Sabtu, 18 April 2026

Berita Banda Aceh

Ridwan Kamil Kenang Perjalanan Emosional Merancang Museum Tsunami Aceh

Mantan Gubernur Jawa Barat, Mochamad Ridwan Kamil atau yang akrab dikenal Kang Emil kembali mengunjungi Museum Tsumani Aceh yang didesain oleh

Penulis: Rianza Alfandi | Editor: Mursal Ismail
Serambinews.com/Rianza Alfandi
MENGUNJUNGI MUSEUM TSUNAMI ACEH — Momen mantan Gubernur Jawa Barat, Mochamad Ridwan Kamil atau yang akrab dikenal Kang Emil saat mengunjungi Museum Tsumani Aceh yang didesain oleh dirinya, di Banda Aceh, Sabtu (18/4/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Ridwan Kamil datang ke Museum Tsunami Aceh saat menghadiri konferensi kebencanaan UIA dan menjadi pemandu bagi arsitek internasional yang berkunjung.
  • Ia mengaku Museum Tsunami Aceh adalah bangunan paling emosional yang pernah dirancang karena mengingatkan pada tragedi dan para korban tsunami 2004.
  • Kang Emil berharap museum tetap dikelola secara profesional, dirawat dengan baik, serta mempertahankan konsep asli desain sebagai sarana edukasi kebencanaan.

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Mantan Gubernur Jawa Barat, Mochamad Ridwan Kamil atau yang akrab dikenal Kang Emil kembali mengunjungi Museum Tsumani Aceh yang didesain oleh dirinya, di Banda Aceh, Sabtu (18/4/2026).

Kunjungan ini dilakukan Kang Emil bertepatan dengan rangkaian kegiatan konferensi internasional kebencanaan yang digelar oleh Persatuan Arsitek Internasional atau Union Internationale des Architectes (UIA) di Banda Aceh.

Dalam kunjungan tersebut, Ridwan Kamil kembali mengenang perjalanan emosional kala dirinya merancang Museum Tsunami Aceh.

Sebuah karya arsitektur yang lahir dari tragedi besar, namun kini menjadi ruang edukasi kebencanaan. Hal itu diungkapkannya saat diwawancarai Serambinews.com di sela kunjungannya ke museum tersebut.

“Hari pertama kemarin saya ada konferensi tentang kebencanaan dari arsitek-arsitek seluruh dunia, UIA.

Kemudian merumuskan bagaimana para arsitek bisa berperan pascabencana dengan membuat desain yang sifatnya mudah, murah, cepat untuk menolong para korban,” ujar Kang Emil. 

Baca juga: Duta Besar Belanda dan Konjen Jepang Kagumi Museum Tsunami Aceh

Ia menyebut, dalam agenda konferensi, para peserta arsitek dari berbagai belahan dunia dijadwalkan mengunjungi Museum Tsunami Aceh, dan dirinya berkesempatan menjadi pemandu untuk menjelaskan langsung proses perancangan serta bagian-bagian dari bangunan tersebut.

“Saya jadi tour guide (pemandu) untuk menceritakan proses museum ini yang didesain tahun 2007, diresmikan 2009. Jadi sudah kurang lebih 17 tahun usia museum ini,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Kang Emil mengaku sangat senang melihat antusiasme pengunjung, terutama dari kalangan pelajar yang memanfaatkan Museum Tsunami sebagai sarana belajar. 

Bahkan, saat mengelilingi setiap ruang museum, Kang Emil kerap mengeluarkan ponsel pribadinya dan merekam aktivitas para pelajar yang begitu antusias mempelajari setiap bagian dari sejarah tsunami Aceh.

“Saya bahagia, ramai sekali, khususnya di hari weekend. Tadi saya lihat ada banyak sekali anak-anak sekolah yang belajar. Dengan belajar kita bisa memahami dan menyiapkan masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Namun di balik megahnya bangunan tersebut, Kang Emil mengaku proses perancangannya menjadi salah satu pengalaman paling emosional dalam kariernya sebagai arsitek. 

Baca juga: Belasan Ribu Kunjungan ke Museum Tsunami Aceh saat Libur Lebaran, Ini Jadwal dan Harga Tiketnya

Dari ratusan bangunan yang sudah ia rancang, hanya Museum Tsunami Aceh yang membuat air matanya menetes karena mengenang begitu banyak jiwa yang menjadi korban.  

“Ini sulit ya. Saya mendesain ratusan bangunan, tapi bangunan yang paling saya bikin meneteskan air mata ya saat mendesain Museum Tsunami. Karena mengenang tragedi, mengenang korban,” ungkapnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved