Selasa, 12 Mei 2026

Berita Lhokseumawe

Guru Besar Unimal Isi Materi Diklat Kepemimpinan Santri di Ponpes Misbahul Ulum

Guru Besar Unimal, Prof Ghazali Syamni menekankan organisasi santri sebagai wadah penting melatih komunikasi, kerjasama & pengambilan keputusan.

Tayang:
Penulis: Zaki Mubarak | Editor: Saifullah
Serambinews.com/HO
NETWORKING GLOBAL - Santri Pesantren Modern Misbahul Ulum didorong menguasai kemampuan problem solving, kepemimpinan, dan networking global sebagai bekal menghadapi tantangan pendidikan serta persaingan di era digital dan globalisasi, Senin (11/5/2026). Dok Misbahul Ulum 

Ringkasan Berita:
  • Santri Pesantren Modern Misbahul Ulum Lhokseumawe didorong menguasai keterampilan problem solving, kepemimpinan, dan networking global untuk menghadapi era digital dan globalisasi.
  • Guru Besar Unimal, Prof Ghazali Syamni, menekankan organisasi santri sebagai wadah penting melatih komunikasi, kerja sama, dan pengambilan keputusan.
  • Melalui Diklat Kepemimpinan, santri diharapkan mampu menyusun program kerja adaptif, memperkuat budaya kepemimpinan, serta membangun jaringan luas untuk masa depan.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Zaki Mubarak | Lhokseumawe

SERAMBINEWS.COM, LHOKSEUMAWE - Santri Pesantren Modern (Ponpes) Misbahul Ulum Lhokseumawe didorong untuk menguasai keterampilan problem solving, kepemimpinan, dan networking global sebagai bekal menghadapi era digital dan globalisasi.

Dorongan ini disampaikan oleh Guru Besar Universitas Malikussaleh (Unimal), Prof Ghazali Syamni dalam kegiatan Diklat Kepemimpinan Santri dan Musyawarah Kerja Pengurus Organisasi Santri Periode 2026–2027, yang berlangsung di Aula Teuku Umar, Kompleks Pesantren Modern Misbahul Ulum, Senin (11/5/2026).

Acara tersebut diikuti 43 pengurus organisasi santri serta dihadiri jajaran pengasuhan, wali asrama, pembina organisasi, dan majelis guru.

Dalam pemaparannya, Prof Ghazali menekankan bahwa kemampuan akademik saja tidak cukup untuk menghadapi perkembangan zaman. 

Santri perlu memiliki keterampilan komunikasi, kepemimpinan, serta membangun relasi luas agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Ia menilai, organisasi santri menjadi wadah penting untuk melatih pengambilan keputusan, kerja sama, dan penyelesaian masalah secara bijak.

Baca juga: Profesor Zulfikar Ali Buto Isi Diklat Kepemimpinan Santri di Dayah Misbahul Ulum Lhokseumawe

Tantangan organisasi saat ini, menurutnya, bukan hanya soal program kerja, tetapi juga kemampuan menghadapi dinamika sosial dan derasnya arus informasi di era digital.

“Organisasi jangan hanya dijadikan tempat menyelesaikan masalah, tetapi juga wadah membangun networking hingga tingkat internasional,” ujarnya.

Selain itu, Prof Ghazali menekankan, pentingnya membangun jaringan sejak dini. 

Relasi yang baik dapat membuka akses informasi pendidikan, peluang pengembangan diri, hingga kesempatan memperoleh beasiswa luar negeri.

Ia juga mengingatkan santri untuk mengelola waktu dengan baik, menjaga pola pikir positif, serta menjadikan pesantren sebagai “rumah kedua” agar tercipta hubungan harmonis dan pendekatan persuasif dalam menyelesaikan persoalan.

Pembina Organisasi Santri, Rizky Maulana menambahkan, bahwa Diklat kepemimpinan merupakan agenda rutin pesantren untuk membentuk karakter santri yang unggul tidak hanya secara akademik, tetapi juga dalam kepemimpinan, komunikasi, dan kerja sama. 

Menurutnya, organisasi santri menjadi sarana pembelajaran langsung dalam menyusun program kerja, membangun kreativitas, dan melatih tanggung jawab kepemimpinan.

Baca juga: Pejabat Pidie Jaya Ikut Diklat Kepemimpinan Administrator, Pj Bupati Tekankan 6 Aksi Perubahan Ini

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved