Kamis, 7 Mei 2026

Jusuf Kalla Bongkar Rahasia Perdamaian Aceh: Kalau Mualem Tak Mau, Senjata Tetap Meletus

Jusuf Kalla menegaskan bahwa kunci utama perdamaian Aceh terletak pada sosok yang memegang kendali senjata di lapangan.

Tayang:
Penulis: Firdha Ustin | Editor: Amirullah
Tangkapan layar/IST
Mantan Wakil Presiden RI sekaligus Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), M Jusuf Kalla, mengungkap kembali kisah di balik tercapainya perdamaian Aceh antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik Indonesia pada 2005 silam. 

SERAMBINEWS.COM - Mantan Wakil Presiden RI sekaligus Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), M Jusuf Kalla, mengungkap kembali kisah di balik tercapainya perdamaian Aceh antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik Indonesia pada 2005 silam.

Pengakuan itu disampaikan dalam momen penyerahan bantuan kemanusiaan PMI kepada Pemerintah Aceh yang diterima langsung oleh Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem di Aceh Utara, Senin (12/1/2026). Potongan video pernyataan tersebut pun ramai beredar dan dibagikan di berbagai grup WhatsApp.

Jusuf Kalla menegaskan bahwa kunci utama perdamaian Aceh terletak pada sosok yang memegang kendali senjata di lapangan, sosok yang dimaksud adalah Mualem.

“Pokok yang paling penting itu siapa yang pegang senjata. Walaupun di atas mau, tapi kalau panglima (Mualem) tidak mau, itu susah. Kalau Mualem tak mau, senjata tetap meletus,” ujar Jusuf Kalla.

Menurut JK, sejak awal ia memahami bahwa komunikasi harus dilakukan langsung dengan pimpinan GAM di Aceh.

“Saya tahu komandannya, panglimanya. Jadi kenyataannya yang pertama saya mesti hubungi panglima,” katanya.

Baca juga: JK Serahkan Bantuan PMI Solidaritas untuk Korban Bencana Aceh, Mualem Berikan Apresiasi

Namun upaya tersebut tidak mudah.

JK kemudian mendapat informasi bahwa Mualem sangat mendengar nasihat ibundanya yang kini telah almarhumah.

Atas informasi itu, ibunda Mualem diundang ke Jakarta oleh mantan Gubernur Aceh Abdullah Puteh, sebagai bagian dari upaya membangun komunikasi menuju perdamaian.

“Beliau berbicara di hutan dalam bahasa Aceh. Saya tidak mengerti apa yang dibicarakan, tapi diterjemahkan oleh Pak Abdullah Puteh,” ungkap JK.

Satu Jam Telepon Penentu Perdamaian

Jusuf Kalla mengenang, komunikasi intens dengan Mualem berlangsung lama dan penuh ketegangan.

“Lebih dari satu jam saya bicara. HP saya sampai panas, baterai habis,” katanya.

Baca juga: Diterima Mualem, Jusuf Kalla Serahkan Langsung Bantuan PMI untuk Pemulihan Aceh

Namun dari komunikasi itulah, kesepahaman untuk berdamai mulai terbangun.

“Kesimpulannya kita mau damai. Soal pimpinan di luar negeri, terserah. Tapi kalau setuju, Bapak juga ikut setuju,” tutur JK menirukan pembicaraan saat itu.

Perdamaian di Tangan Mualem

Jusuf Kalla menilai Mualem sebagai pemimpin yang kuat dan disiplin, baik terhadap bawahannya maupun terhadap struktur pimpinan GAM di luar negeri.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved