Rabu, 8 April 2026

Banjir Landa Aceh

Pemerintah Akui Sulit Bersihkan Lumpur

Belum (bersih sepenuhnya lumpur). Berat. Tapi wilayah-wilayah vital sudah kita bersihkan. Safrizal ZA

Editor: mufti
COVER KORAN SERAMBI INDONESIA/KORAN SERAMBI INDONESIA
HEADLINE KORAN SERAMBI INDONESIA EDISI RABU 20260408 

Ringkasan Berita:
  • Pemerintah mengakui bahwa upaya membersihkan material lumpur sisa banjir dan longsor di sejumlah wilayah Aceh menghadapi tantangan
  • Meski progres pembersihan telah mencapai lebih dari 90 persen, pekerjaan di lapangan masih menyisakan kendala berat, terutama di lokasi-lokasi yang terdampak parah
  • Pemulihan lahan persawahan milik warga terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Aceh hingga kini masih berjalan sangat terbatas

Belum (bersih sepenuhnya lumpur). Berat. Tapi wilayah-wilayah vital sudah kita bersihkan. Safrizal ZA, Kepala Posko Satgas PRR Pascabencana Wilayah Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Pemerintah mengakui bahwa upaya membersihkan material lumpur sisa banjir dan longsor di sejumlah wilayah Aceh menghadapi tantangan. Meski progres pembersihan telah mencapai lebih dari 90 persen, pekerjaan di lapangan masih menyisakan kendala berat, terutama di lokasi-lokasi yang terdampak parah

Kepala Posko Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Wilayah Aceh, Safrizal ZA, menyebut pekerjaan tersebut tergolong sulit meski penanganan terus dilakukan.

“Belum (bersih sepenuhnya lumpur). Berat. Tapi wilayah-wilayah vital sudah kita bersihkan,” kata Safrizal saat diwawancarai usai kegiatan Media Gathering bersama awak media di Ballroom Hotel The Padee, Aceh Besar, Selasa (7/4/2026).

Kendati mengaku sulit, Safrizal menegaskan bahwa pembersihan lumpur terus dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari TNI-Polri, relawan, hingga masyarakat melalui program padat karya atau cash for work.

Contohnya, di Kabupaten Pidie Jaya, kegiatan ini difokuskan di Kecamatan Meurah Dua, seperti di Desa Blang Cut dan Desa Meunasah Raya. Selain itu, upaya serupa juga dilakukan di Kabupaten Aceh Tamiang dengan mengerahkan ratusan Praja IPDN. 

Safrizal menambahkan, pemerintah terus mendorong partisipasi masyarakat dalam proses pembersihan, khususnya bagi warga yang menerima bantuan rehabilitasi rumah rusak ringan dan sedang.

“Mereka yang memperoleh dana insentif berupa rehabilitasi rusak ringan dan rusak sedang agar membersihkan dalam rumahnya. Karena sebagian para pekerja ini tidak berani masuk rumah karena ini wilayah privasinya rumah,” jelasnya. “Tapi taruh material lumpur itu di luar rumah agar bisa dibersihkan oleh petugas yang ada,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Safrizal menyebut, Satgas PRR Aceh telah bekerja selama delapan hari terakhir di wilayah Pidie Jaya dan Aceh Tamiang. Hasilnya bervariasi, dengan sejumlah lokasi menunjukkan progres signifikan, sementara daerah lain masih menghadapi kendala berat.

“Progresnya ada yang sudah tinggi, ada yang masih berat sekali yang harus kita kerjakan,” pungkasnya. Berdasarkan data Posko Satgas PRR per 6 April 2026, progres pembersihan material lumpur sisa banjir di Aceh sudah mencapai 92 persen. Angka itu diperoleh berdasarkan akumulasi sasaran pembersihan sebanyak 519 lokasi. Sementara itu, yang sudah selesai dibersihkan sebanyak 480 lokasi dan 39 lokasi masih dalam proses pembersihan.(ra)

Data Pembersihan

  • Hingga 6 April 2026, progres pembersihan lumpur mencapai 92 persen.
  • Dari 519 lokasi sasaran, 480 sudah selesai pembersihan, 39 masih dalam proses.

Pemulihan Sawah Aceh Baru 2 Persen

Pemulihan lahan persawahan milik warga terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Aceh hingga kini masih berjalan sangat terbatas. Dari total target pemulihan seluas 42.702 hektare, realisasi konstruksi baru mencapai sekitar 991 hektare atau sekitar 2 persen.

Kepala Posko Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Wilayah Aceh, Safrizal ZA, mengatakan bahwa seluruh area persawahan terdampak sebenarnya telah dipetakan berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan) dan posko Satgas PRR. Namun, progres konstruksi di lapangan masih jauh dari target ditetapkan. 

“Target pemulihan sawah cukup besar yaitu 42.702 hektare. Konstruksi pemulihannya baru 991 hektar, ada 2 persen dan ini terus dilakukan, dan sudah ada kontrak-kontrak dengan para vendor untuk pemulihan sawah masyarakat,” kata Safrizal dalam paparannya pada kegiatan Media Ghatering bersama awak media di Ballroom Hotel The Padee, Aceh Besar, Selasa (7/4/2026).

Safrizal mengakui capaian tersebut masih sangat minim, sehingga pihaknya terus mendorong percepatan dari pemerintah pusat, khususnya Kementan.  “Ini tentu masih jauh sekali dan tentu Kementan terus kita dorong agar proses konstruksi pemulihan sawah ini terus bisa dipenuhi,” ujarnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved