Jumat, 8 Mei 2026

Feature

Rita Novita, Raih Profesor di Usia Muda

Prof Dr Rita Novita MPd, Guru Besar UBBG yang baru saja dikukuhkan awal pekan ini, sekaligus menjadi salah satu profesor termuda di Aceh

Tayang:
Editor: mufti
for serambinews
Prof Dr Rita Novita MPd, guru besar kedua di lingkungan UBBG Banda Aceh. 

Meraih jabatan tertinggi dalam akademik di usia kepala tiga, bukanlah sebuah kemustahilan. Itulah yang baru saja diraih oleh sosok perempuan bernama lengkap Prof Dr Rita Novita MPd, Guru Besar Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) yang baru saja dikukuhkan awal pekan ini, sekaligus menjadi salah satu profesor termuda di Aceh saat usianya baru menginjakkan 38 tahun.

“Syukur kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah dan perkenaan-Nya sehingga saya dapat berdiri di sini, dalam forum yang agung dan penuh kehormatan, prosesi pengukuhan yang khidmat ini,” ujar Prof Rita saat dikukuhkan sebagai profesor di Plenary Hall UBBG, Banda Aceh, Senin (4/5/2026).

Putri dari pasangan almarhum H. M Jamin SPd dan Dra Darwati kelahiran Aceh Utara, November 1987 itu dikukuhkan sebagai Guru Besar pada Bidang Ilmu Pendidikan Matematika (Pembelajaran Bilangan dan Aljabar).

Saat ini, ia menduduki jabatan sebagai Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Inovasi UBBG. Sebelum menjadi dosen tetap pada Prodi Pendidikan Matematika Universitas Bina Bangsa Getsempena sejak 2012, Rita pernah menjadi guru di MIN 6 Model Banda Aceh pada 2009 lalu, dan guru SMA Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB) pada 2008 silam.

Prof Rita menyelesaikan S1 Pendidikan Matematika di Universitas Syiah Kuala (2005-2009), kemudian S2 di Universitas Sriwijaya (2010-2012) dan S3 bidang yang sama di Universitas Pendidikan Indonesia (2019-2023) yang seluruhnya mendapat predikat cum laude.

Beberapa penelitian yang pernah dilakukan seperti “Desain Didaktis Pembelajaran Pecahan Berdasarkan Teori Situasi Didaktis untuk Mahasiswa Calon Guru Sekolah Dasar” dengan jabatan ketua dan pendanaan bersumber dari LPDP tahun 2020.

Ia juga pernah meneliti bersama tim dengan judul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Rich Task untuk Meningkatkan Kemampuan Mengajar Matematika Guru Sekolah Menengah Pertama” dengan pendanaan bersumber dari DP2M Dikti (penelitian hibah bersaing) tahun 2016-2017.

Dalam pidato pengukuhannya, Guru Besar UBBG itu menjelaskan, sejumlah kajian dalam bidang pendidikan matematika menunjukkan rendahnya pemahaman konsep matematis siswa lebih banyak dipengaruhi oleh pendekatan pembelajaran yang berorientasi prosedural dibandingkan konseptual.

“Pembelajaran cenderung menempatkan matematika sebagai sekumpulan aturan dan 

algoritma yang harus dihafal, bukan sebagai sistem pengetahuan yang harus dipahami dan dikonstruksi secara aktif oleh peserta didik,” ungkap Prof Rita.

Fenomena ini selaras dengan kerangka teoritik konstruktivisme yang dikemukakan oleh Jean Piaget, yang menegaskan pengetahuan dibangun melalui proses asimilasi dan akomodasi secara aktif oleh individu. Demikian pula, perspektif sosiokultural dari Lev Vygotsky menekankan, pembelajaran yang bermakna terjadi melalui interaksi sosial dan mediasi yang tepat dalam zone of proximal development. 

Namun demikian, dalam praktik pembelajaran di kelas, khususnya pada materi konsep bilangan, terutama bilangan rasional, pendekatan yang digunakan masih didominasi oleh pola pengajaran yang bersifat mekanistik, algoritmik, dan minimal refleksi.

“Guru lebih berfokus pada penyelesaian prosedur dibandingkan eksplorasi makna, serta kurang memberi ruang bagi siswa untuk mengonstruksi pemahaman melalui pengalaman belajar yang kontekstual dan dialogis,” ucap Prof Rita.

Dampak dari praktik tersebut sangat signifikan, yakni munculnya kesenjangan antara kemampuan prosedural dan pemahaman konseptual. Peserta didik mungkin mampu melakukan operasi hitung secara benar, tetapi tidak memahami makna di balik prosedur tersebut. 

Kemudian peserta didik mampu menghasilkan jawaban yang tepat, tetapi tidak mampu menjelaskan proses berpikirnya. Serta mampu menghafal algoritma, tetapi gagal membangun keterkaitan konseptual antar representasi matematika.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved