Aceh Singkil
Lampung Pilihan Bernostalgia Peradaban Singkil Tempo Dulu
Agar tidak hanyut, lampung dilengkapi tali yang diikatkan ke pohon serta patok kayu di pinggir sungai.
Penulis: Dede Rosadi | Editor: Nur Nihayati
Agar tidak hanyut, lampung dilengkapi tali yang diikatkan ke pohon serta patok kayu di pinggir sungai.
Laporan: Dede Rosadi I Aceh Singkil
SERAMBINEWS.COM, SINGKIL – Lampung begitulah warga Aceh Singkil, menyebut bangunan terapung di pinggir sungai.
Terbuat dari kayu bulat besar yang disatukan dengan cara diikat. Di atas susunan kayu itu dibangun pondok kayu sederhana beratap seng dan rumbia.
Pondok didesain sedemikian rupa, terdiri dari warung tempat jualan, tempat duduk berupa lantai papan dan tempat tungku api.
Tidak semua susunan kayu terapung mirip rakit itu dijadikan pondok. Pemiliknya masih menyisakan bagian kosong sebagai dermaga tempat tambatan perahu nelayan sungai.
Agar tidak hanyut, lampung dilengkapi tali yang diikatkan ke pohon serta patok kayu di pinggir sungai.
Selain mencegah hanyut, model pengikatan seperti itu dilakukan agar sewaktu-waktu lampung bisa dipindah ke tempat lain sesuai keinginan pemiliknya.
Lampung merupakan sisa peradaban Singkil masa lalu, ketika jalur transportasi masih menggunakan sungai.
Dahulu jumlah lampung cukup banyak, sebagai tempat persinggahan kapal kayu turun naikkan penumpang.
Bahkan pada masanya lampung kerap dijadikan tempat penginapan ketika penumpang kapal kemalaman di jalan.
Seiring perkembangan zaman ketika transportasi pindah ke jalan darat. Keberadaan lampung mulai sirna.
Satu-satunya lampung yang tersisa di sungai Lae Cinendang belakang pemukiman penduduk Desa Tanah Merah, Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil.
Lampung itu milik Abdul Karim penduduk setempat. Sesuai nama pemiliknya disebut lampung Abdul Karim.
Jika ditilik fungsinya lampung lebih mirip warung terapung dengan tambahan fungsi layak pelabuhan serta dermaga jualan ikan sungai.
Nelayan sungai menjadi lampung sebagi tempat tambatan perahu sebelum berangkat maupun pulang menangkap ikan.
Di lampung itu nelayan menjual hasil tangkapan ikan sungai pada pagi hari.
Sementara sorenya nelayan membeli kebutuhan selama berada di sungai, seperti bahan bakar mesin perahu, es, rokok dan kopi yang disediakan pemilik lampung.
"Lampung di Tanah Merah, masih ada dan tetap jadi tempat ngopi," kata Kairil warga Tanah Merah, Rabu (17/9/2025).
Bangunan lampung berukuran kira-kira 10 x 25 meter. Semua kontruksi terbuat dari kayu dengan atap rumbia dan seng.
Bagian dalam lampung dibagi menjadi beberapa ruangan. Ruang utama tempat minum kopi, istirahat, tungku api kayu untuk memasak air serta masak bokom (mi instan rebus).
Bokom merupakan makanan khas yang tak diketahui kapan sebutan itu mulai populer.
Bokom berupa mi instan dimasak hanya disiram air panas dicampur irisan bawang merah dan cabai rawit mentah ditambah air jeruk nipis.
Ruang lain tempat jualan dan bagian belakang berisi perlengkapan pemilik lampung.
Di sekeliling lampung merupakan tempat tambatan perahu. Nelayan gratis dan aman menambatkan perahu ke lampung sepanjang waktu.
Lampung di Tanah Merah, milik Abdul Karim. Ia merupakan generasi ketiga dari pengelola lampung sebelumnya.
Masa jayanya lampung juga berfungsi sebagai tempat menginap, persinggahan warga dan pedagang. Ketika singgah pedagang maka, seketika lampung berubah menjadi pasar dadakan.
Ketika berada di Lampung sesekali terasa bergoyang. Ini akibat gelombang kecil dari lalu lalang perahu nelayan.
Duduk bersandar melempar pandangan ke hamparan sungai sambil menikmati segelas kopi, menghadirkan romantika Singkil tempo dulu, ketika sungai masih menjadi jalur transportasi utama.
Ingin bernostalgia peradaban Singkil masa lalu, minum kopi dan menyantap bokom-lah di lampung Abdu Karim.
Lampung Abdul Karim, dari pinggir jalan Singkil-Gunung Meriah, bisa ditempuh sekitar 20 menit.
Ketika menemukan penunjuk jalan bertuliskan Tanah Merah, ikuti terus hingga ke pinggir sungai.
Di sisi sebelah kanan mengarah ke sungai terlihat jelas bangunan mirip rumah terapung. Itulah lampung milik Abdul Karim.
Duduk santai di lampung, tak dibatasi waktu. Tamu boleh sepuasnya bersantai sambil mengobrol dengan warga lain.(*)
| Waspada Banjir, Hujan Berbarengan dengan Pasang Air Laut di Singkil |
|
|---|
| Diduga Terlibat Asusila, DPW PAN Aceh Pastikan PAW DPRK Singkil Sesuai Aturan |
|
|---|
| Sazqia Amanda Tuntaskan Setoran Hafalan 30 Juz Qur'an Dalam 24 Jam, Ini Profilnya |
|
|---|
| Rapat Paripurna APBK Aceh Singkil Sempat Molor |
|
|---|
| Gempa 3,0 SR Guncang Aceh Singkil Tak Dirasakan Warga |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/lampung-1709.jpg)