Selasa, 21 April 2026

Hari Santri 2025

Rumah Toleransi Ansor Jadi Simbol Silaturahmi Santri dan Ruang Dialog Umat

Rumah Toleransi ini merupakan forum terbuka untuk menyatukan tokoh agama, pemuda, dan masyarakat lintas golongan.

Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Mursal Ismail
SERAMBINEWS.COM/RAHMAD WIGUNA
RUMAH TOLERANSI - Ketua GP Ansor, Adi Syahputra saat berada di Rumah Toleransi, Rabu (22/10/2025). Rumah ini sebagai wadah menyatukan tokoh agama, pemuda, dan masyarakat lintas golongan. SERAMBINEWS.COM/RAHMAD WIGUNA     

Rumah Toleransi ini merupakan forum terbuka untuk menyatukan tokoh agama, pemuda, dan masyarakat lintas golongan.

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Gerakan Pemuda (GP) Ansor Aceh Tamiang menjadikan Hari Santri 2025 sebagai momentum untuk memperkenalkan sebuah gagasan baru, yakni Rumah Toleransi.

Rumah Toleransi ini terletak di Dusun Bahagia, Kampung Bundar, Karangbaru, Aceh Tamiang.

Rumah Toleransi ini merupakan forum terbuka untuk menyatukan tokoh agama, pemuda, dan masyarakat lintas golongan.

“Rumah Toleransi ini sebagai wujud nyata semangat santri dalam menjaga harmoni sosial,” kata Ketua GP Ansor Aceh Tamiang, Adi Syahputra, Rabu (22/10/2025).

Lebih jauh Adi menjelaskan kalau Rumah Toleransi bukan sekadar tempat diskusi, tapi wadah silaturahmi lintas keyakinan. 

“Dari sini, kita ingin lahirkan ide-ide yang membangun daerah dan memperkuat persaudaraan,” ujar Adi di Dusun Bahagia, Desa Bundar, Kecamatan Karang Baru, Rabu (22/10/2025).

Baca juga: Ketua NU Lhokseumawe: Hari Santri Harus Jadi Momentum untuk Memperluas Kiprah Santri dan Dayah

Ia menjelaskan, forum tersebut menjadi ruang bagi siapa pun untuk berdialog tentang masa depan daerah tanpa sekat sosial atau agama.

“Kami ingin masyarakat terbiasa duduk bersama, mencari solusi tanpa harus menonjolkan perbedaan. Di sinilah nilai-nilai santri hidup menghargai, mendengar, dan menyatukan,” ungkapnya.

Sambung Adi, Ansor tak berhenti pada wacana toleransi. Mereka juga menyiapkan lahirnya ulama muda yang menguasai ilmu agama sekaligus memahami denyut kehidupan masyarakat modern.

“Santri yang tumbuh bersama Ansor harus menjadi ulama kelas wahid, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan zaman,” tutup Adi. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved