Jumat, 5 Juni 2026

Berita Banda Aceh

Ekonomi Nelayan Kembang Kempis Kala Cuaca Buruk, Lembaga Adat Laot Dorong Pemerintah Cari Solusi

"Harus ada alternatif mencari rezeki di darat terutama pada musim cuaca buruk. Sentra-sentra industri di kampung nelayan harus dibangun. Sehingga...

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Rianza Alfandi | Editor: Nurul Hayati
Tribunnews.com
Ilustrasi- Cuaca Buruk 

Ringkasan Berita:
  • Lembaga Adat Laot Aceh meminta pemerintah segera menghadirkan solusi ekonomi bagi nelayan yang terdampak cuaca buruk dan gelombang tinggi tahunan di perairan Aceh.
  •  Sekjen Panglima Laot Aceh, Azwir Nazar, menegaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem tidak hanya membahayakan nyawa nelayan, tetapi juga memukul pendapatan keluarga karena mereka tidak bisa melaut.
  • Selain cuaca, nelayan juga menghadapi kesulitan bahan bakar sehingga semakin terjepit secara ekonomi.

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Lembaga Adat Laot Aceh mendorong pemerintah menghadirkan solusi ekonomi bagi nelayan yang terdampak cuaca buruk dan gelombang tinggi yang kerap terjadi setiap tahun di perairan Aceh.

Sekretaris Jenderal Panglima Laot Aceh, Azwir Nazar, mengatakan kondisi cuaca buruk tidak hanya mengancam keselamatan nelayan, tetapi juga berdampak langsung terhadap pendapatan keluarga nelayan karena mereka tidak dapat melaut secara normal.

"Dampak nelayan tidak melaut pasti akan mempengaruhi kondisi ekonomi mereka, beberapa waktu lalu juga ada kelangkaan solar. Jadi nelayan kita terus terjepit. Harus ada solusi," kata Azwir, kepada Serambinews.com, Rabu (3/6/2026).

Menurutnya, persoalan yang berulang setiap tahun tersebut membutuhkan perhatian dan langkah konkret dari pemerintah agar masyarakat pesisir memiliki penyangga ekonomi ketika aktivitas melaut terganggu akibat cuaca.

"Perlu adanya upaya pemerintah untuk mengatasi masalah ini yang setiap tahun terjadi," ujarnya.

Azwir menilai pemerintah perlu menyiapkan alternatif sumber penghasilan bagi masyarakat pesisir, terutama pada musim cuaca buruk yang membuat nelayan tidak dapat melaut dalam waktu tertentu.

"Harus ada alternatif mencari rezeki di darat terutama pada musim cuaca buruk. Sentra-sentra industri di kampung nelayan harus dibangun. Sehingga keluarga nelayan dapat membantu ekonomi keluarga," ungkapnya.

Di sisi lain, Azwir juga mengingatkan nelayan untuk mengutamakan keselamatan menyusul peringatan gelombang tinggi yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda (SIM) Aceh Besar untuk sejumlah perairan Aceh pada Rabu (3/6/2026).

"Kami mengharapkan kepada para nelayan bila memilih melaut untuk mewaspadai gelombang tinggi. Bagaimanapun keselamatan adalah yang utama," pungkasnya.

Baca juga: BMKG Rilis Cuaca Aceh Barat Daya: Waspada Hujan di Sejumlah Wilayah

Waspadai Gelombang Tinggi

Diberitakan sebelumnya, BMKG mengimbau masyarakat, nelayan, hingga jasa transportasi penyeberangan untuk mewaspadai tingginya gelombang laut berkisar 1,25 hingga 2,5 meter yang berpeluang terjadi di beberapa wilayah perairan Aceh pada Rabu (3/6/2026).

Menurut BMKG, kondisi tersebut dipengaruhi aktifnya Rossby Ekuatorial dan adanya daerah belokan angin di wilayah Aceh yang mendukung pertumbuhan awan konvektif. 

Selain itu, suhu muka laut yang hangat di Perairan Barat Sumatera turut meningkatkan penguapan dan kandungan uap air di atmosfer.(*)

 

 

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved