Selasa, 12 Mei 2026

Berita Aceh Utara

Warga Bersihkan Lumpur Sisa Banjir

Sekarang sudah ada empat titik tanggul jebol dengan panjang keseluruhan sekitar 500 meter. Tahun 2026 ini saja sudah tiga kali banjir. ZULKHAIRI

Tayang:
Editor: mufti
Serambinews.com/HO
Rumah di Kecamatan Lhoksukon Kabupaten Aceh Utara kembali terendam banjir akibat air dari tanggul sungai yang jebol belum diperbaiki. 

Ringkasan Berita:
  • Banjir yang merendam sejumlah gampong di Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, mulai surut pada Senin (11/5/2026) pagi
  • Ketinggian air di dalam rumah warga mencapai 30 hingga 50 sentimeter. Selain rumah penduduk, air juga merendam jalan desa dan area persawahan masyarakat
  • Banjir yang terus berulang diperparah oleh kondisi tanggul Krueng Peuto yang telah jebol sejak tahun 2023.  Kondisi tersebut kembali rusak parah saat banjir besar pada akhir November 2025 lalu

Sekarang sudah ada empat titik tanggul jebol dengan panjang keseluruhan sekitar 500 meter. Tahun 2026 ini saja sudah tiga kali banjir. ZULKHAIRI, Keuchik Kumbang LT

SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Banjir yang merendam sejumlah gampong di Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, mulai surut pada Senin (11/5/2026) pagi setelah sebelumnya menggenangi pemukiman warga selama sekitar 12 jam.

Kini, warga mulai membersihkan rumah dan lumpur sisa banjir sambil tetap waspada terhadap kemungkinan luapan susulan.

Banjir mulai merendam Gampong Kumbang LT pada Ahad (10/5/2026) sekitar pukul 20.00 WIB, akibat meluapnya Krueng Peuto setelah hujan deras mengguyur wilayah Aceh Utara.  Air baru mulai surut pada Senin pagi sekitar pukul 08.00 WIB.

Keuchik Kumbang LT, Zulkhairi kepada Serambi, Senin (11/5/2026), mengatakan ketinggian air di dalam rumah warga mencapai 30 hingga 50 sentimeter. Selain rumah penduduk, air juga merendam jalan desa dan area persawahan masyarakat.

“Air masuk ke rumah warga sejak tadi malam. Alhamdulillah, pagi ini mulai surut dan warga sudah mulai membersihkan rumah masing-masing,” kata Zulkhairi.

Menurutnya, banjir yang terus berulang diperparah oleh kondisi tanggul Krueng Peuto yang telah jebol sejak tahun 2023.  Kondisi tersebut kembali rusak parah saat banjir besar pada akhir November 2025 lalu.

“Sekarang sudah ada empat titik tanggul jebol dengan panjang keseluruhan sekitar 500 meter. Tahun 2026 ini saja sudah tiga kali banjir,” ujarnya.

Ia menyebut masyarakat mulai trauma, karena banjir terjadi hampir setiap tahun tanpa adanya penanganan serius dan permanen dari pihak terkait.

“Kalau memang mau mengatasi banjir, harus dibangun tanggul permanen seperti di perbatasan desa kami dengan desa tetangga yang dibangun tahun 2007. Sampai sekarang kondisinya masih bagus,” katanya.

Selain pembangunan tanggul permanen, Zulkhairi juga menyoroti pentingnya menjaga kawasan hutan di daerah hulu sungai agar bencana banjir tidak terus berulang. “Selain itu yang paling penting adalah menjaga hutan. Kalau cuma dibangun tanggul darurat tidak akan bertahan lama. Hutan juga harus dijaga,” tegasnya.

Ia menambahkan, sejumlah pihak termasuk Wakil Menteri PUPR sebelumnya juga telah meninjau kondisi tanggul yang rusak. Namun hingga kini, perbaikan permanen belum terealisasi.

Luapan air dari kawasan Kumbang LT turut merendam sejumlah desa tetangga, di antaranya Meunasah Meuria, Meunasah Buket, Dayah LT, Krueng LT, dan Geulumpang.(jaf)

Pantau Debit Air

Seorang warga Lhoksukon, Sabil mengatakan, air mulai naik sejak Ahad malam setelah hujan deras turun selama beberapa jam.

Meski kondisi air berangsur normal, warga masih terus memantau debit sungai untuk mengantisipasi banjir susulan jika hujan kembali mengguyur kawasan hulu Krueng Peuto.

“Saat ini kami bersama warga lainnya terus memantau kondisi debit air guna mengantisipasi luapan susulan di kawasan rawan banjir tersebut,” pungkasnya.(jaf)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved