Senin, 15 Juni 2026

Berita Aceh Timur

APSIFOR Aceh Ingatkan Bahaya Scam Digital, Kejahatan Siber Kini Menyerang Psikologi Korban

APSIFOR juga mendorong kolaborasi psikolog, aparat penegak hukum, regulator & praktisi TI guna menghadapi kejahatan digital yang semakin kompleks

Tayang:
Penulis: Maulidi Alfata | Editor: Saifullah
Serambinews.com/HO
SEMINAR APSIFOR - Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia (APSIFOR) Perwakilan Aceh yang menggelar seminar bertajuk "Serangan Psikologis di Era Digital dan Memahami Scam dan Manipulasi Siber", Sabtu (13/6/2026). 

Ringkasan Berita:
  • APSIFOR Aceh mengingatkan bahwa ancaman cyber-scam kini tidak hanya menyerang sistem digital, tetapi juga memanipulasi psikologi korban.
  • Dalam seminar di Idi, para ahli menekankan pentingnya meningkatkan literasi digital, menerapkan prinsip "Think Before Click", serta memperkuat keamanan data pribadi untuk mencegah penipuan siber.
  • APSIFOR juga mendorong kolaborasi psikolog, aparat penegak hukum, regulator, dan praktisi TI guna menghadapi kejahatan digital yang semakin kompleks.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Maulidi Alfata | Aceh Timur

SERAMBINEWS.COM, IDI – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat turut diiringi meningkatnya ancaman penipuan siber atau cyber-scam yang kini tidak hanya menargetkan aspek teknologi, tetapi juga kondisi psikologis masyarakat.

Fenomena tersebut menjadi perhatian serius Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia (APSIFOR) Perwakilan Aceh yang menggelar seminar bertajuk "Serangan Psikologis di Era Digital dan Memahami Scam dan Manipulasi Siber", Sabtu (13/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung atas kerja sama APSIFOR Aceh, Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Aceh, dan Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK) itu, menghadirkan praktisi keamanan informasi serta psikolog forensik untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai ancaman kejahatan digital yang semakin kompleks.

Praktisi keamanan informasi, Teuku Farhan, SKom., GCP-CDL, ACA menjelaskan, bahwa modus penipuan digital saat ini telah berkembang menjadi kejahatan yang terorganisasi dan memanfaatkan teknologi modern untuk mengecoh korban.

Menurutnya, sasaran utama para pelaku bukan lagi sistem komputer, melainkan manusia yang dinilai lebih mudah dimanipulasi melalui pendekatan psikologis.

Ia mengungkapkan, pelaku biasanya mengumpulkan informasi korban dari media sosial, data pribadi yang bocor, akun palsu hingga iklan fiktif untuk mempelajari karakter dan kebiasaan calon korban sebelum melancarkan aksinya.

Baca juga: Amerika Tuntut 7 Hacker China atas Kasus Kejahatan Siber Selama 14 Tahun

Bahkan, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) kini dimanfaatkan untuk meniru suara seseorang sehingga mampu meningkatkan tingkat kepercayaan korban terhadap pelaku.

Farhan menilai, tidak ada sistem digital yang benar-benar kebal dari serangan siber.

Karena itu, masyarakat perlu membangun budaya keamanan digital dengan meminimalkan risiko melalui penggunaan autentikasi berlapis, pembaruan sistem secara berkala, DNS Filtering, serta memanfaatkan layanan pengecekan rekening maupun nomor telepon yang terindikasi digunakan dalam tindak penipuan.

Ia juga mengingatkan pentingnya menerapkan prinsip "Think Before Click", yakni memeriksa identitas pengirim, memastikan keaslian tautan, serta tidak mudah memberikan informasi pribadi kepada pihak yang belum jelas kredibilitasnya.

Sementara itu, psikolog forensik, Wida Yulia Viridanda, SPsi, MPsi, Psikolog, menjelaskan bahwa korban cyber-scam bukanlah orang yang kurang cerdas, melainkan individu yang berhasil dimanipulasi secara psikologis oleh pelaku melalui permainan emosi, rasa takut, harapan, maupun kebutuhan tertentu.

Menurutnya, dampak penipuan digital tidak berhenti pada kerugian materi, tetapi juga dapat memicu gangguan psikologis seperti trauma, kecemasan, depresi, rasa malu, hingga hilangnya kepercayaan diri dalam berinteraksi di ruang digital.

Baca juga: Tokoh Bisnis dan Keuangan Ingatkan Kejahatan Siber Dapat Rugikan Perusahaan Rp 164.727 Triliun

Bahkan, sebagian korban mengalami gangguan yang memengaruhi fungsi sosial dan kesejahteraan mental mereka.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
Live
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
VS
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
VS
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
VS
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved