Rial Iran Terjun Bebas ke Rekor Terendah, Apa Dampaknya Jika Nilainya Hancur?
Anjloknya nilai tukar ini memperburuk krisis ekonomi di Teheran dan memicu kekhawatiran akan ketidakstabilan ekonomi
SERAMBINEWS.COM - Mata uang Iran, rial, kembali mengalami tekanan berat setelah nilainya jatuh ke level terendah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat.
Di pasar terbuka, nilai tukar rial dilaporkan telah menembus angka 1,4 juta per dolar AS, menandai fase terbaru dari pelemahan berkepanjangan yang mengguncang perekonomian Iran.
Anjloknya nilai tukar ini memperdalam krisis ekonomi yang tengah melanda Teheran dan memicu kekhawatiran luas mengenai stabilitas ekonomi jangka panjang negara tersebut.
Pelemahan terbaru terjadi setelah rial melewati satu tahun penuh depresiasi tajam, seiring memburuknya kondisi makroekonomi dan meningkatnya tekanan eksternal.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: apa dampaknya jika mata uang nasional terus kehilangan nilai?
Baca juga: Prabowo Targetkan Renovasi 300 Ribu Sekolah dalam Empat Tahun, 60 Ribu Sekolah Digarap Tahun Ini
Dalam dinamika ekonomi global yang fluktuatif, istilah "depresiasi mata uang" sering kali muncul sebagai indikator kesehatan ekonomi suatu negara.
Secara sederhana, depresiasi mata uang adalah penurunan nilai sebuah mata uang dalam sistem nilai tukar mengambang terhadap mata uang asing lainnya.
Fenomena ini tidak terjadi begitu saja, melainkan dipicu oleh berbagai faktor fundamental ekonomi dan persepsi pasar di bursa valuta asing.
Mengutip Investopedia, penurunan nilai mata uang sering kali dikaitkan dengan hukum permintaan dan penawaran.
Beberapa pemicu utamanya meliputi:
- Indikator Ekonomi yang Lemah: Angka pertumbuhan ekonomi (PDB) yang rendah atau defisit neraca perdagangan yang membengkak dapat menurunkan kepercayaan investor.
- Perbedaan Suku Bunga: Jika sebuah negara memiliki suku bunga yang lebih rendah dibandingkan negara lain, investor cenderung memindahkan modalnya ke negara dengan imbal hasil lebih tinggi, sehingga permintaan terhadap mata uang lokal menurun.
- Sentimen Pasar dan Geopolitik: Ketidakpastian politik atau risiko konflik sering kali membuat investor melepas mata uang yang dianggap berisiko tinggi.
Depresiasi mata uang membawa dampak yang kompleks bagi negara yang mengalaminya.
Di satu sisi, pelemahan mata uang dapat memberikan keuntungan kompetitif bagi eksportir.
Produk dalam negeri menjadi lebih murah di pasar internasional, yang berpotensi meningkatkan volume ekspor.
Namun di sisi lain, depresiasi menjadi kabar buruk bagi importir dan konsumen domestik.
Biaya impor bahan baku akan membengkak, yang pada akhirnya memicu kenaikan harga barang di dalam negeri atau yang dikenal sebagai inflasi.
Baca juga: Bawa 2 Kg Sabu, Pria asal Pidie Ditangkap di Bandara SIM, Terancam Hukuman Mati
Inflasi Penyebab Utama
| IKMAB Yogyakarta Gelar Mubes II di Balee Gadeng, Diwarnai Kuliner Mie Caluk |
|
|---|
| Gampong Kuta Murni Terbaik Dalam Pelaksanaan Perbup Peukong Agama, Dapat Reward Rp50 Juta |
|
|---|
| Bupati Aceh Selatan Mirwan Tunjuk Azhari sebagai Plt Kepala Bappeda |
|
|---|
| Serangan Iran Hantam Aset Militer AS di Timur Tengah, Kerugian Tembus Rp80 Triliun Lebih |
|
|---|
| HIPMI Apresiasi Perayaan HUT Ke-24 Abdya, Akmal: Sukses Dongkrak Ekonomi Masyarakat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Demo-Gen-Z-bikin-Iran-lumpuh.jpg)