Konflik Amerika vs Iran
Trump Incar Nyawa Ayatollah Ali Khamenei, Presiden Iran Langsung Ultimatum Perang
Trump menyebut Khamenei sebagai orang sakit yang seharusnya menjalankan negaranya dengan benar dan berhenti membunuh orang.
Ringkasan Berita:
- Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan, setiap serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akan dianggap sebagai deklarasi perang terhadap Teheran.
- Peringatan itu disampaikan Pezeshkian di tengah spekulasi bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah mempertimbangkan upaya pembunuhan atau pencopotan Khamenei dari jabatannya.
- Pezeshkian juga menyalahkan AS atas gelombang protes yang mengguncang Iran selama dua pekan terakhir dan menewaskan ribuan demonstran
SERAMBINEWS.COM, TEHERAN - Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan, setiap serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akan dianggap sebagai deklarasi perang terhadap Teheran.
Peringatan itu disampaikan Pezeshkian di tengah spekulasi bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tengah mempertimbangkan upaya pembunuhan atau pencopotan Khamenei dari jabatannya.
"Serangan terhadap pemimpin besar negara kami setara dengan perang skala penuh melawan bangsa Iran," tulis Pezeshkian di platform media sosial X, Minggu (18/1/2026).
Pezeshkian juga menyalahkan AS atas gelombang protes yang mengguncang Iran selama dua pekan terakhir dan menewaskan ribuan demonstran, sebagaimana dilansir The Guardian.
"Jika ada kesulitan dan tekanan dalam kehidupan rakyat Iran yang kami cintai, salah satu penyebab utamanya adalah permusuhan berkepanjangan serta sanksi tidak manusiawi yang dijatuhkan oleh pemerintah AS dan sekutunya," kata Pezeshkian.
Baca juga: VIDEO Cegah Konflik Meluas, Arab Peringatkan Iran Terkait Potensi Serangan AS
Sebelumnya, Trump menyebut Khamenei sebagai orang sakit yang seharusnya menjalankan negaranya dengan benar dan berhenti membunuh orang.
Dalam wawancara dengan Politico itu,Trump juga menyerukan berakhirnya kekuasaan Khamenei yang telah berlangsung hampir 40 tahun.
Gelombang kerusuhan terbaru di Iran bermula pada 28 Desember 2025, dari Teheran hingga meluas ke berbagai kota di seluruh negeri.
Aksi demonstrasi yag pecah dipicu oleh kemarahan publik atas inflasi yang melonjak, nilai mata uang yang anjlok, dan kesulitan ekonomi.
Aksi yang awalnya berfokus pada protes biaya hidup itu dengan cepat berkembang menjadi demonstrasi anti-pemerintah yang lebih luas dan menuntut perubahan rezim.
Seiring membesarnya gerakan protes, otoritas Iran pada 8 Januari 2026 memberlakukan pemadaman hampir total terhadap layanan internet dan telepon.
Langkah tersebut memutus konektivitas global sebagian besar warga Iran.
Pada Selasa (12/1/2026) pekan lalu, Trump secara terbuka mendorong warga Iran untuk terus berunjuk rasa dan mengambil alih institusi.
Dia mengatakan bahwa bantuan sedang dalam perjalanan, di tengah laporan bahwa serangan terhadap Iran akan segera dilakukan.
Baca juga: VIDEO Iran Siaga, Kapal Induk Amerika Terdeteksi Satelit Menuju Timur Tengah
| Iran Tawarkan Buka Selat Hormuz Tanpa Bahas Nuklir, AS Masih Bersikukuh |
|
|---|
| AS akan Gunakan Lumba-Lumba untuk Bersihkan Ranjau Iran, Bagaimana Caranya? |
|
|---|
| Iran Menetralisir Sejumlah Bom Besar yang Diluncurkan AS dan Israel, Ribuan Ranjau Disingkirkan |
|
|---|
| Negosiasi Mandek, AS Batal Kirim Utusan ke Pakistan, Iran Aktifkan Sistem Pertahanan Udara |
|
|---|
| Trump Dievakuasi Usai Terdengar Tembakan di Jamuan Makan Malam Gedung Putih |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/donald-trump-dan-ayatollah-ali-khamenei.jpg)