Rabu, 20 Mei 2026

Opini

Ketika Rasa Hormat Kian Pupus

Pengalaman itu saya dapatkan dari cerita guru bimbingan konseling (BK) di sekolah kami saat mengadakan home visit

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/FOR SERAMBINEWS
Nelliani MPd, Guru SMA Negeri 1 Baitussalam. 

Oleh: Nelliani, M.Pd*)

DI zaman yang serba modern ini, rasa hormat anak terhadap orang tua semakin memudar. Jika dulu perkataan orang tua didengar dan diikuti, kini tidak lagi demikian. Anak dengan mudah mendebat, membantah, bahkan tidak peduli ketika pendapat orang tua tidak sejalan dengan pikiran dan kehendaknya. Di titik ini, meskipun berada di pihak yang benar, orang tua sering kali dibuat tidak berdaya menghadapi anak sendiri.

Pengalaman itu saya dapatkan dari cerita guru bimbingan konseling (BK) di sekolah kami saat mengadakan home visit terhadap siswa yang bermasalah dengan kehadiran. Kunjungan rumah tersebut dilakukan dengan harapan dapat membangun komunikasi guna menemukan solusi terhadap kelanjutan pendidikan si anak.

Namun, dari beberapa siswa yang dikunjungi, bukan solusi yang didapat, melainkan kenyataan yang membuat guru geleng-geleng kepala. Ada anak yang sengaja tidak hadir karena memang tidak ingin sekolah lagi. Baginya, sekolah tidak penting. Ia tidak peduli dengan belajar, naik kelas, ijazah, atau hal-hal lainnya. Dan semua itu dikatakannya di hadapan wali kelas, guru BK, serta ibunya sendiri.

Sang ibu tidak bisa berbuat banyak. Ia sudah pasrah. Berbagai upaya telah dilakukan, namun anak tetap bergeming. Alih-alih mau mendengar, si anak justru semakin melawan.

“Saya sudah lelah mengingatkan, belajarlah yang rajin, Nak, namun dia tidak mendengar,” cerita si ibu dengan sedih.

“Meskipun cuma kerja serabutan, kami berusaha membiayai agar dia jangan sampai berhenti sekolah,” lanjutnya.

Bujukan, nasihat, dan pencerahan tidak mempan. Anak itu tetap keukeuh tidak mau sekolah. Ketika ditanya alasannya, dia hanya berkata, “Saya bisa cari uang sendiri, bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.”

Seisi ruangan terdiam. Kunjungan hari itu berakhir tanpa titik temu. Masing-masing beranjak dengan hati dan pikiran yang sulit dijelaskan.

Belakangan ini, fenomena “anak lebih berkuasa” semakin sering kita dengar. Ada yang mengancam berhenti sekolah karena tidak dibelikan sepeda motor. Ada remaja yang menganiaya ibunya karena tidak diberi uang. Seolah rasa hormat kian pupus dalam relasi anak dan orang tua.

Mirisnya, anak merasa lebih berkuasa bahkan pada perkara yang belum sepenuhnya mereka pahami. Dalam usia yang masih belia, mereka merasa paling berhak menentukan apa yang terbaik menurut versinya sendiri tanpa memberi ruang bagi orang lain untuk bersuara. Di sisi lain, orang tua semakin tidak berdaya. Daripada terus berkonflik, mereka akhirnya terpaksa membiarkan anak berjalan dengan kemauannya sendiri.

Hilangnya Rasa Hormat
Di ruang BK yang sejuk, kami berdiskusi tentang fenomena tersebut. Ada apa dengan anak-anak ini? Ke mana rasa hormat itu, bahkan kepada pihak yang seharusnya paling mereka sayangi? Adakah yang salah dalam pola didik orang tua? Atau lingkungan yang sudah tidak ramah bagi mereka?

Saya teringat ungkapan, “Anak ibarat kertas putih.” Ayah, ibu, dan lingkunganlah yang memberi warna. Pernyataan itu kerap dimaknai bahwa orang tua, guru, dan lingkungan berperan membentuk karakter serta perilaku anak. Anak belajar dari apa yang dilihat, terutama dari sosok yang paling dekat dengan dirinya.

Dari berbagai sumber, ternyata banyak faktor yang memengaruhi pudarnya rasa hormat.

Pertama, hilangnya keteladanan. Rumah merupakan tempat pertama anak mengenal nilai dan norma, sementara orang tua menjadi role model utama. Anak belajar etika, cara merespons emosi, dan bersosialisasi dengan melihat langsung bagaimana ayah dan ibunya bertindak, bukan semata-mata dari apa yang mereka dengar.

Anak yang sulit diatur, suka membantah, atau pemarah bisa jadi karena di rumah ia sering menyaksikan orang tua yang mudah marah, bertengkar, atau menggunakan kekerasan emosional. Sebaliknya, anak dapat tumbuh santun dan saling menghormati karena di rumah dicontohkan perilaku demikian oleh kedua orang tuanya.

Anehnya, sebagian orang tua rajin menasihati anak untuk bersikap baik, berbuat baik, dan berbicara yang baik-baik, namun lupa menasihati diri sendiri untuk urusan yang sama. Contoh sederhana, menyuruh anak bersikap santun kepada yang lebih tua, sementara dirinya sendiri kurang menghargai yang lebih muda. Demikian pula ketika orang tua memaksa anak mengikuti pendapat mereka tanpa memberi kesempatan anak mengemukakan pandangannya.

Perubahan sikap anak tidak terjadi secara tiba-tiba. Itu merupakan akumulasi dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang mereka lihat dan sering kali tidak disadari. Rasa hormat dan karakter baik tidak akan bertahan hanya karena anak berhadapan dengan status “orang tua”. Nilai itu perlu dijaga, dan sikap konsisten orang tua sangat berperan dalam merawatnya.

Jika orang tua tidak konsisten dalam memberi teladan, yang terjadi adalah kebingungan emosional dan kecemasan pada anak. Sebaliknya, jika ucapan sejalan dengan tindakan, anak akan tumbuh dengan pedoman moral yang jelas, mudah memahami batasan, serta terhindar dari kebingungan psikologis akibat aturan yang berubah-ubah.

Kedua, pola asuh. Pola asuh orang tua sangat menentukan bagaimana anak memahami dan menerapkan rasa hormat. Pendekatan yang tepat akan membuat anak secara sadar menempatkan nilai-nilai kebaikan sebagai pedoman hidup, bukan karena rasa takut atau paksaan.

Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi buah hatinya. Apa pun dilakukan demi melihat mereka bahagia. Namun, rasa sayang yang terlalu memanjakan tanpa diimbangi aturan yang tegas dapat membuat anak tumbuh menjadi pribadi egois dan kesulitan menghargai orang lain.

Gaya pengasuhan yang terlalu membebaskan juga dapat memicu sikap memberontak dan sulit diatur. Pada satu titik, anak tidak lagi mau mendengar nasihat karena menganggap orang tua tidak memiliki kendali atas dirinya.

Ketiga, komunikasi. Dalam keluarga, komunikasi merupakan media penting untuk menanamkan rasa hormat. Melalui dialog dua arah yang setara dan penuh penghargaan, anak belajar bagaimana rasanya didengar dan dihargai. Hal itu menjadi fondasi bagi mereka untuk memperlakukan orang lain dengan sikap yang sama.

Berbicara dengan tenang, sopan, dan tidak merendahkan di hadapan anak akan membentuk pemahaman tentang bagaimana seharusnya mereka berinteraksi. Selain itu, penting bagi orang tua menghindari pola komunikasi yang keliru seperti berteriak, membentak, mengancam, melabeli, atau membandingkan. Hal tersebut hanya akan membuat anak cemas, stres, rendah diri, dan menjadikan hubungan semakin dingin.

Memudarnya rasa hormat juga dipengaruhi oleh faktor dari anak sendiri. Pertama, pengaruh pergaulan. Nilai hormat yang ditanamkan dari rumah dapat terkikis apabila anak berada dalam lingkungan pergaulan yang salah. Anak cenderung meniru kebiasaan kurang sopan dari teman sebaya yang turut memengaruhi sikapnya. Karena itu, penting bagi orang tua untuk membimbing anak agar selektif memilih teman sehingga terhindar dari pengaruh pergaulan yang buruk.

Di era ini, tidak dimungkiri media sosial juga berdampak pada karakter anak. Video, foto, atau narasi negatif yang dikonsumsi dapat memicu penurunan sopan santun, tindakan agresif, serta menormalisasi kekerasan. Anak menjadi terbiasa berkata kasar dan suka melawan karena pengaruh konten-konten tersebut.

Hubungan anak dengan orang tua akan terus bertumbuh secara dinamis sepanjang hayat. Ketika orang tua mau belajar, mendengar, dan menyesuaikan diri dengan tahap perkembangan anak, sementara di sisi lain anak mampu menjaga diri dan lebih memahami orang tuanya, rasa hormat tidak hanya akan kembali, tetapi juga tumbuh lebih kuat dan tulus dari sebelumnya.

*) PENULIS adalah Guru SMA Negeri 1 Baitussalam

Email: nellianimnur@gmail.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved