dialihkan, dan langkah tersebut dinilai cukup membantu mengurangi intensitas longsoran.

Sebagai upaya penanganan, sejumlah langkah teknis telah dilakukan. Salah satunya pengalihan aliran air melalui sistem pipanisasi agar tidak lagi masuk ke area longsoran. Upaya ini bertujuan mengurangi infiltrasi air yang dapat memperlemah struktur tanah.

Selain itu, pemerintah merencanakan pembangunan tiga titik sumur bor untuk mengurangi tekanan air bawah tanah. Saat ini, satu titik sumur bor telah beroperasi, sementara dua titik lainnya masih dalam tahap perencanaan.

Sumur bor tersebut berfungsi mengalirkan air dari lapisan bawah tanah sehingga tekanan yang mendorong pergerakan tanah dapat berkurang. Dengan menurunkan tekanan air, diharapkan kestabilan tanah meningkat.

Namun, upaya teknis ini membutuhkan waktu. Kondisi tanah di sekitar lokasi masih dinyatakan labil. Pergerakan tanah masih mungkin terjadi, terutama saat curah hujan tinggi.

Karena itu, pemerintah juga memprioritaskan penanganan akses transportasi. Dua jalur alternatif telah disiapkan untuk memastikan mobilitas masyarakat tetap berjalan. Salah satunya merupakan jalan yang dibangun di sisi aliran sungai.

Perbaikan permanen juga dilakukan pada ruas jalan Gelumpang Payung-Pondok Balik yang merupakan jalan kabupaten. Infrastruktur ini menjadi penting karena jalan lama telah terputus akibat longsor.

Selain jalan, jembatan rangka baja di Desa Segenep Balik juga dibangun kembali setelah rusak. Pembangunan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga konektivitas antarwilayah yang terdampak.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved