Selasa, 14 April 2026

Feature

4 Bulan Paska Banjir, Rakit jadi Penghubung Antar Desa di Sawang

DERAS dan pekatnya arus Krueng (Sungai) Sawang menjadi saksi betapa beratnya hari-hari yang dilalui oleh warga kedua desa itu

Editor: mufti
@pegadaian.kanwilmedan/ANTARA FOTO/Rahmad/YU
Warga menyelesaikan pembangunan jembatan darurat untuk menyeberangi sungai di Desa Kubu Sawang, Aceh Utara, Aceh, Senin (13/4/2026). Warga setempat secara swadaya membangun jembatan darurat dari limbah kayu kiriman banjir agar dapat digunakan warga dan siswa untuk menyeberangi sungai. 

Setelah banjir landa melanda sejumlah wilayah di Aceh pada akhir November 2025 lalu, jembatan rangka baja penghubung Gampong Blang Cut dan Gampong Gunci, dan beberapa desa lainnya di Kecamatan Sawang, Aceh Utara lenyap dibawa arus. Kini warga penyintas bencana pun mengandalkan rakit untuk menyeberang.

DERAS dan pekatnya arus Krueng (Sungai) Sawang menjadi saksi betapa beratnya hari-hari yang dilalui oleh warga kedua desa itu. Bahkan, para pelajar pun harus mengarungi sungai setiap pagi dengan rakit demi menggapai sekolah.

Meski penyeberangan ini mengandung risiko, para pelajar tetap harus menaiki rakit demi bisa sampai ke sekolah.

Keuchik Gunci, Kecamatan Sawang, Fazir Ramli SP, kepada Serambi, Senin (13/4/2026), menjelaskan bahwa di lokasi tersebut sebelumnya berdiri jembatan rangka baja. Namun pada akhir 2024 lalu, jembatan rangka baja tersebut rusak akibat diterjang banjir bandang.

Selanjutnya, dibangun jembatan darurat atau jembatan gantung. Namun saat banjir bandang kembali melanda pada akhir November 2025, jembatan darurat itu juga lenyap disapu arus sungai.

Bahkan, lebar sungai kini semakin bertambah. “Saat ini lebar sungai sekitar 250 meter,” ujarnya.

Padahal, jembatan tersebut merupakan satu-satunya akses penyeberangan bagi sekitar enam hingga tujuh ribu warga dari empat gampong, yakni Gunci, Blang Cut, Lhok Cut, dan Kubu, untuk menuju pusat Kecamatan Sawang.

Selain itu, jembatan tersebut juga kerap digunakan warga di sekitar pusat kecamatan untuk menuju Kabupaten Bireuen karena jaraknya yang relatif dekat. Namun sejak banjir bandang meluluhlantakkan kawasan tersebut, sarana penyeberangan yang tersedia hanya rakit yang dikelola warga setempat.

Saat ini, tersedia dua unit rakit serta dua boat karet bantuan dari kepolisian dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Fazir juga menjelaskan bahwa beberapa bulan lalu sempat dibangun jembatan Bailey di kawasan tersebut. Namun saat banjir bandang kembali terjadi pada awal Maret 2026, kondisi jembatan Bailey sudah miring. Timbunan dari tepi sungai ke arah jembatan juga tergerus air, sehingga tidak dapat digunakan lagi.

“Untuk konstruksi jembatan Bailey sebenarnya sudah maksimal. Namun kondisi alam menyebabkan kerusakan. Solusinya memang harus segera dibangun jembatan permanen di lokasi kami,” tegasnya.

Setelah jembatan Bailey tidak bisa digunakan, warga kembali harus mengandalkan rakit untuk penyeberangan. “Walaupun penuh risiko, kami tetap harus menyeberang,” katanya.(bah)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved