Senin, 8 Juni 2026

Feature

Asa Penyintas Banjir Langkahan, Berharap Pemerintah segera Bangun Hunian Tetap

Penyintas banjir yang masih menempati hunian sementara (huntara) di Desa Rumoh Rayeuk, Kecamatan Langkahan

Tayang:
Editor: mufti
Serambinews.com/HO/Foto Muspika Langkahan
Puluhan hunian sementara (Huntara) yang ditempati penyintas banjir di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, porak-poranda diterpa angin kencang yang disertai hujan deras, Selasa (2/6/2026) sore. 

Penyintas banjir yang masih menempati hunian sementara (huntara) di Desa Rumoh Rayeuk, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan hunian tetap (huntap).

Harapan itu semakin menguat setelah puluhan unit huntara yang mereka tempati mengalami kerusakan akibat diterjang angin kencang disertai hujan deras dalam beberapa hari terakhir.

Keuchik Desa Rumoh Rayeuk,  Akthailah kepada Serambi, Minggu (7/6/2026),  mengatakan musibah angin kencang yang terjadi dua hari lalu memperparah penderitaan warga yang sebelumnya telah menjadi korban banjir besar pada akhir 2025.

"Setelah banjir, masyarakat tinggal di huntara. Namun dua hari lalu huntara yang mereka tempati kembali rusak akibat angin kencang. Ada sekitar 11 unit yang mengalami kerusakan berat dan sejumlah lainnya rusak sedang," ujar Atailah saat ditemui di lokasi, Sabtu (7/6/2026).

Desa Rumoh Rayeuk merupakan salah satu kawasan yang terdampak paling parah saat banjir melanda Kecamatan Langkahan pada akhir tahun lalu. Sebagian besar warga yang rumahnya rusak atau hanyut direlokasi sementara ke sejumlah huntara yang dibangun pemerintah dan lembaga terkait.

Menurut Keuchik Akthailah, di desanya terdapat lima titik huntara. Dua titik dibangun oleh Kementerian PUPR melalui Balai Cipta Karya dan tiga titik lainnya dibangun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Dari lima titik tersebut, empat lokasi terdampak angin kencang, yakni titik satu, dua, empat, dan lima. Kerusakan paling parah terjadi di titik lima.

"Di titik lima ada bangunan yang hancur total. Material bangunan bahkan diterbangkan angin dan jatuh menimpa huntara lainnya. Kondisi ini membuat warga takut menempati bangunan yang tersisa karena khawatir roboh sewaktu-waktu," katanya.

Akibat kerusakan tersebut, ratusan warga kembali kehilangan tempat tinggal. Sebagian besar terpaksa mengungsi ke rumah kerabat maupun tetangga sambil menunggu adanya perbaikan huntara.

Saat ini terdapat sekitar 365 kepala keluarga yang masih bergantung pada hunian sementara. Sementara warga yang huntaranya rusak berat terpaksa mencari tempat berlindung di rumah keluarga maupun warga sekitar.

"Trauma masyarakat tentu bertambah. Belum lama pulih dari banjir, sekarang harus menghadapi musibah angin kencang. Banyak yang terpaksa mengungsi lagi karena tempat tinggal sementaranya rusak," ujarnya. Meski demikian, Keuchik Akthailah mengapresiasi respons cepat pemerintah daerah dan instansi terkait yang langsung turun ke lokasi setelah kejadian.(jaf)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved