Jumat, 5 Juni 2026

Berita Sabang

Harga Cengkeh di Sabang Turun Tajam, Permintaan Pasar Melemah

Harga cengkeh di Sabang turun dibandingkan tahun lalu, dengan cengkeh kering kini hanya Rp105–106 ribu/kg dari sebelumnya Rp121 ribu/kg.

Tayang:
Penulis: Aulia Prasetya | Editor: Saifullah
Serambinews.com/HO
HARGA CENGKEH TURUN - Tanaman cengkeh tampak mengeluarkan bunga muda pada salah satu kebun wilayah Sabang. Harga cengkeh di Sabang turun tajam jika dibandingkan pasaran tahun 2025 lalu. 
Ringkasan Berita:
  • Harga cengkeh di Sabang turun dibandingkan tahun lalu, dengan cengkeh kering kini hanya Rp105–106 ribu/kg dari sebelumnya Rp121 ribu/kg.
  • Cengkeh basah juga melemah, dijual Rp27–28 ribu/kg tanpa tangkai dan Rp20 ribu/kg dengan tangkai.
  • Penurunan harga dipicu melemahnya permintaan pasar, sehingga petani dan pengepul menghadapi ketidakpastian arah harga ke depan.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Aulia Prasetya | Sabang

SERAMBINEWS.COM, SABANG - Harga komoditas cengkeh di Kota Sabang mengalami penurunan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Penurunan ini terjadi baik pada cengkeh kering maupun cengkeh basah di tingkat pengepul.

Zulfikar, salah seorang pengepul cengkeh di Sabang menyebutkan, bahwa harga cengkeh kering saat ini berada di kisaran Rp105 ribu hingga Rp106 ribu per kilogram.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang sempat mencapai Rp121 ribu per kilogram.

Tidak hanya cengkeh kering, harga cengkeh basah juga mengalami penurunan. 

Cengkeh basah tanpa tangkai dijual sekitar Rp27 ribu hingga Rp28 ribu per kilogram.

Baca juga: Harga Cengkeh di Simeulue Rp 100 Ribu Per Kilogram

Sementara cengkeh basah dengan tangkai hanya dihargai sekitar Rp20 ribu per kilogram.

Menurut Zulfikar, perbedaan harga ini dipengaruhi oleh biaya tambahan dalam proses pengolahan.

Terutama pada tahap penjemuran dan pembersihan sebelum cengkeh siap dipasarkan.

Ia menambahkan, kondisi harga yang melemah saat ini erat kaitannya dengan menurunnya permintaan pasar. 

“Ketika permintaan dari pembeli berkurang, harga di tingkat pengepul otomatis ikut terdampak,” urai dia.

Hal ini menunjukkan bahwa dinamika pasar memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas harga komoditas pertanian seperti cengkeh.

Baca juga: Jarang Diketahui, Ini Manfaat Minum Teh Cengkeh Tiap Hari, Mengelola Gula Darah hingga Cegah Kanker

Meski harga sedang turun, Zulfikar menegaskan, bahwa situasi ini masih bisa berubah sewaktu-waktu. 

Harga cengkeh sangat bergantung pada permintaan pasar dan distribusi ke daerah tujuan utama.

Salah satunya ke Kota Medan, yang selama ini menjadi pusat pemasaran cengkeh dari Sabang.

Jika permintaan meningkat, harga berpotensi kembali naik.

Namun, jika tren penurunan berlanjut, para petani dan pengepul harus bersiap menghadapi tantangan ekonomi yang lebih berat.

Hingga kini, pelaku usaha belum dapat memastikan arah pergerakan harga dalam waktu dekat. 

Ketidakpastian ini membuat para petani cengkeh di Sabang harus lebih berhati-hati dalam mengatur produksi dan distribusi.

Baca juga: Kemenag Sabang Akan Tanam Seribu Pohon Cengkeh di Gampong Paya Seunara, Rencana Wakaf Produktif

Pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan dukungan, baik berupa kebijakan maupun fasilitasi pasar.

Hal ini agar harga cengkeh tetap stabil dan mampu memberikan keuntungan yang layak bagi petani serta pengepul.

Dengan kondisi ini, cengkeh Sabang menghadapi tantangan besar untuk menjaga daya saing di pasar. 

Penurunan harga menjadi pengingat bahwa sektor pertanian sangat bergantung pada dinamika permintaan dan distribusi.

Ke depan, diperlukan strategi yang lebih komprehensif untuk memastikan keberlanjutan usaha tani cengkeh.

Sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup dari komoditas ini.(*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved