Minggu, 17 Mei 2026

Timur Tengah

Israel Ultimatum Hamas 60 Hari untuk Letakkan Senjata, Ancam Kembali Berperang

Pemerintah Israel memberikan ultimatum 60 hari kepada kelompok Palestina Hamas untuk melucuti seluruh

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
RNTV/TangkapLayar
ISRAEL PERINGATKAN HAMAS - Personel Brigade Al Qassam, Sayap Militer Gerakan Perlawanan Palestina, Hamas, dalam sebuah parade militer di Jalur Gaza beberapa waktu lalu. 

Ringkasan Berita:
  • Pemerintah Israel memberikan ultimatum 60 hari kepada kelompok Palestina Hamas untuk melucuti seluruh persenjataannya.
  • Jika tuntutan itu tak dipenuhi, Israel mengancam akan melanjutkan operasi militer.

 

SERAMBINEWS.COM – Ketegangan di Jalur Gaza kembali meningkat. 

Pemerintah Israel memberikan ultimatum 60 hari kepada kelompok Palestina Hamas untuk melucuti seluruh persenjataannya.

Jika tuntutan itu tak dipenuhi, Israel mengancam akan melanjutkan operasi militer.

Pernyataan tersebut disampaikan Sekretaris Kabinet Israel, Yossi Fuchs, dalam konferensi di Yerusalem, Senin (17/2/2026), seperti dikutip Anadolu dan The Times of Israel.

Menurut Fuchs, Hamas “harus menyerahkan semua senjatanya,” termasuk senapan ringan yang mereka miliki.

Baca juga: Pemimpin Hamas Tolak Kekuasaan Asing di Gaza

Ia menyebutkan, tenggat waktu 60 hari itu diajukan atas permintaan pemerintah Amerika Serikat dan telah disetujui Israel.

“Kami menghormatinya,” ujar Fuchs.

Meski belum memastikan kapan tepatnya ultimatum dimulai, Fuchs mengindikasikan tenggat itu kemungkinan berkaitan dengan agenda pertemuan Dewan Perdamaian Presiden AS Donald Trump pada 19 Februari mendatang.

“Kami akan mengevaluasinya. Jika berhasil, bagus. Jika tidak, maka IDF (tentara Israel) harus menyelesaikan misinya,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Hamas maupun pemerintah Amerika Serikat terkait pernyataan tersebut.

Gencatan Senjata dan Tuduhan Pelanggaran
Ultimatum ini muncul di tengah pemberlakuan gencatan senjata yang didukung AS di Gaza sejak 10 Oktober lalu.

Kesepakatan tersebut menghentikan perang selama dua tahun yang, menurut data otoritas kesehatan Gaza, telah menewaskan lebih dari 72.000 orang—sebagian besar perempuan dan anak-anak—serta melukai lebih dari 171.000 lainnya sejak Oktober 2023.

Namun, Kementerian Kesehatan Gaza menuduh Israel tetap melakukan ratusan pelanggaran sejak gencatan senjata berlaku.

Disebutkan, sedikitnya 603 warga Palestina tewas dan 1.618 lainnya terluka akibat penembakan dan serangan bersenjata dalam periode tersebut.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved