Kamis, 21 Mei 2026

Opini

Ketika Rasa Hormat Kian Pupus

Pengalaman itu saya dapatkan dari cerita guru bimbingan konseling (BK) di sekolah kami saat mengadakan home visit

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/FOR SERAMBINEWS
Nelliani MPd, Guru SMA Negeri 1 Baitussalam. 

Oleh: Nelliani, M.Pd*)

DI zaman yang serba modern ini, rasa hormat anak terhadap orang tua semakin memudar. Jika dulu perkataan orang tua didengar dan diikuti, kini tidak lagi demikian. Anak dengan mudah mendebat, membantah, bahkan tidak peduli ketika pendapat orang tua tidak sejalan dengan pikiran dan kehendaknya. Di titik ini, meskipun berada di pihak yang benar, orang tua sering kali dibuat tidak berdaya menghadapi anak sendiri.

Pengalaman itu saya dapatkan dari cerita guru bimbingan konseling (BK) di sekolah kami saat mengadakan home visit terhadap siswa yang bermasalah dengan kehadiran. Kunjungan rumah tersebut dilakukan dengan harapan dapat membangun komunikasi guna menemukan solusi terhadap kelanjutan pendidikan si anak.

Namun, dari beberapa siswa yang dikunjungi, bukan solusi yang didapat, melainkan kenyataan yang membuat guru geleng-geleng kepala. Ada anak yang sengaja tidak hadir karena memang tidak ingin sekolah lagi. Baginya, sekolah tidak penting. Ia tidak peduli dengan belajar, naik kelas, ijazah, atau hal-hal lainnya. Dan semua itu dikatakannya di hadapan wali kelas, guru BK, serta ibunya sendiri.

Sang ibu tidak bisa berbuat banyak. Ia sudah pasrah. Berbagai upaya telah dilakukan, namun anak tetap bergeming. Alih-alih mau mendengar, si anak justru semakin melawan.

“Saya sudah lelah mengingatkan, belajarlah yang rajin, Nak, namun dia tidak mendengar,” cerita si ibu dengan sedih.

“Meskipun cuma kerja serabutan, kami berusaha membiayai agar dia jangan sampai berhenti sekolah,” lanjutnya.

Bujukan, nasihat, dan pencerahan tidak mempan. Anak itu tetap keukeuh tidak mau sekolah. Ketika ditanya alasannya, dia hanya berkata, “Saya bisa cari uang sendiri, bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.”

Seisi ruangan terdiam. Kunjungan hari itu berakhir tanpa titik temu. Masing-masing beranjak dengan hati dan pikiran yang sulit dijelaskan.

Belakangan ini, fenomena “anak lebih berkuasa” semakin sering kita dengar. Ada yang mengancam berhenti sekolah karena tidak dibelikan sepeda motor. Ada remaja yang menganiaya ibunya karena tidak diberi uang. Seolah rasa hormat kian pupus dalam relasi anak dan orang tua.

Mirisnya, anak merasa lebih berkuasa bahkan pada perkara yang belum sepenuhnya mereka pahami. Dalam usia yang masih belia, mereka merasa paling berhak menentukan apa yang terbaik menurut versinya sendiri tanpa memberi ruang bagi orang lain untuk bersuara. Di sisi lain, orang tua semakin tidak berdaya. Daripada terus berkonflik, mereka akhirnya terpaksa membiarkan anak berjalan dengan kemauannya sendiri.

Hilangnya Rasa Hormat
Di ruang BK yang sejuk, kami berdiskusi tentang fenomena tersebut. Ada apa dengan anak-anak ini? Ke mana rasa hormat itu, bahkan kepada pihak yang seharusnya paling mereka sayangi? Adakah yang salah dalam pola didik orang tua? Atau lingkungan yang sudah tidak ramah bagi mereka?

Saya teringat ungkapan, “Anak ibarat kertas putih.” Ayah, ibu, dan lingkunganlah yang memberi warna. Pernyataan itu kerap dimaknai bahwa orang tua, guru, dan lingkungan berperan membentuk karakter serta perilaku anak. Anak belajar dari apa yang dilihat, terutama dari sosok yang paling dekat dengan dirinya.

Dari berbagai sumber, ternyata banyak faktor yang memengaruhi pudarnya rasa hormat.

Pertama, hilangnya keteladanan. Rumah merupakan tempat pertama anak mengenal nilai dan norma, sementara orang tua menjadi role model utama. Anak belajar etika, cara merespons emosi, dan bersosialisasi dengan melihat langsung bagaimana ayah dan ibunya bertindak, bukan semata-mata dari apa yang mereka dengar.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved