Senin, 18 Mei 2026

Kupi Beungoh

Dam Haji: Mau Potong di Makkah atau Mudik ke Indonesia?

Belakangan ini, jagat per-hajian kita lagi ramai membahas satu pertanyaan penting: kambingnya bagusnya disembelih di Tanah Haram

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Maimun Panga, alumni  Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fak Dakwah IAIN/UIN Ar-Raniry dan Mahasiswa Magister Administrasi Publik (MAP) Universitas Iskandar Muda. 

Karena ketentuannya di Makkah, ya kambingnya wajib dipotong di Tanah Haram.

Pandangan ini sangat menghargai filosofi ketundukan mutlak pada aturan main yang sudah digariskan pencipta jagat raya agar hati jamaah terasa tenang.

Sementara di sudut kesalehan sosial, ada kawan-kawan dari Muhammadiyah dan para akademisi.

Mereka menarik makna ith'amuth tha'am tadi ke ranah yang lebih luas melalui filosofi kemaslahatan umat (maslahah mursalah). 

Ingat, potensi ratusan ribu kambing dari jamaah Indonesia itu nilainya fantastis.

Kalau dagingnya bisa mengalir sampai ke Indonesia lewat lembaga resmi, ini bisa jadi berkah luar biasa untuk memperbaiki gizi dan mengatasi stunting anak-anak bangsa.

Filosofi ini mengajarkan bahwa kesalehan sosial pasca-haji bisa dicicil sejak jamaah masih berada di tanah suci melalui sepotong daging kambing yang dikirim pulang. 

Lalu bagaimana solusinya
supaya jamaah tidak pusing? Gampang saja, ambil yang paling bikin hati masing-masing individu adem dan tenang. 

Fikih itu gunanya memudahkan, bukan bikin stres sebelum berangkat. Bagi yang ingin klop dengan filosofi ketundukan teks, silakan potong di Makkah.

Tapi bagi yang lebih tergetar dengan filosofi kepedulian sosial sejak dini, pilihan memotong di Indonesia juga punya dasar hujah yang sangat kuat.

Pemerintah sendiri sudah bijak dengan memfasilitasi kedua pilihan ini secara transparan. 

Yang paling penting dan dilarang keras itu cuma satu. 

Bayar dam lewat calo atau mukimin ilegal di pinggir jalan yang tidak jelas kambingnya beneran dipotong atau cuma difoto saja.

Jadi, mari kita saling menghormati pilihan sesama jamaah di dalam kloter. 

Berbeda pilihan tempat potong kambing tidak akan membatalkan haji kita, karena esensi kesalehan sosial itu justru tercermin dari bagaimana kita bisa menghargai perbedaan dengan penuh senyuman.

*) PENULIS  alumni Fakultas Dakwah IAIN/UIN Ar-Raniry dan Mahasiswa PPS Administrasi Publik Universitas Iskandar Muda

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved