Kamis, 11 Juni 2026

Berita Pidie Jaya

Tokoh Eks GAM Sorot Kondisi Jalan Berlumpur di Pidie Jaya Pascadamai Aceh

kondisi infrastruktur jalan di wilayah Ulim, Pidie Jaya yang hingga kini dinilai belum tersentuh pembangunan secara layak di Pidie Jaya

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
JALAN BERLUBANG - Nasruddin alias Nyak Dhin Gajah, mantan tahanan politik (tapol) dan narapidana politik (napol) Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang kini juga dikenal sebagai relawan sekaligus jubir Mualem–Dek Fadh prihatin dengan kondisi infrastruktur jalan di wilayah Ulim, Pidie Jaya yang hingga kini dinilai belum tersentuh pembangunan secara layak, meskipun telah 26 tahun sejak perdamaian Aceh. 
Ringkasan Berita:Nyak Dhin Gajah prihatin kondisi kondisi jalan di kawasan Ulim masih berlumpur dan belum mendapat pembangunan memadai meski 26 tahun pasca perdamaian Aceh. 
 
Ia menyoroti ruas jalan dari Simpang Nanggroe menuju Lhoek Sandeng, Blang Cari hingga Lhoek Gajah Sara Mane yang setiap hari digunakan masyarakat. 
 
Nasruddin mendesak DPRK dan Bupati Pidie Jaya segera mengalokasikan anggaran perbaikan jalan guna mendukung akses ekonomi, pendidikan, dan pelayanan publik warga pedalaman.

SERAMBINEWS.COM, PIDIE JAYA — Nasruddin alias Nyak Dhin Gajah, mantan tahanan politik (tapol) dan narapidana politik (napol) Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang kini juga dikenal sebagai relawan sekaligus jubir Mualem–Dek Fadh prihatin dengan kondisi infrastruktur jalan di wilayah Ulim, Pidie Jaya yang hingga kini dinilai belum tersentuh pembangunan secara layak, meskipun telah 26 tahun sejak perdamaian Aceh.

Nasruddin menyoroti kondisi jalan berlumpur yang setiap hari masih dilalui masyarakat, khususnya pada ruas jalan PT Gotong Royong, dari Simpang Nanggroe menuju Lhoek Sandeng, Blang Cari, hingga Lhoek Gajah Sara Mane.

Ia menyebut kawasan tersebut sebagai salah satu wilayah yang memiliki nilai historis, karena pernah menjadi lokasi pembinaan dirinya dan sejumlah anggota Tentara Nasional Aceh (TNA) pada masa konflik.

“Jalan ini sudah kami lalui setiap hari sejak tahun 1999/2000. Sampai hari ini kondisinya tetap berlumpur dan belum menikmati pembangunan pasca perdamaian.

 Ini sudah 26 tahun setelah MoU Helsinki, tetapi kenyataannya masyarakat masih terjebak dalam kondisi infrastruktur yang sangat memprihatinkan,” ujar Nasruddin.

Baca juga: 6 Bulan Tanpa Listrik, Warga Pidie Jaya Akhirnya Dapat Harapan Setelah Haji Uma Surati PLN Aceh

Ia mempertanyakan perhatian pemerintah daerah terhadap wilayah tersebut, yang menurutnya merupakan bagian dari Kabupaten Pidie Jaya.

Segera alokasi anggaran

Nasruddin juga mendesak agar pemerintah daerah, termasuk DPRK dan Bupati Pidie Jaya, segera mengalokasikan anggaran untuk pembangunan dan perbaikan jalan tersebut.

“Kami berharap para pejabat, baik DPRK maupun Bupati, benar-benar memperhatikan wilayah ini dan segera menganggarkan pembangunan jalan yang sudah lama terabaikan,” tegasnya.

Nasruddin menambahkan bahwa pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan merupakan kebutuhan mendesak masyarakat, terutama untuk menunjang akses ekonomi, pendidikan, dan pelayanan publik di wilayah pedalaman Ulim.

Hingga saat ini, warga setempat masih mengandalkan jalan tersebut dalam kondisi yang sulit, terutama saat musim hujan ketika akses menjadi semakin berat dilalui akibat lumpur dan kerusakan badan jalan.

Baca juga: Jaksa Eksekusi Cambuk Penjudi di Pidie Jaya, Pemkab Dukung Penegakan Syariat Islam

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved