Rabu, 3 Juni 2026

Pemulihan Aceh

Dijenguk Relawan Psikososial, Anak Penyintas Banjir di Aceh Tamiang Menangis Haru

Sejumlah anak penyintas banjir di Kabupaten Aceh Tamiang menangis haru saat dikunjungi tim kolaborasi relawan

Tayang:
Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/RAHMAD WIGUNA
MENANGIS HARU - Relawan psikososial memeluk anak penyintas banjir di Lubuksidup, Aceh Tamiang, Sabtu (18/4/2026). Sebagian anak menangis karena merasa senang dikunjungi tim relawan. 

Ringkasan Berita:
  • Rina menegaskan program ini tidak bersifat sesaat. Kegiatan psikososial dirancang berkelanjutan dan akan menjangkau lima kampung di Aceh Tamiang.
  • Tujuannya adalah membangun ketahanan mental anak dan remaja agar lebih siap menghadapi situasi krisis di masa mendatang.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG – Sejumlah anak penyintas banjir di Kabupaten Aceh Tamiang menangis haru saat dikunjungi tim kolaborasi relawan psikososial, Sabtu (18/4/2026).

Suasana emosional itu terlihat ketika para relawan dari Forum Konservasi Leuser, Ruang Baca (Langsa), serta psikolog dari Universitas Prima Indonesia (Medan) dan Universitas Medan Area (Medan) memberikan layanan dukungan psikososial kepada puluhan anak korban banjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025.

Kegiatan ini dilaksanakan di halaman Masjid Kampung Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, sebagai upaya awal memulihkan kondisi mental anak-anak pascabencana.

“Ini hari pertama, kami masih dalam tahap identifikasi. Kami ingin mengetahui bagaimana kondisi mental mereka dan apa saja kebutuhan yang diperlukan,” ujar psikolog Universitas Prima Indonesia sekaligus koordinator relawan, Rina Mirza.

Baca juga: 4.759 KK Korban Banjir Bireuen Segera Terima Bantuan Dana Stimulan Ekonomi Rp8 Juta Per KK

Menurut Rina, kegiatan tersebut menjadi pintu masuk untuk membaca kondisi psikologis anak-anak yang hingga kini belum sepenuhnya pulih.

Pada sesi awal, relawan menggunakan pendekatan ringan melalui permainan dan interaksi sederhana agar anak-anak merasa nyaman.

Fokus kegiatan dilakukan secara bertahap, tanpa langsung menggali pengalaman traumatis yang mereka alami.

“Karena sebelumnya ada laporan anak-anak mengalami gangguan seperti mimpi buruk hingga berteriak di malam hari,” jelas Rina, didampingi psikolog Universitas Medan Area, Meri Hafni.

Rina menegaskan program ini tidak bersifat sesaat. Kegiatan psikososial dirancang berkelanjutan dan akan menjangkau lima kampung di Aceh Tamiang.

Tujuannya adalah membangun ketahanan mental anak dan remaja agar lebih siap menghadapi situasi krisis di masa mendatang.

“Kita tidak tahu seperti apa bencana ke depan, tetapi anak-anak ini harus disiapkan menjadi pribadi yang tangguh. Mereka harus mampu menghadapi masalah, bukan terus bergantung pada relawan,” ujarnya.

Meski demikian, tantangan utama terletak pada konsistensi kehadiran peserta. Relawan berharap anak-anak yang hadir pada hari pertama dapat terus mengikuti sesi berikutnya agar proses pemulihan berjalan optimal.

Dalam pelaksanaannya, peserta dibagi berdasarkan kelompok usia. Remaja tingkat SMP dan SMA didorong menjadi penggerak dan pendamping bagi anak-anak yang lebih kecil, sehingga dukungan dapat tumbuh dari dalam komunitas sendiri.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved