Kupi Beungoh
Dam Haji: Mau Potong di Makkah atau Mudik ke Indonesia?
Belakangan ini, jagat per-hajian kita lagi ramai membahas satu pertanyaan penting: kambingnya bagusnya disembelih di Tanah Haram
Oleh: Maimun Panga*)
URUSAN ibadah haji itu memang bikin hati rindu, tapi kadang bikin dahi berkerut waktu membahas yang namanya dam atau denda haji tamattu.
Belakangan ini, jagat per-hajian kita lagi ramai membahas satu pertanyaan penting: kambingnya bagusnya disembelih di Tanah Haram atau dibawa mudik dalam bentuk daging ke Indonesia?
Perbedaan pendapat (khilafiyah) ini seru, tapi untungnya dalam Islam, beda pandangan itu bukan modal buat berantem, melainkan bukti kalau fikih kita itu sangat fleksibel dan penuh kasih sayang.
Kalau kita ulik lebih dalam, ibadah haji itu sendiri adalah miniatur perjalanan hidup manusia.
Filosofinya adalah tentang kepatuhan total kepada Allah, sekaligus pembuktian cinta kepada sesama manusia.
Di tanah suci, semua orang melepas baju egonya dan memakai kain ihram yang sama rata.
Tidak ada pejabat, tidak ada rakyat jelata, semuanya sama-sama hamba.
Nah, esensi "kepatuhan" dan "kasih sayang" inilah yang kemudian memercikkan dua sudut pandang indah dalam urusan potong kambing ini.
Lagi pula, indikator utama haji yang mabrur itu sebenarnya bukan terletak pada seberapa lancar jamaah melempar jumrah, melainkan pada kembalinya kita ke tanah air sebagai pribadi yang memiliki kesalehan sosial tinggi.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa ciri haji mabrur itu adalah ith'amuth tha'am (gemar berbagi makanan) dan ifsya-us salam (menebarkan kedamaian).
Jadi, sepulang dari Makkah, kesalehan jamaah tidak boleh mandek di sajadah saja, tetapi harus mengetuk pintu-pintu rumah tetangga yang sedang kelaparan.
Makna berbagi makanan inilah yang menjadi ruh utama dalam perdebatan lokasi penyembelihan dam ini.
Di sudut kepatuhan ritual, ada Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama mayoritas ulama empat mazhab yang memegang prinsip kesakralan tempat.
Bagi beliau-beliau, haji itu adalah ibadah yang bersifat ta'abbudi alias kita sami'na wa atha'na (kami dengar dan kami taat) pada ketentuan teks suci.
| Harga Pertalite, Solar & Pertamax 17 Mei 2026, Saat Ini Minyak Dunia Naik 8 Persen & Rupiah Melemah |
|
|---|
| Tensi AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Meroket 8 Persen Pekan Ini |
|
|---|
| Bendung Irigasi Krueng Pase Kini Dapat Dimanfaatkan Setelah Lima Tahun Ditunggu Petani 8 Kecamatan |
|
|---|
| Stok Ternak di Aceh Utara untuk Meugang dan Idul Adha 1447 H Capai 4.108 |
|
|---|
| Mahasiswa Agribisnis USK Pelajari Peran Panglima Laot dalam Kehidupan Nelayan Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Maimun-Panga-9.jpg)