Abdya
Bupati Abdya Berikan Tantangan kepada Muhammadiyah, Mulai Tabligh Akbar hingga Pembukaan Prodi Baru
Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Safaruddin, memberikan tantangan terbuka kepada Pimpinan Daerah Muhammadiyah Abdya untuk menggelar...
Penulis: Masrian Mizani | Editor: Eddy Fitriadi
Ringkasan Berita:
- Bupati Aceh Barat Daya, Safaruddin, menantang Muhammadiyah Abdya menggelar Tabligh Akbar dengan skala lebih besar pada tahun mendatang di GOR Sigupai Arena.
- Ia bahkan menyatakan siap menanggung kebutuhan kegiatan secara pribadi apabila Muhammadiyah mampu menghadirkan massa lebih besar dan kembali mengundang Hilman Latief.
- Safaruddin juga mendorong perguruan tinggi Muhammadiyah membuka program studi pertanian, perikanan, dan kelautan agar selaras dengan potensi ekonomi masyarakat Abdya.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Masrian Mizani I Aceh Barat Daya
SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Safaruddin, memberikan tantangan terbuka kepada Pimpinan Daerah Muhammadiyah Abdya untuk menggelar Tabligh Akbar dengan skala lebih besar pada tahun selanjutnya.
Tantangan itu disampaikan Safaruddin di hadapan ratusan kader Muhammadiyah dalam kegiatan Tabligh Akbar, yang dilaksanakan di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Masjid At-Taqwa Blangpidie, Minggu (10/5/2026).
“Saya ingin melihat seberapa besar dan kuat Muhammadiyah Abdya membawa nilai-nilai kemuhammadiyahan di Bumoe Breuh Sigupai ini,” kata Safaruddin.
Ia menawarkan penggunaan GOR Sigupai Arena yang berkapasitas sekitar 2.000 orang sebagai lokasi kegiatan Tabligh Akbar.
Safaruddin bahkan menyatakan kesiapannya menanggung kebutuhan kegiatan secara pribadi apabila Muhammadiyah mampu menghadirkan massa yang lebih besar pada pelaksanaan mendatang.
“Saya sediakan GOR Sigupai Arena untuk mengundang kembali Prof Hilman. Semua ditanggung oleh Safaruddin secara pribadi sebagai kader Muhammadiyah,” ujarnya.
Selain itu, Safaruddin mendorong perguruan tinggi Muhammadiyah agar mampu menjawab kebutuhan ekonomi masyarakat Abdya yang sebagian besar hidup dari sektor pertanian dan perikanan.
“Abdya ini daerah petani dan nelayan. Muhammadiyah harus mulai memikirkan prodi pertanian, perikanan, dan sektor kelautan,” harapnya.
Ia menilai pengembangan program studi berbasis potensi lokal penting agar kampus Muhammadiyah tidak terputus dari arah pembangunan daerah.
Menurutnya, di tengah terbatasnya lapangan kerja dan akses pendidikan tinggi di kawasan pantai barat selatan Aceh, perguruan tinggi Muhammadiyah disebut berpotensi menjadi instrumen mobilitas sosial bagi masyarakat kelas bawah.
Baca juga: Kegiatan TMMD Kodim Abdya Hadirkan Hiburan Rakyat, Langit Gunong Cut Dipenuhi Layangan
Safaruddin juga menyinggung kultur internal organisasi yang menurutnya masih membatasi ruang tumbuh generasi muda.
Ia mengingatkan Muhammadiyah agar tidak berkembang menjadi organisasi yang elitis dan hanya dikuasai kelompok tertentu.
“Saya menantang lahirnya Safaruddin-Safaruddin baru dari Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Abdya,” ujarnya.
Pada akhir sambutan, Safaruddin mengutip pesan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, untuk mengingatkan kader agar tidak menjadikan organisasi sebagai alat mencari kepentingan pribadi maupun keuntungan politik praktis.
“Jangan mencari hidup di Muhammadiyah, tetapi tanyakan apa yang bisa kita berikan untuk Muhammadiyah,” pungkas Alumni Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) tersebut. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Safaruddin-menyampaikan-sambutan-pada-Tabligh-Akbar-Muhammadiyah-Abdya-2026.jpg)