Senin, 13 April 2026

Berita Aceh Besar

Petani Garam Kuala Gigieng Aceh Besar Melirik Produksi Sabun Cuci Piring

Terobosan itu berkat inisiatif pengabdian masyarakat dari tim dosen Universitas Syiah Kuala (USK), mereka tidak lagi hanya menjual garam mentah. 

Penulis: Muhammad Nasir | Editor: Mursal Ismail
Serambinews.com/HO
AJARKAN PETANI GARAM – Tim pengabdian masyarakat dari Universitas Syiah Kuala (USK), saat mengajarkan petani garam di Gampong Garuda Kuala Gigieng, Aceh Besar dalam membentuk kemasan garam dan membuat sabun cuci piring. Kegiatan itu berlangsung beberapa hari lalu di tempat usaha tersebut. 

Terobosan itu berkat inisiatif pengabdian masyarakat dari tim dosen Universitas Syiah Kuala (USK), mereka tidak lagi hanya menjual garam mentah. 

SERAMBINEWS.COM, JANTHO – Para petani garam di Gampong Garuda Kuala Gigieng, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, kini sudah memulai babak baru.

Mereka tak hanya memproduksi garam, tapi juga menyasar produksi sabun cuci piring.

Terobosan itu berkat inisiatif pengabdian masyarakat dari tim dosen Universitas Syiah Kuala (USK), mereka tidak lagi hanya menjual garam mentah. 

Tetapi juga mampu mengolahnya menjadi produk bernilai tambah, sabun cuci piring.

Kegiatan yang didanai oleh Direktorat Pemberdayaan dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing garam lokal sekaligus membuka peluang usaha baru bagi para petani. 

Tim ini diketuai Dr. Vicky Prajaputra, M.Si, dosen Program Studi Ilmu Kelautan USK, melibatkan anggota tim pengabdi Adinda Gusti Vonna, S.P., M.Si (Agribisnis), Apt. Fajar Fakri, S.Farm., M.S.Farm (Farmasi), dan Ulil Amri Mc, S.Pi., M.Si (Ilmu Kelautan), serta mahasiswa lintas program studi. 

Baca juga: Pemko Sabang Dukung Penanaman Padi Gogo Serentak 30 Hektare

Mereka mendampingi para petani dalam serangkaian proses, mulai dari hulu hingga hilir.

Tahap awal pendampingan dimulai dari proses dasar, mengubah garam krosok yang bertekstur kasar menjadi garam halus yang lebih seragam dan memiliki nilai jual lebih tinggi. 

"Para petani dilatih cara pencacahan yang efektif. Tidak berhenti di sana, mereka juga dibekali dengan pelatihan pengemasan produk.

Dengan desain yang lebih menarik, garam lokal kini memiliki citra yang lebih profesional di pasaran," ungkap Vicky.

Di luar urusan teknis, tim pengabdi juga memberikan pembekalan manajemen usaha dan pendampingan pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk merek dagang.

Langkah ini penting untuk memberikan perlindungan hukum dan memperkuat posisi produk di pasar.

Baca juga: 582 KK Warga Kuta Ateuh Terima Bantuan Subsidi Listrik Rp160 Juta Lebih dari Pemerintah Gampong

"Kegiatan ini merupakan wujud nyata kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat. Kami ingin mengangkat potensi garam lokal agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas," tuturnya.

Puncak dari program ini adalah inovasi pembuatan sabun cuci piring berbasis garam. Sejak Agustus 2025, para petani dilatih secara langsung untuk mengolah garam menjadi bahan utama sabun.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved