Kamis, 7 Mei 2026

Timur Tengah

Iran Rilis 7 “Target” Pejabat Israel yang akan Dihabisi, Termasuk Netanyahu

Ketegangan Iran dan Israel kembali memanas. Sebuah saluran televisi yang dikelola pemerintah Iran, Ofogh, menayangkan daftar tujuh pejabat

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/Screenshoot
TARGET IRAN - Dalam tayangan tersebut, grafik bergambar garis bidik senapan dipasang di atas foto para pejabat yang disebutkan. Selain Netanyahu, daftar itu mencantumkan Direktur Mossad David Barnea, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz, Kepala IDF Eyal Zamir, Kepala Angkatan Udara Tomer Bar, Kepala Direktorat Intelijen Militer Shlomi Binder, serta Kepala Direktorat Operasi Itzik Cohen. 
Ringkasan Berita:
  • Dalam tayangan tersebut, grafik bergambar garis bidik senapan dipasang di atas foto para pejabat yang disebutkan.
  • Selain Netanyahu, daftar itu mencantumkan Direktur Mossad David Barnea, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz, Kepala IDF Eyal Zamir, Kepala Angkatan Udara Tomer Bar, Kepala Direktorat Intelijen Militer Shlomi Binder, serta Kepala Direktorat Operasi Itzik Cohen.

 

SERAMBINEWS.COM – Ketegangan Iran dan Israel kembali memanas. Sebuah saluran televisi yang dikelola pemerintah Iran, Ofogh, menayangkan daftar tujuh pejabat tinggi Israel yang disebut sebagai “sasaran,” termasuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Dalam tayangan tersebut, grafik bergambar garis bidik senapan dipasang di atas foto para pejabat yang disebutkan.

Selain Netanyahu, daftar itu mencantumkan Direktur Mossad David Barnea, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz, Kepala IDF Eyal Zamir, Kepala Angkatan Udara Tomer Bar, Kepala Direktorat Intelijen Militer Shlomi Binder, serta Kepala Direktorat Operasi Itzik Cohen.

Presenter program tersebut bahkan menyampaikan ancaman dalam bahasa Ibrani: “Kami akan menentukan waktu kematian Anda, tunggu Ababil,” merujuk pada drone buatan Iran yang kerap dikaitkan dengan operasi militer Teheran.

Baca juga: Jika AS Serang Teheran, Iran Siap Hujani Israel dengan Rudal dari Lebanon, Irak, dan Yaman

Negosiasi Nuklir dan Ancaman Terbuka

Pernyataan bernada ancaman itu muncul di tengah negosiasi sensitif antara Teheran dan Washington terkait program nuklir Iran.

Pekan lalu, diplomat kedua negara menggelar pembicaraan tidak langsung di Oman, di tengah meningkatnya tekanan dari Presiden AS Donald Trump yang mengancam tindakan keras terhadap Iran.

Iran sebelumnya menyatakan akan menyerang target Israel dan Amerika Serikat jika mendapat serangan balasan.

Netanyahu sendiri baru kembali ke Israel setelah kunjungan ke Washington dan pertemuannya dengan Trump. 

Dalam pernyataan setibanya di tanah air, Netanyahu mengungkapkan bahwa Trump yakin Iran bisa dipaksa menerima sejumlah tuntutan, meski ia mengaku skeptis terhadap hasil perundingan tersebut.

Trump pada Kamis kembali memperingatkan Teheran. “Kita harus membuat kesepakatan dengan Iran, jika tidak, itu akan menjadi sangat traumatis,” ujarnya.

IDF Ajak Warga Iran Hubungi Mossad

Di sisi lain, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengambil langkah tak biasa dengan menyerukan warga Iran untuk menghubungi badan intelijen Mossad.

Pesan itu disampaikan melalui akun resmi berbahasa Persia di platform X, lengkap dengan nama pengguna akun Telegram Mossad untuk berbagi informasi secara rahasia.

“Kami meminta rakyat patriotik Iran untuk mengikuti hanya saluran komunikasi resmi kami dan menghubungi kami untuk kerja sama apa pun,” tulis IDF.

Langkah ini bukan kali pertama dilakukan Israel, dan dinilai sebagai upaya membangun jaringan informan atau membujuk pembelot dari dalam Iran.

Surat PBB Tuai Kecaman

Sementara itu, kontroversi lain muncul setelah Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengirim surat ucapan selamat kepada Iran dalam rangka peringatan Revolusi Islam 1979.

Surat yang pertama kali dilaporkan kantor berita pemerintah Iran IRNA itu menuai kecaman dari kelompok hak asasi manusia UN Watch.

Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric, menegaskan surat tersebut merupakan “surat standar” yang dikirimkan kepada setiap negara anggota saat hari nasional mereka dan tidak dimaksudkan sebagai dukungan terhadap kebijakan pemerintah mana pun.

Namun para pengkritik menilai langkah itu tidak sensitif, mengingat tindakan keras terhadap demonstran anti-rezim yang terjadi baru-baru ini di Iran.

Mereka menyebut ucapan selamat tersebut berpotensi mengikis kredibilitas PBB di mata publik internasional.

Rangkaian peristiwa ini memperlihatkan eskalasi retorika dan manuver politik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat di tengah situasi kawasan yang sudah rapuh dan berisiko memicu konflik lebih luas.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved