Jumat, 12 Juni 2026

Berita Banda Aceh

Tarif Angkutan Darat di Aceh Masih Bertahan, Organda Soroti Antrian Biosolar

Organda Aceh memastikan tarif angkutan darat belum mengalami kenaikan meskipun biaya operasional meningkat

Tayang:
Penulis: Indra Wijaya | Editor: Amirullah
for serambinews
Ketua DPD Organda Aceh, H. Ramli, SE 

Ringkasan Berita:
  • Organda Aceh memastikan tarif angkutan darat belum mengalami kenaikan meskipun biaya operasional meningkat
  • Kenaikan harga suku cadang dan sepinya penumpang menjadi kendala utama bagi pengusaha transportasi
  • Antrean panjang biosolar di SPBU menghambat waktu tempuh dan menambah beban operasional sopir
  • Organda meminta pemerintah segera mengatasi masalah distribusi BBM untuk menjaga stabilitas ekonomi

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Indra Wijaya | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Organisasi Angkutan Darat (Organda) Aceh memastikan saat ini tarif angkutan di Aceh masih normal dan belum mengalami kenaikan, Kamis (11/6/2026).

Ketua DPD Organda Aceh, H. Ramli, SE, mengatakan, meski tarif belum mengalami kenaikan, ia tidak menampik bahwa operasional angkutan darat di Aceh meningkat. Pasalnya, para sopir harus mengantri lebih lama di SPBU untuk mendapat BBM bersubsidi jeni solar.

"Saat ini ongkos angkutan darat belum naik. Meskipun harga BBM melambung tinggi. Karena mereka itukan pakai solar, jadi masih aman,” kata Ramli.

Menurutnya, kenaikan harga BBM non subsidi seperti Pertamax dan lainnya, memang berpengaruh pada kondisi saat ini. Namun, hal itu tidak langsung berdampak kepada mobil angkutan darat. Akan tetapi kata Ramli, onderdil mobil seperti ban saat ini mengalami kenaikan.

"Dan itu sudah pasti. Posisi kita dalam satu hal, kondisi penumpang saat ini sepi, kita naikkan juga susah,” ujarnya.

Ramli menjelaskan, secara normatif kenaikan tarif sebenarnya sudah wajar dilakukan mengingat biaya operasional angkutan terus meningkat. Namun, Organda juga harus mempertimbangkan kemampuan ekonomi masyarakat serta kondisi jumlah penumpang yang saat ini masih sepi.

Baca juga: Fakultas Teknik USK Gelar Kuliah Tamu Industri Migas dan Teken MoA dengan PT Matra Unikatama

"Kalau tarif dinaikkan tetapi penumpang tidak ada, sama saja. Karena itu kami juga melihat kondisi ekonomi masyarakat Aceh saat ini," katanya.

Ia menambahkan, sistem tarif angkutan darat selama ini mengacu pada tarif batas bawah dan tarif batas atas dengan rentang selisih sekitar 20 persen. Skema tersebut memungkinkan penyesuaian tarif sesuai kondisi pasar tanpa harus membebani masyarakat secara berlebihan.

"Kalau ada penyesuaian karena biaya operasional naik, itu masih bisa dilakukan dalam rentang tarif yang sudah ditentukan dan tidak melebihi batas atas," jelasnya.

Ramli menegaskan, kenaikan tarif angkutan tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan kenaikan BBM karena harga biosolar sebagai bahan bakar utama angkutan umum tidak mengalami perubahan.

Meski demikian, ia mengakui kondisi antrian panjang kendaraan di SPBU saat ini turut menambah beban operasional pelaku usaha transportasi.

"Banyak kendaraan yang sebelumnya menggunakan Dexlite sekarang beralih ke biosolar. Akibatnya antrean di SPBU sangat panjang. Ini berdampak pada waktu tempuh dan biaya operasional," ujarnya.

Ia mencontohkan, truk pengangkut barang dari Medan yang sebelumnya dapat tiba di Aceh dalam sehari kini bisa membutuhkan waktu hingga dua sampai tiga hari akibat antrian BBM.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved