Rabu, 3 Juni 2026

Berita Aceh Timur

Usai Lebaran Idul Adha, Sebagian Nelayan Aceh Timur Sudah Kembali Melaut

Usai lebaran Idul Adha 1447 Hijriah, sebagian nelayan Kabupaten Aceh Timur sudah kembali melaut pada Selasa (2/6/2026) mencari ikan

Tayang:
Penulis: Maulidi Alfata | Editor: Amirullah
Serambinews.com/Maulidi Alfata
Kapal-kapal nelayan Aceh Timur di dermaga mulai keluar berlayar ke laut lepas satu-persatu terlihat beberapa kapal lainnya masih stay dan terparkir di dermaga hingga hari Selasa (2/6/2026). 

Laporan Wartawan Serambi Indonesiam Maulidi Alfata | Aceh Timur

SERAMBINEWS.COM, IDI - Usai lebaran Idul Adha 1447 Hijriah, sebagian nelayan Kabupaten Aceh Timur sudah kembali melaut pada Selasa (2/6/2026) mencari ikan di perairan Selat Malaka.

Kepala Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Idi Dr. Rakhimah Khairi Isfani, menjelaskan bahwa dari dari keseluruhan armada aktif 230 unit, sebanyak 40 armada sudah mulai berlayar.

"Dan perkiraan kita 50 lebih armada akan keluar berlayar hari ini," tuturnya.

Pantauan Serambinews.com, di lapangan, kapal-kapal nelayan tersebut kini sudah banyak yang meninggalkan dermaga, Idi Rayeuk.

Kapal tersebut sebelumnya terparkir rapi di dermaga dekat jembatan Idi sejak hari Meugang, hingga hari ketujuh lebaran idul Adha kapal satu persatu mulai bergerak lagi. "Kini usai lebaran mereka kembali mencari nafkah di laut," ungkapnya.

Baca juga: Remaja Asal Sigli yang Tenggelam di Pantai Pulau Kapuk Lhoknga Ditemukan Meninggal Dunia

Ia juga meminta agar wak kapal perikanan yang berlayar tetap memperhatikan alat keselamatan di atas kapal. Memastikan keselamatan kerja terdaftar di asuransi ketenagakerjaan bagi nelayan (BPJS Ketenagakerjaan), serta terus memantau perkembangan cuaca untuk menghindari cuaca buruk.

"Karena laut ini sangat luas, kita sudah memprediksi cuaca yang cepat berubah maka dark itu kami mengimbau para nelayan untuk mempertimbangkan keselamatan," tuturnya.

Kepala PPN Idi ini juga memberikan rambu-rambu hukum yang harus dipatuhi para nelayan selama berada di zona tangkap. Dua poin krusial yang disorot adalah penggunaan alat tangkap ramah lingkungan dan kepatuhan terhadap batas wilayah negara.

​"Kami memperingatkan dengan tegas agar tidak ada lagi yang menggunakan pukat harimau (trawl) yang merusak ekosistem. Selain itu, perhatikan navigasi. Jangan sampai melanggar batas wilayah antarnegara yang bisa berujung pada penangkapan nelayan kita oleh otoritas asing," pungkas Isfani.

​Para nelayan Aceh Timur berharap kepulangan mereka beberapa pekan ke depan dapat membawa hasil tangkapan yang melimpah demi menggerakkan kembali roda ekonomi keluarga. 

Baca juga: Harga Sawit di Petani Aceh Singkil Berangsur Naik, Segini Harga TBS Kelapa Sawit Per Kg

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved