Kamis, 23 April 2026

Haba Unimal

Kolaborasi Unimal dan PNL Desain Signage Kawasan Heritage Samudera Pasai

“Ini bukan hanya pelestarian situs sejarah, tetapi juga pemberdayaan masyarakat agar ikut menjadi bagian dalam pengelolaan wisata religi,”

Penulis: Zaki Mubarak | Editor: IKL
Dok Unimal
Tim pengabdian masyarakat mahasiswa Universitas Malikussaleh (Unimal) bersama Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL), berkolaborasi menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, pada Rabu (24/9/2025). 

SERAMBINEWS.COM, LHOKSEUMAWE - Tim pengabdian masyarakat mahasiswa Universitas Malikussaleh (Unimal) bersama Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL), berkolaborasi menggelar Focus Group Discussion (FGD).

Kegiatan berlangsung di Balai Meunasah Komplek Makam Malikussaleh, Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, pada Rabu (24/9/2025). Berjudul “Desain Signage dan Wayfinding di Kawasan Wisata Heritage Samudera Pasai,” 

Baca juga: Prof Dahlan Guru Besar Teknologi Informasi Unimal Masuk Top 2 persen Scientist Worldwide 2025

Acara program studi kasus ini didanai dana hibah BIMA dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) bersama Ditjen Diktiristek Kemendikbudristek, berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui kolaborasi mahasiswa dan dosen.

Ketua tim, Yenny Novianti, menjelaskan bahwa program ini diarahkan untuk menghadirkan sistem wayfinding dan signage edukatif, pengembangan media informasi berbasis digital (seperti QR Code dan literatur naratif), serta workshop pemberdayaan masyarakat.

“Luaran yang diharapkan adalah terbentuknya identitas kawasan heritage melalui identity of place, penyediaan media edukasi sejarah yang adaptif, serta pembangunan model pengelolaan berbasis komunitas,” ujarnya.

Respon dari pengelola Makam Sultan Malik As-Saleh, Tgk. Faisal, menegaskan pentingnya pemahaman sejarah samudera pasai sebagai pusat penyebaran Islam di Nusantara, ujarnya.

Ia juga menjelaskan makna ukiran kaligrafi Arab pada batu nisan dan menyebutkan sejumlah kompleks makam bersejarah seperti Komplek Makam Raja As-Sawar (TGK 44), Komplek Makam Malkhan Nahrassiyah, dan Komplek Makam Sayyid Syarif, sebutnya.

Perwakilan Center for Information of Samudra Pasai Heritage (CISAH), Sukarna Putra, menyebutkan bahwa penyediaan informasi dwibahasa (Indonesia dan Inggris) sangat penting agar wisatawan mancanegara dapat memahami sejarah kawasan dengan lebih baik, katanya.

Sementara itu, Geuchik Gampong Beuringen, Abdul Manan, berharap kegiatan ini menjadi model konservasi berbasis komunitas yang dapat direplikasi di kawasan heritage lain di Aceh.

“Ini bukan hanya pelestarian situs sejarah, tetapi juga pemberdayaan masyarakat agar ikut menjadi bagian dalam pengelolaan wisata religi,” katanya.

FGD ini dihadiri diantaranya, dosen dan mahasiswa Unimal serta PNL, perangkat gampong, pengelola makam, perwakilan CISAH, dan masyarakat setempat. 

Rancangan desain signage dan wayfinding ditargetkan rampung pada akhir September 2025, sehingga dapat menjadi fondasi penguatan identitas visual dan edukasi sejarah Kawasan Heritage Samudera Pasai secara berkelanjutan.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved