Rabu, 6 Mei 2026

Banda Aceh

Farah Maharani Herfansa, Mahasiswi UIN Ar-Raniry Raih "Excellence Prize" dari Kampus di Korea

Selain Farah, ada Ummu Aiman, Fataya, dan Riziq, yang dibimbing oleh Prof Saiful Akmal, Direktur International Office UIN Ar-Raniry Banda Aceh,

Tayang:
Penulis: Sara Masroni | Editor: Nur Nihayati
Serambinews.com/serambinews
MAHASISWI UIN AR-RANIRY - Farah Maharani Herfansa, mahasiswi UIN Ar-Raniry raih "Excellence Prize" dalam ajang Grecture Global Shorts Competition 2026 yang diselenggarakan IDegree by Woosong University x EBS, Korea Selatan 
Ringkasan Berita:
  • Farah Maharani Herfansa, mahasiswi UIN Ar Raniry, meraih Excellence Prize dalam ajang Grecture Global Shorts Competition 2026 di Korea.
  • Kompetisi video esai yang dipersembahkan oleh IDegree by Woosong University x EBS, Korea Selatan ini diikuti oleh para pelajar dari seluruh dunia.
  • Selain Farah, ada Ummu Aiman, Fataya, dan Riziq, yang dibimbing oleh Prof Saiful Akmal, Direktur International Office UIN Ar-Raniry Banda Aceh

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Sara Masroni | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Mahasiswi semester enam Program Studi Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Farah Maharani Herfansa, meraih Excellence Prize dalam ajang Grecture Global Shorts Competition 2026.

Sebuah penghargaan atau beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa dengan pencapaian luar biasa dalam bidang akademik, riset, atau kontribusi internasional.

Kompetisi video esai yang dipersembahkan oleh IDegree by Woosong University x EBS, Korea Selatan ini diikuti oleh para pelajar dari seluruh dunia.

Pencapaian ini diraih, setelah Farah sukses menyelesaikan program kuliah internasional iDegree Open Class Program – Fall Semester 2025 di Woosong University, Korea Selatan, yang diikuti secara daring selama satu semester.

Baca juga: Selasa Besok, Pimred Serambi Indonesia dan Pengusaha Muda dari Bireuen Isi Kuliah di UIN Ar-Raniry

Selain Farah, ada Ummu Aiman, Fataya, dan Riziq, yang dibimbing oleh Prof Saiful Akmal, Direktur International Office UIN Ar-Raniry Banda Aceh, terkait pemilihan konsep, tema, video dan koneksitasnya dengan permasalahan global dan nasional sesuai bidang ilmu ditempa selama sebulan.  

Farah sendiri mengaku tak menyangka ketika karyanya berhasil menembus deretan pemenang. 

"Pas pertama kali dapat email pengumuman, sudah pasti speechless karena pesertanya bukan dari Indonesia saja, tapi dari seluruh dunia. 

Soalnya sempat mikir bakal dilirik jurinya apa tidak ya video saya, karena online juga jadi ada rasa insecure dikit," kenangnya kepada Serambinews.com, Senin (4/5/2026).

"Ketika lihat ada nama saya di barisan Excellence Prize rasanya campur aduk, ada bangganya ada terharunya, tapi yang paling kerasa itu leganya. Kayak oh ternyata opini kita sebagai mahasiswa Indonesia akhirnya didengar dan dihargai juga ya di sana," tambah Farah.

Karya visual yang mengantarkan Farah pada kemenangan tersebut, tidak lahir dari zona nyaman. 

Ia memilih untuk bersuara kritis dengan membenturkan teori ekonomi global dan realitas yang terjadi di Tanah Air. 

Ia membuka satu per satu bagian teori ekonomi, kemudian memilih materi Mankiw soal konsep Little Country. 

“Karena di situ dia menjelaskan teorinya itu indah banget, tapi pas lihat realitanya di Indonesia jauh banget," ungkap Farah.

“Saya nekat angkat topik itu karena ingin menunjukkan kalau di balik angka triliunan dan narasi 'Generasi Emas', ada ironi besar yang lagi terjadi, supaya audiens global juga tahu realistis yang sebenarnya kita hadapi," tambahnya.

Bagi Farah, ajang internasional ini adalah platform yang terlalu berharga jika hanya digunakan untuk mengulang teori. 

Dikatakan, membawa isu seberat itu ke dalam durasi video pendek tentu membutuhkan strategi eksekusi yang tajam, terutama dalam hal penyusunan naskah dan penyuntingan visual. 

Melalui keberaniannya menyuarakan keresahan tersebut hingga diakui secara global, Farah menitipkan pesan bagi generasi muda agar lebih peka dan kritis terhadap kebijakan yang ada. 

Menurutnya, sebagai anak muda dan masyarakat Indonesia, jangan mudah termakan janji-janji manis dan angka-angka besar dari suatu kebijakan. 

“Kita harus bisa lebih kritis, karena teori sebagus apapun tidak akan jalan kalau institusinya cuma mikir kepentingan sendiri. Rakyat itu investasi masa depan, bukan cuma komoditas politik," tegas Farah. 

Ia juga mendorong anak muda lainnya untuk tidak takut berkarya dan berekspresi.

"Buat semua yang masih ragu untuk bersuara, gas aja. Walau kadang suka overthinking duluan, merasa kurang ini kurang itulah. 

Percayalah, asal pesan yang dibawa jujur dan memang berangkat dari keresahan yang nyata, pasti bakal sampai. Nggak usah pusingin menang atau kalahnya dulu, just risk it all aja," tutupnya.(*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved