Rabu, 3 Juni 2026

Berita Aceh Singkil

Dayah Safinatussalamah Aceh Singkil Lepas 32 Santri, Setelah Kuasai Tiga Keilmuan

Dayah Perbatasan Safinatussalamah Kabupaten Aceh Singkil, melepas 32 santri setingkat Madrasah Aliyah yang telah menyelesaikan pendidikan

Tayang:
Penulis: Dede Rosadi | Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Pelepasan Santri: Prosesi pelepasan santri Dayah Perbatasan Safinatussalamah, di Biskang, Kecamatan Danau Paris, Aceh Singkil, Minggu (31/5/2026). 

Ringkasan Berita:Dayah Perbatasan Safinatussalamah melepas 32 santri tingkat Madrasah Aliyah yang dinyatakan lulus setelah menyelesaikan ujian kitab kuning, praktik fardu kifayah, dan hafalan Al-Qur'an minimal tiga juz.
 
Pendidikan dayah tidak hanya menekankan ilmu agama, tetapi juga pembentukan karakter, disiplin, kemandirian, dan tanggung jawab.
 
Acara pelepasan di Kecamatan Danau Paris turut diisi penyerahan ijazah serta penghargaan bagi santri yang berprestasi di tingkat kabupaten dan provinsi.

Laporan Serambi Indonesia Dede Rosadi I Aceh Singkil 

SERAMBINEWS.COM, SINGKIL – Dayah Perbatasan Safinatussalamah Kabupaten Aceh Singkil, melepas 32 santri setingkat Madrasah Aliyah yang telah menyelesaikan pendidikan. 

Pelepasan dilakukan setelah melalui serangkaian ujian akademik dan keagamaan. 

Prosesi pelepasan berlangsung di Dayah Perbatasan Safinatussalamah, di Biskang, Kecamatan Danau Paris, Minggu (31/5/2026).

Para santri dinyatakan lulus setelah mengikuti ujian membaca dan memahami kitab kuning I’anatuth Thalibin, praktik fardu kifayah, serta hafalan Al-Qur’an minimal tiga juz.

Ketiga aspek tersebut menjadi bagian dari standar kompetensi yang diterapkan dayah dalam menyiapkan lulusan yang memiliki pemahaman keislaman, keterampilan ibadah, dan bekal pengabdian kepada masyarakat.

Penyerahan ijazah dilakukan langsung oleh Rais Am Dayah Perbatasan Safinatussalamah, Tgk Sarkawi, SSosI, MAg. 

Tgk Sarkawi mengatakan masa setelah lulus merupakan fase penting bagi santri untuk membuktikan kualitas pendidikan yang telah diperoleh selama berada di lingkungan dayah.

Baca juga: Kebangkitan Tradisi Menulis Teungku Dayah

Menurutnya, kehidupan di dayah selama ini tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu pengetahuan keagamaan, tetapi pada pembentukan karakter, pembiasaan disiplin, serta penguatan tanggung jawab pribadi.

“Mulai hari ini para santri memasuki fase kehidupan yang berbeda. Tidak ada lagi guru yang membangunkan untuk shalat Subuh, mengingatkan kehadiran di masjid, mengawasi penggunaan gawai, ataupun mengingatkan tentang adab dan kedisiplinan. 

Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan sesungguhnya adalah ketika seseorang tetap mampu menjaga nilai-nilai tersebut atas kesadaran dirinya sendiri,” ujar Sarkawi.

Ia mengingatkan disiplin yang ditanamkan di dayah tidak dimaksudkan sebagai pembatasan kebebasan, melainkan sebagai proses pendidikan yang bertujuan membentuk kepribadian yang matang, mandiri, dan bertanggung jawab.

Pada baguan lain Tgk Sarkawi menyoroti pandangan di sebagian masyarakat yang menilai kehidupan di dayah terlalu ketat dan sarat aturan. 

Menurutnya, persepsi tersebut perlu dilihat secara lebih proporsional dalam konteks pendidikan karakter.

“Sering kali disiplin dipahami sebagai kekerasan, teguran dianggap tekanan, dan kesederhanaan dipandang sebagai kekurangan. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved