Jumat, 5 Juni 2026

Berita Sabang

Cuaca tidak Menentu Ganggu Panen Cengkeh di Sabang, Bunga Rontok sebelum Dipetik

Cuaca tidak menentu di Sabang tahun 2026 mengganggu musim panen cengkeh, banyak bunga rontok sebelum dipetik.

Tayang:
Penulis: Aulia Prasetya | Editor: Saifullah
Serambinews.com/Aulia Prasetya
PRODUKSI CENGKEH - Penampakan cengkeh kering usai dimasukkan ke karung sebelum dikirim ke pengepul. Produksi cengkeh pada tahun ini diprediksi turun dampak dari cuaca yang tidak menentu. 
Ringkasan Berita:
  • Cuaca tidak menentu di Sabang tahun 2026 mengganggu musim panen cengkeh, banyak bunga rontok sebelum dipetik.
  • Petani memperkirakan hasil produksi menurun dibanding musim sebelumnya, ditambah kendala pemupukan akibat sulitnya pupuk kandang.
  • Pengepul juga mengakui pasokan cengkeh tidak stabil, sehingga hasil panen tahun ini belum bisa dipastikan jumlahnya.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Aulia Prasetya | Sabang

SERAMBINEWS.COM, SABANG - Musim panen cengkeh di Sabang pada tahun 2026, mulai terganggu akibat cuaca yang tidak menentu. 

Kondisi ini berdampak langsung terhadap hasil produksi petani di sejumlah sentra perkebunan, termasuk di kawasan Cot Abeuk.

Sejumlah petani mengeluhkan banyaknya bunga cengkeh yang rontok sebelum memasuki masa panen. 

Perubahan cuaca yang kerap hujan dalam beberapa waktu terakhir, diduga menjadi penyebab utama menurunnya potensi hasil panen.

Pemilik kebun cengkeh, Hamzah mengatakan, kualitas cengkeh tahun ini masih tergolong baik.

Namun begitu, beber dia, jumlah produksi diperkirakan menurun dibanding musim sebelumnya.

“Musim sebelumnya, dari sekitar 40 batang cengkeh produktif bisa menghasilkan 400 sampai 500 kilogram,” sebut dia. 

Baca juga: Harga Cengkeh di Sabang Turun Tajam, Permintaan Pasar Melemah

“Untuk tahun ini, belum bisa dipastikan karena masih dipengaruhi cuaca,” kata Hamzah, Kamis (4/6/2026).

Ia memperkirakan, hasil panen tahun ini berpotensi turun, meski masih berharap produksi tidak terlalu jauh dari tahun sebelumnya. 

Menurutnya, ketidakpastian cuaca membuat petani sulit memprediksi hasil panen secara pasti.

Selain faktor cuaca, petani juga menghadapi kendala pemupukan. 

Dalam dua tahun terakhir, pemupukan tidak dilakukan rutin akibat keterbatasan pupuk kandang yang sebelumnya lebih mudah diperoleh.

“Kami sudah lama tidak rutin pakai pupuk karena sulit didapat. Selama ini juga belum ada bantuan pupuk dari pemerintah,” ujarnya.

Para petani berharap, adanya dukungan sarana produksi, terutama pupuk agar hasil perkebunan cengkeh di Sabang tetap stabil.

Baca juga: Jarang Diketahui, Ini Manfaat Minum Teh Cengkeh Tiap Hari, Mengelola Gula Darah hingga Cegah Kanker

Sementara itu, Zulfikar, pengepul cengkeh di Sabang mengatakan, cuaca yang tidak menentu turut memengaruhi pasokan cengkeh di tingkat pengepul. 

Menurutnya, hasil panen yang masuk menjadi tidak stabil karena sangat bergantung pada kondisi di kebun.

Ia mengungkapkan, pada tahun 2025 lalu, dirinya bisa mengumpulkan cengkeh hingga sekitar 8 hingga 9 ton dalam satu periode panen untuk dikirim ke Medan. 

Namun tahun ini jumlah tersebut belum bisa dipastikan akibat hasil panen yang tidak menentu.

“Kalau tahun lalu, satu kali periode panen bisa 8 sampai 9 ton. Tahun ini belum tentu karena hasil di kebun juga tidak stabil,” kata Zulfikar.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved