Selasa, 5 Mei 2026

Berita Aceh Tamiang

Aktivitas Warga Tamiang Terganggu Akibat Sungai Dangkal

Kondisi aliran sungai di wilayah hulu Kabupaten Aceh Tamiang mengalami pendangkalan signifikan pascabanjir bandang

Tayang:
Editor: mufti
Serambinews.com/HO
PENDANGKALAN – Sungai di Bandarpusaka, Aceh Tamiang mengalami pendangkalan sejak banjir bandang 25 November 2025. Kondisi ini menghantui warga terhadap ancaman banjir susulan 
Ringkasan Berita:
  • Kondisi aliran sungai di wilayah hulu Kabupaten Aceh Tamiang mengalami pendangkalan signifikan pascabanjir bandang 25 November 2025 lalu
  • Pantauan di lokasi menunjukkan air sungai berwarna keruh dengan endapan material seperti pasir, lumpur, dan batu yang terbawa arus banjir
  • Pendangkalan sungai di Aceh Tamiang sejak awal sudah menjadi perhatian serius pemerintah dengan melakukan pengerukan muara

Material yang terbawa dari hulu menumpuk di beberapa titik aliran sungai, sehingga menyebabkan pendangkalan. Ini tentu berdampak pada aktivitas masyarakat, terutama yang bergantung pada transportasi air dan perikanan. CAKRA AGIE WINAPATI, Camat Bandarpusaka

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG — Kondisi aliran sungai di wilayah hulu Kabupaten Aceh Tamiang mengalami pendangkalan signifikan pascabanjir bandang 25 November 2025 lalu. 

Fenomena ini terpantau di Kampung Pengidam, Kecamatan Bandarpusaka, di mana badan sungai tampak melebar namun lebih dangkal dibandingkan kondisi sebelumnya.

Pantauan di lokasi menunjukkan air sungai berwarna keruh dengan endapan material seperti pasir, lumpur, dan batu yang terbawa arus banjir. Endapan tersebut menyebabkan perubahan struktur dasar sungai, sehingga mengurangi kedalaman dan berpotensi mengganggu aliran air.

Camat Bandarpusaka, Cakra Agie Winapati mengatakan, bahwa pendangkalan ini merupakan dampak langsung dari tingginya intensitas banjir yang menghantam wilayah hulu beberapa bulan lalu.

“Material yang terbawa dari hulu menumpuk di beberapa titik aliran sungai, sehingga menyebabkan pendangkalan. Ini tentu berdampak pada aktivitas masyarakat, terutama yang bergantung pada transportasi air dan perikanan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan risiko banjir susulan jika tidak segera ditangani, mengingat kapasitas tampung sungai menjadi berkurang.

Pemerintah kecamatan, lanjutnya, sudah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk melakukan normalisasi sungai, termasuk pengerukan endapan dan pemetaan titik-titik rawan.

Warga setempat berharap adanya penanganan cepat dari pemerintah agar kondisi sungai kembali normal dan tidak membahayakan permukiman di sekitarnya, terutama saat memasuki musim hujan.

Imbauan ini terbukti ketika curah hujan meningkat dalam dua hari terakhir sudah menyebabkan sebagain titik tergenang air, salah satunya SDN 1 Bengkelang. Pascabanjir akhir 2025, halaman sekolah ini kerap menjadi langganan banjir.(mad)

Pengerukan Muara Perlu Ditingkatkan

Pendangkalan sungai di Aceh Tamiang sejak awal sudah menjadi perhatian serius pemerintah dengan melakukan pengerukan muara. Pengerukan ini dilakukan di muara sungai Kualapenaga, Aceh Tamiang dengan melibatkan pihak swasta.

Namun, pemerhati lingkungan menilai pengerukan ini belum maksimal karena hanya dilakukan kurang lebih 4-5 kilometer. Program ini pun dinilai cenderung parsial terhadap permasalahan yang sudah rutin terjadi di Aceh Tamiang.

“Menurut kami, harus ada langkah-langkah teknis yang nyata, cepat dan tepat, di antaranya menyelesaikan perencanaan konstruksi pengendali banjir secara menyeluruh dan akurat, sehingga permasalahan banjir ini dapat terselesaikan atau dapat direduksi dampaknya,” kata Danil, pemerhati sekaligus konsultan publik di Aceh Tamiang, Senin (4/5/2026).

Dia juga menyarankan dilakukan analisis resiko bencana agar dapat diurutkan mana saja wilayah yang merupakan prioritas untuk ditangani. “Baru kemudian dilakukan analisis hidrologi untuk mendapatkan debit banjir rencana, analisis pasang surut untuk mendapatkan kondisi batas di hilir DAS Tamiang, kemudian dilakukan analisis hidraulika untuk kondisi eksisting dengan evaluasi tinggi banjir menggunakan data primer yang didapatkan dari survey dan analisis pada area terdampak bencana November 2025,” bebernya.(mad)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved